Jumat, 11 Februari 2011

SKI 4

PELAJARAN   5
ISRA’ DAN MI’RAJ  NABI  MUHAMMAD SAW

PERISTIWA ISRA’ DAN MI’RAJ  DAN PENERIMAAN SHALAT LIMA WAKTU

Peristiwa Isra’ mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-11 setelah kenabian. Isra’ artinya perjalanan Nabi Muhammad saw  dari Masjidil Haram  (Mekah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) pada waktu malam hari. Mi’raj adalah naiknya Nabi Muhammad saw dari bumi (Masjidil Aqsha) hingga ke Sidratul Muntaha. Dalam Ayat al-Qur’an disebutkan  : 
Artinya :
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi ketika Nabi Muhammad saw menginap di rumah Ummi Hani binti Abi Thalib, yaitu salah seorang kerabat beliau. Pada malam itu turunlah malaikat Jibril menjemput Nabi Muhammad saw  dengan kendaraan Buraq. Lalu beliau menuju ke Masjidil Aqsha, naik ke langit hingga akhirnya sampai di Sidratul Muntaha.
Di tiap langit Nabi Muhammad saw bertemu dengan nabi-nabi sebelum beliau. Yang menyambut dan mendoakan beliau.
Pada langit pertama bertemu dengan nabi Adam a.s. Langit ke dua bertemu nabi Isa a.s. dan nabi Yahya a.s. Langit tiga ke  bertemu nabi Yusuf a.s. Langit ke  empat bertemu nabi  Idris a.s. Langit ke  lima bertemu nabi  Harun a.s. Langit ke enam bertemu nabi  Musa a.s. Langit ke  tujuh bertemu nabi Ibrahim a.s. Terakhir Nabi Muhammad saw dinaikkan ke Sidratul Muntaha. Di tempat inilah perjalanan Mi’raj berhenti lalu beliau menunggu wahyu yang akan diturunkan oleh Allah SWT yaitu wahyu yang mewajibkan shalat.
Pada awalnya Allah mewajibkan 50 shalat. Kemudian atas usulan dari nabi Musa a.s. beliau meminta pengurangan kepada Allah hingga akhirnya hanya diwajibkan 5 shalat, namun pahalanya tetap sama dengan pahala shalat 50 waktu. Setelah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw kembali ke kota Makkah.

TAMSIL PADA PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ

Ketika Nabi Muhammad saw melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj, beliau menyaksikan berbagai tamsil (perumpamaