Senin, 28 Februari 2011

KISI-KISI SKI


 KISI-KISI SKI UAMBN 2010/2011

1.      Kehidupan masyarakat Arab pra Islam
2.      Peristiwa lahirnya Nabi Muhammad saw
3.      Sebab-sebab Muhammad mendapat gelar Al Amin
4.      Peristiwa perkawinan Nabi dengan Siti khatijah
5.      Peristiwa turunnya wahyu yang pertama
6.      Dasar-dasar perintah dakwah secara sembunyi-senbunyi
7.      Arti Assabiqunal Awwalun
8.      Nama-nama orang yang termasuk Assabiqunal Awwalun
9.      Tempat Nabi berdakwah secara sembunyi-sembunyi
10.  Dasar Nabi berdakwah secara sembunyi-sembunyi
11.  Tokoh-tokoh kafir quraisy yang menentang dakwah Nabi
12.  Nama-nama sahabat Nabi yang disiksa tokoh kafir Quraisy
13.  Tugas Nabi Muhammad saw sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin
14.  Sifat-sifat yang wajib dimiliki oleh Nabi dan Rasul
15.  Sebab-sebab Isra’ Mi’raj
16.  Arti Isra’ Mi’raj
17.  Hasil-hasil Nabi dari perjalanan Isra’ Mi’raj
18.  Peristiwa hijrah ke Thaif
19.  Sikap Nabi terhadap reaksi masyarakat Thaif
20.  sebab-sebab Nabi hijrah ke Yatsrib
21.  Peristiwa hijrah Nabi ke Yatsrib
22.  Upaya Nabi membina kerukunan masyarakat Islam di Madinah
23.  Peristiwa perang Badar, Uhud, Khandak
24.  Peristiwa Fatkhu Makkah
25.  Arti Haji Wada’
26.  Peristiwa wafatnya Rasulullah saw
27.  Arti Khulafaur Rasyidin
28.  Nama-nama sahabat Nabi
29.  Peristiwa pengangkatan Abu baker sebagai Khalifah pertama
30.  Nama-nama orang yang mengaku sebagai nabi palsu
31.  Jasa-jasa Abu Bakar sebagai khalifah pertama
32.  Peristiwa pengangkatan Umar bin Khattab sebagai Khalifah
33.  Nama-nama lembaga pemerintahan masa Umar bin Khattab
34.  Jasa-jasa Uamar bin khattab sebagai Khalifah
35.  Peristiwa kematian Umar bin Khattab
36.  Peristiwa pengangkatan Usman bin Affan sebagi khalifah
37.  Alasan Usman bin Affan bergelar Dzunnurain
38.  Peristiwa pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah
39.  Sebab-sebab perang Jamal
40.  Nama-nama Walisongo, Tempat dakwah dan hasil karyanya

WALISONGO

Walisongo

Walisongo sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 15 dan 16. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. Masjid Agung Demak, diyakini sebagai salah satu tempat berkumpulnya para wali yang paling awal.
Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa.
Pendapat lain yang mengatakan bahwa Walisongo ini adalah sebuah dewan yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) pada tahun 1474. Saat itu dewan Walisongo beranggotakan Raden Hasan (Pangeran Bintara); Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang, putra pertama dari Sunan Ampel); Qasim (Sunan Drajad, putra kedua dari Sunan Ampel); Usman Haji (Pangeran Ngudung, ayah dari Sunan Kudus); Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri, putra dari Maulana Ishaq); Syekh Suta Maharaja; Raden Hamzah (Pangeran Tumapel) dan Raden Mahmud.
Para Walisongo adalah intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.

Nama-nama Walisongo

Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa saja yang termasuk sebagai Walisongo, pada umumnya terdapat sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu:
1. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat
3. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim      
4. Sunan Drajat atau Raden Qasim
5. Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq
6. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin       
7. Sunan Kalijaga atau Raden Said
8. Sunan Muria atau Raden Umar Said
9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
Para Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga karena pernikahan atau dalam hubungan guru-murid.

Tempat berdakwah dan Hasil karya Walisongo

Makam Maulana Malik Ibrahim, desa Gapura, Gresik, Jawa Timur. Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-11 dari Husain bin Ali. Ia disebut juga Sunan Gresik, Syekh Maghribi, atau terkadang Makhdum Ibrahim As-Samarqandy. Ia diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah orang Jawa terhadap As-Samarqandy. Dalam cerita rakyat, ada yang memanggilnya Kakek Bantal.
Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik. Pada tahun 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-12 dari Husain bin Ali, menurut riwayat adalah putra Maulana Malik Ibrahim dan seorang putri Champa. Ia disebutkan masih berkerabat dengan salah seorang istri atau selir dari Brawijaya raja Majapahit. Sunan Ampel umumnya dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. Pesantrennya bertempat di Ampel Denta, Surabaya, dan merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Ia menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Bonang dan Sunan Kudus adalah anak-anaknya, sedangkan Sunan Drajat adalah cucunya. Makam Sunan Ampel teletak di dekat Masjid Ampel, Surabaya.
Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-13 dari Husain bin Ali. Bonang artinya sederetan gong kecil diletakkan horisontal. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Bonang banyak berdakwah melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ia dikatakan sebagai penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang. Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan rebab dan bonang, yang sering dihubungkan dengan namanya. Universitas Leiden menyimpan sebuah karya sastra bahasa Jawa bernama Het Boek van Bonang atau Buku Bonang. Menurut G.W.J. Drewes, itu bukan karya Sunan Bonang namun mungkin saja mengandung ajarannya. Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525.
Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-13 dari Husain bin Ali. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam. Pesantren Sunan Drajat dijalankan secara mandiri sebagai wilayah perdikan, bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang macapat Pangkur disebutkan sebagai ciptaannya. Gamelan Singomengkok peninggalannya terdapat di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan. Sunan Drajat diperkirakan wafat wafat pada 1522.
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah adik dari Sunan Bonang. Sunan Kudus adalah keturunan ke-14 dari Husain bin Ali. Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima perang dan hakim peradilan negara. Ia banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Diantara yang pernah menjadi muridnya, ialah Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan. Salah satu peninggalannya yang terkenal ialah Mesjid Menara Kudus, yang arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550.
Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah keturunan ke-12 dari Husain bin Ali, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang. Ia mendirikan pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik; yang selanjutnya berperan sebagai pusat dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia timur, bahkan sampai ke kepulauan Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal ialah Sunan Giri Prapen, yang menyebarkan agama Islam ke wilayah Lombok dan Bima.
Sunan Kalijaga adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Ia adalah murid Sunan Bonang. Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk Ilir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul umumnya dianggap sebagai hasil karyanya. Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq.
Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga. Ia adalah putra dari Sunan Kalijaga yang menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung.
Gapura Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu, ia masih keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan pemerintahannya, yang sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.

SKI kelas 5

PELAJARAN   5
WAFATNYA RASULULLAH SAW

RASULULLAH SAW MENGALAMI SAKIT

Sekembalinya dari haji Wada’ Nabi melanjutkan berdakwah. Beliau berdakwah ke berbagai wilayah Arab. Nabi juga mengirimkan surat kepada penguasa di sekitar Jazirah Arab dan mengajak mereka  memeluk agama Islam. Diantara penguasa yang menerima surat tersebut adalah Kaisar Heraclius di Romawi, Kaisar Ebrewez di Persia, kaisar Muqauqis di Mesir dan kaisar Najasyi di Ethiopia.
Hasilnya ada yang bersedia memenuhi ajakannya, ada yang menolak, dan ada pula yang mengirimkan tanda ketundukan kepada beliau. Selain itu, datang pula utusan dari suku-suku  Arab untuk menyatakan keislaman mereka. Nabi juga mengajak penduduk daerah Najran yang menganut agama Nasrani untuk memeluk Islam, namun ditolak karena mereka tetap bertahan dengan agama lamanya. Beliau tidak memaksa, tetapi hanya meminta mereka untuk membayar pajak (jizyah).
Menjelang sakit, Nabi sempat menyiapkan pasukan Islam dipimpin oleh Usamah bin Zaid yang berusia 17 tahun dan akan dikirimkan ke daerah Ubna.
Tanda-tanda sakitnya Nabi, mulai terlihat pada akhir bulan Shafar tahun ke 11 H. Beliau jatuh sakit setelah mengunjungi kuburan Baqi’ul Ghardaq  dan mendoakan kaum muslimin yang dikubur di tempat itu. Pada awalnya beliau hanya mengeluh sakit  kepala disertai demam tinggi. Lama-kelamaan penyakit beliau semakin bertambah parah. Setelah itu Nabi meminta izin kepada para isterinya untuk dirawat di rumah Aisyah. Mereka pun menyetujui permintaan itu. Kemudian Nabi di papah oleh Fadhil Ibnu  Abbas dan Ali bin Abi Thalib menuju rumah Aisyah. Kepala beliau dibalut sehelai kain dan kedua kakinya melangkah dengan berat. Selama sakit beliau tetap berusaha memimpin shalat berjamaah. Setelah sakitnya semakin parah, nabi meminta agar Abu Bakar menggantikan beliau sebagai imam shalat.
   Ketika mendengar Nabi sedang sakit parah, orang-orang Anshar berkumpul di sekitar masjid karena sangat menghawatirkan kondisi beliau. Kecemasan mereka itu disampaikan oleh Abbas kepada Rasulullah saw. Kemudian beliau keluar untuk menemui mereka dan menenangkan mereka.
Rasulullah saw keluar dari rumah Aisyah. Kepala beliau  masih dibalut kain dan kakinya sangat berat untuk digerakkan, sehingga beliau harus dipapah oleh Fadhil Ibnu  Abbas dan Ali bin Abi Thalib.

RASULULLAH SAW WAFAT

Dari hari ke hari sakit beliau semakin parah. Bahkan sempat pingsan karena tidak kuat menahan sakit. Lima hari sebelum wafat beliau masih sempat ke masjid dengan dipapah oleh Fadhil Ibnu  Abbas dan Ali bin Abi Thalib. Abu Bakar bergerak mundur setelah melihat beliau, tetapi ditahan oleh beliau. Dan beliau shalat di belakang Abu Bakar.
Para sahabat gembira melihat kondisi Nabi yang membaik. Setelah shalat beliau naik mimbar dan beliau berpidato. Bahwa beliau memilih apa yang ada disisi Allah.
Pada waktu subuh, hari Senin tanggal 12 Rabiulawwal tahun ke 11 H, Nabi keluar dari kamar Aisyah. Para sahabat mengira beliau akan shalat berjamaah. Namun beliau kembali ke kamar Aisyah. Para sahabat sedikit gembira karena beliau sudah dapat berjalan.
Abu bakar pun menemui beliau dan meminta izin untuk menemui isterinya. Usamah bin zaid juga minta restu beliau sebelum membawa pasukannya ke Syam. Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib juga sibuk dengan urusan masing-masing.
Di rumah Aisyah beliau merasakan badannya semakin lemah dan ajalnya semakin dekat. Maka beliau meminta diambilkan air untuk membasuh mukanya dan berwudhu. Lalu beliau ber doa.
Akhirnya beliau meninggal dengan tenang dipangkuan Aisyah. Beliau wafat dalam usia 63 tahun setelah menyelesaikan tugas-tugasnya menyampaikan Islam.

SIKAP SAHABAT TERHADAP WAFATNYA RASULULLAH SAW

Berita meninggalnya Rasulullah saw segera tersebar luas. Karib kerabat dan istri-ister beliau berkumpul di rumah Aisyah. Sahabat Umar bin Khattab yang mendengar berita itu tidak mampu menahan diri. Dia tidak percaya, dan segera menghunus pedangnya dan mengancam setiap orang yang mengatakan bahwa Rasulullah saw telah wafat.
Abu bakar masih di luar Madinah di rumah salah seorang isterinya. Dia kemudian disusul oleh seorang utusan. Sesampainya di Madinah ia menuju ke rumah Aisyah untuk memastikan kebenaran wafatnya Rasulullah saw.  Ia membuka kain yang menutup wajah Rasulullah saw. Dengan penuh hormat dia mencium wajah beliau lalu menangis.
Tidak lama kemudia ia keluar dari rumah Aisyah. Dia menemui orang-orang yang masih kebingungan mendengar berita wafatnya Rasulullah saw dan menenangkan mereka. Dia membaca Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 144.
Setelah mendengar ucapan Abu Bakar, kaum muslimin pun menjadi tenang. Kini mereka yakin bahwa Rasulullah saw benar-benar telah wafat. Kemarahan Umar bin Khattab pun mulai mereda. Dan kaum muslimin pun segera mempersiapkan pengurusan jenazah Rasulullah saw. Mereka memandikan, mengkafani, menyalatkan dan menguburkan Rasulullah saw.

KECINTAAN SAHABAT TERHADAP RASULULLAH SAW

Rasulullah saw adalah orang yang paling dicintai oleh para sahabatnya, baik dari golongan Muhajirin, golongan Anshar, remaja, wanita bahkan sampai anak-anak. Karena beliau juga sangat mencintai umatnya. Saat menjelang wafat belaiau masih memikirkan umat yang akan ditinggalkannya.
Kecintaan mereka terhadap Rasulullah saw karena kedekatan beliau dengan mereka selama hidupnya. Rasulullah saw tidak pernah menonjolkan kedudukannya sebagai rasul. Juga tidak pernah ingin dihormati sebagaimana kebiasaan para pemimpin. Beliau selalu sopan, rendah hati, murah senyum, dan selalu siap membantu kesulitan yang dihadapi setiap orang.
Bukti-bukti kecintaan para sahabat terhadap Rasulullah saw antara lain :
-        Sahabat Abu Bakar, dia bersedia melindungi Rasulullah saw dari ancaman kaum Quraisy ketika memulai dakwahnya di Makkah. Dia juga tidak segan-segan memberikan kekayaan yang dia miliki untuk mendukung dakwah Rasulullah saw. Bahkan tidak menyisakan untuk diri dan keluarganya karena seluruh harta bendanya telah diberikan demi kepentingan Islam. Ketika hijrah ke Madinah Abu bakar menemani Rasulullah saw meskipun meninggalkan kampung halaman dan menghadapi banyak kesulitan yang berbahaya. Abu bakar pula yang menggantikan tugas Rasulullah saw menjadi imam shalat.
-        Sahabat Ali bin Abi thalib, dia sangat mencintai Rasulullah saw. Kecintaannya kepada Rasulullah saw dibuktikan ketika dia menempati tempat tidur yang ditinggalkan Rasulullah saw sewaktu hijrah ke Madinah. Juga ketika perang Uhud, Ali bin Abi Thalib bersama sahabat-sahabat lainnya dengan gigih melindungi Rasulullah saw
-        Sahabat Umar bin Khattab, Setelah masuk Islam dia pembela Rasulullah saw dalam menghadapi kaum kafir. Sehingga tidak ada musuh yang berani  terhadap Rasulullah saw selama Umar bin Khattab berada disisinya.
-        Sahabat Usman bin Affan, dia sangat mencintai Rasulullah saw. Dia termasuk sahabat yang banyak mendukung dakwah beliau denga kekayaan yang dimilikinya.
-        Sahabat Abu Dujana dan Saad bin Abi Waqqas juga berjuang mati-matian menghalau serangan kaum Quraisy yang sangat ingin membunuh Rasulullah saw dalam perang Uhud. Bahkan sahabat Anas bin Nadhir, Zayad bin Sakan bersama  lima orang lainnya gugur dalam perang Uhud saat melindungi Rasulullah saw.

Jumat, 11 Februari 2011

SKI 4

PELAJARAN   5
ISRA’ DAN MI’RAJ  NABI  MUHAMMAD SAW

PERISTIWA ISRA’ DAN MI’RAJ  DAN PENERIMAAN SHALAT LIMA WAKTU

Peristiwa Isra’ mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-11 setelah kenabian. Isra’ artinya perjalanan Nabi Muhammad saw  dari Masjidil Haram  (Mekah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) pada waktu malam hari. Mi’raj adalah naiknya Nabi Muhammad saw dari bumi (Masjidil Aqsha) hingga ke Sidratul Muntaha. Dalam Ayat al-Qur’an disebutkan  : 
Artinya :
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi ketika Nabi Muhammad saw menginap di rumah Ummi Hani binti Abi Thalib, yaitu salah seorang kerabat beliau. Pada malam itu turunlah malaikat Jibril menjemput Nabi Muhammad saw  dengan kendaraan Buraq. Lalu beliau menuju ke Masjidil Aqsha, naik ke langit hingga akhirnya sampai di Sidratul Muntaha.
Di tiap langit Nabi Muhammad saw bertemu dengan nabi-nabi sebelum beliau. Yang menyambut dan mendoakan beliau.
Pada langit pertama bertemu dengan nabi Adam a.s. Langit ke dua bertemu nabi Isa a.s. dan nabi Yahya a.s. Langit tiga ke  bertemu nabi Yusuf a.s. Langit ke  empat bertemu nabi  Idris a.s. Langit ke  lima bertemu nabi  Harun a.s. Langit ke enam bertemu nabi  Musa a.s. Langit ke  tujuh bertemu nabi Ibrahim a.s. Terakhir Nabi Muhammad saw dinaikkan ke Sidratul Muntaha. Di tempat inilah perjalanan Mi’raj berhenti lalu beliau menunggu wahyu yang akan diturunkan oleh Allah SWT yaitu wahyu yang mewajibkan shalat.
Pada awalnya Allah mewajibkan 50 shalat. Kemudian atas usulan dari nabi Musa a.s. beliau meminta pengurangan kepada Allah hingga akhirnya hanya diwajibkan 5 shalat, namun pahalanya tetap sama dengan pahala shalat 50 waktu. Setelah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw kembali ke kota Makkah.

TAMSIL PADA PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ

Ketika Nabi Muhammad saw melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj, beliau menyaksikan berbagai tamsil (perumpamaan) perilaku manusia semasa hidupnya di dunia. Tamsil ini bukti bahwa apa yang disampaikan kepada manusia adalah benar.
Beliau melihat manusia sedang bercocok tanam  yang pada hari itu juga memetik buahnya.  Setelah dipetik buahnya muncul lagi. Malaikat Jibril menerangkan bahwa mereka adalah orang yang berjuang di jalan Allah. Mereka mendapat pahala berlipat hingga 700 kali lipat.
Beliau mencium bau yang harumnya luar biasa. Malaikat Jibril menerangkan bahwa bau harum itu berasal dari seorang perempuan bernama Masyitah. Ia mati dibunuh Fir’aun karena mempertahankan tauhid, yaitu tetap beriman kepada Allah dan menolak mempercayai Fir’aun sebagai Tuhan.
Beliau bertemu dengan seorang lelaki yang apabila menoleh ke kanan ia tersenyum, dan bila menoleh ke kiri ia menangis. Malaikat Jibril menerangkan bahwa orang itu adalah Nabi adam a.s. Disebelah kanan dan kiri merupakan gambaran anak keturunannya. Ketika menoleh ke kanan ia tersenyum karena melihat keturunannya akan masuk ke surga. Namun ketika menoleh ke kiri, ia  menangis karena melihat anak keturunannya akan masuk ke neraka.
Beliau juga bertemu seorang yang menjawab salam dari nabi Muhammad saw  hanya sekedarnya saja. Sementara wajahnya seperti orang marah. Malaikat Jibril menerangkan bahwa orang itu adalah malaikat Malik. Dia adalah penjaga pintu neraka.

TANGGAPAN KAUM KAFIR QURAISY TERHADAP PERISTIWA ISRA’ DAN MI’RAJ

Pada keesokan harinya, Nabi Muhammad saw  menceritakan apa yang dialaminya kepada Ummi Hani. Ummi Hani meminta agar kejadian itu tidak diceritakan kepada kaum kafir Quraisy karena khawatir akan dicela akibat kebencian mereka selama ini.
Namun Nabi Muhammad saw tetap akan menceritakannya kepada orang banyak. Karena peristiwa Isro’ Mi’raj merupakan kebenaran yang harus diketahui oleh segenap manusia.
Setelah merasa siap Nabi Muhammad saw berangkat ke Masjidil Haram yang menjadi tempat berkumpulnya para pemimpin kaum Quraisy. Disana beliau bertemu Abu Jahal.
 Abu Jahal meminta Nabi Muhammad saw  untuk menceritakan apa yang dialaminya dihadapan kaum Quraisy. Nabi Muhammad saw pun menyanggupinya. Lalu Abu Jahal mengumpulkan kaum Qurasy. Dan Nabi Muhammad saw menceritakan peristiwa Isra’ Mi’raj kepada mereka.
Sebagian kaum Quraisy ada yang mengejek, sebagian bertepuk tangan, sebagian lagi tertawa terbahak-bahak mendengar cerita tersebut. Karena mereka menganggap apa yang diceritakan Nabi Muhammad saw sebagi khayalan belaka yang mustahil, mereka sama sekali tidak mempercayainya.
Selanjutnya kaum Quraisy memanggil sahabat Abu Bakar  r.a. untuk datang, lalu ia ditanya apakah percaya terhadap cerita Nabi Muhammad saw yang pergi ke Masjidil Aqsha dan telah kembali ke Makkah dalam waktu semalam. Abu Bakar mengatakan bahwa ia percaya semua yang disampaikan Nabi Muhammad saw karena beliau tidak pernah berdusta. Sikap Abu Bakar ini yang kemudian, menjadikan, ia diberi gelar As Siddiq artinya orang yang mempercayai kebenaran.
Namun kaum Quraisy tidak puas dengan jawaban Abu Bakar, sebagian dari mereka yang pernah berdagang ke Masjidil Aqsha menanyakan gambaran tentang masjid itu, Nabi Muhammad saw dapat menyebutkan semua ciri-cirinya dengan tepat serta jelas sehingga mereka tidak mengelak lagi. Meskipun demikian kaum Quraisy tetap tidak percaya dan mengatakan bahwa jawaban Nabi Muhammad saw adalah karangan belaka.

PELAJARAN   6
HIKMAH PERISTIWA ISRA’ DAN MI’RAJ

HIKMAH ISRA’ DAN MI’RAJ  NABI MUHAMMAD SAW

Perjalanan Nabi Muhammad saw dalam Isra’ Mi’raj bukan atas kehendak dan kemampuannya. Beliau dibimbing dengan kehendak Allah SWT sehingga dapat melakukannya.  Nabi Muhammad saw hanyalah seorang hamba Allah SWT yang tunduk atas perintah Allah SWT. Kesiapan beliau dalam menjalani Isra’ dan Mi’raj adalah bukti kepatuhan beliau terhadap Allah SWT.
Hikmah atau pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj antara lain sebagai berikut :
1.       Membuktikan kekuasaan Allah yang maha besar dengan memperjalankan hambanya menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu singkat.
2.       Memperlihatkan kebesaran Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw dengan menyaksikan keadaan alam di luar bumi.
3.       Menghibur kesedihan yang dialami oleh Nabi Muhammad saw setelaj ditimpa berbagai kesulitan, penderitaan, tekanan dan halangan dalam berdakwah.
4.       Menguji keimanan kaum muslimin terhadap ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw.
5.       Memperkuat keyakinan Nabi Muhammad saw untuk terus berdakwah sekalipun menghadapi banyak rintangan.
6.       Membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw adalah benar-benar utusan Allah meneruskan ajan-ajaran para rasul sebelum beliau.
7.       Mengerjakan shalat adalah hikmah terbesar yang harus diambil bagi umat Islam.


 SHALAT   SEBAGAI  PESAN INTI   ISRA’  MI’RAJ

Peristiwa Isra’ Mi’raj sangat penting bagi umat Islam, karena pada saat inilah Nabi Muhammad saw menerima perintah shalat lima waktu. Sedangkan shalat merupakan ibadah sangat penting karena karena ibadah pokok bagi umat Islam dan amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat.
Nabi Muhammad saw menerima perintah shalat ketika beliau berada di Sidratul Muntaha saat sedang Isra’ Mi’raj. Pada mulanya Allah memerintahkan sebanyak 50 waktu, namun setelah bertemu nabi Musa a.s. kemudian meminta beliau kembali menghadap Allah dan meminta agar kewajiban itu dikurangi.
Menurut Nabi Musa a.s. umat Nabi Muhammad saw tidak akan sanggup melakukan perintah itu. Lalu Nabi Muhammad saw bolak-balik menghadap Allah memohon keringanan sampai akhirnya perintah shalat hanya sebanyak 5 kali sehari. Dan beliau tidak meminta pengurangan lagi karena merasa malu jika terus menerus menawar perintah Allah. Akhirnya yang diwajibkan oleh Allah hanya 5 kali, tetapi pahala yang diberikan sama dengan pahala shalat 50 kali.
Tatacara dan waktu-waktu shalat 5 kali diajarkan oleh malaikat Jibril secara bertahap pada pagi hari setelah beliau menjalani Isra’ Mi’raj.
Shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril yaitu :
1.       Shalat Subuh, dua rakaat waktunya pada saat subuh.
2.       Shalat Dhuhur,  empat rakaat waktunya pada waktu tengah hari, setelah matahari tergelincir sedikit kearah barat.
3.       Shalat Asar, empat rakaat waktunya pada sekitar pukul 4 hingga menjelang terbenam matahari.
4.       Shalat Magrib, tiga rakaat, waktunya pada awal malam, yakni menjelang matahari terbenam.
5.       Shalat Isya’ empat rakaat waktunya ketika menjelang malam setelah shalat Magrib.
Nabi Muhammad saw meminta agar setiap muslim mengikuti tatacara shalat sebagaimana yang telah diajarkan beliau. Sebagaimana sabda beliau : “Shalatlah kalian sebagaimana melihat aku sdhalat” . Di samping shalat wajib  lima waktu, kaum muslimin juga dianjurkan untuk mengerjakan shalat sunah untuk melengkapi kekurangan pada  shalat wajib (fardhu).

KETELADANAN NABI MUHAMMAD SAW DALAM BERIBADAH

Ibadah yang dilakukan Nabi Muhammad saw hanya mengharap keridhaan dari Allah SWT. Beliau tidak bermaksud agar mendapat pujian dari manusia. Dan bagi umat Islam, apabila melakukan ibadah tanpa dari yang diajarkan beliau, maka ibadahnya tidak berarti apa-apa dihadapan Allah SWT.
Sejak peristiwa Isra’ Mi’raj, ibadah shalat merupakan kewajiban bagi umat Islam hingga akhir zaman. Mereka yang sebelumnya menyembah patung, mereka meninggalkan kebiasaan tercela itu. Mereka hanya menyembah kepada Allah SWT. Keteladanan dalam beribadah sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad saw telah menarik perhatian masyarakat kafir, sehingga sedikit demi sedikit tradisi nenek moyangnya ditinggalkan.
Dalam beribadai Nabi Muhammad saw adalah orang yang paling taat kepada Allah. Pada malam hari beliau bangun shalat Tahajud. Shalat ini merupakan shalat yang paling sering dan lama yang beliau lakukan, sampai kaki beliau terlihat agak bengkak. 
 Melihat hal itu Aisyah (isteri beliau) merasa khawatir kalau suaminya jatuh sakit. Lalu ia  bertanya bahwa dosa-dosa beliau sudah diampuni. Nabi Muhammad saw menjawab bahwa beliau agar menjadi hamba yang pandai bersyukur kepada Allah.
Dalam suatu riwayat Nabi Muhammad saw pernah mengatakan bahwa dalam sehari semalam tidak kurang beliau mengucapkan istigfar sebanyak 70 kali. Jaminan pengampunan beliau anggap sebagai upaya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga beliau selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT.
Dalam suatu riwayat beliau bersabda bahwa beliau adalah orang yang paling takut kepada Allah.  Sahabat Abdullah bin Syikhir berkata : “Saya pernah datang kepada Rasulullah saw dan beliau sedang shalat, saat itu terdengar suara seperti periuk tembaga yang berasal dari dadanya”.
Perumpamaan tersebut menggambarkan keadaan hati beliau yang merintih ketakutan ketika menghadap Allah SWT. Keterangan ini memperkuat bahwa semakin dekat kepada Allah SWT, ternyata semakin bertambah rasa takut kepada Allah SWT.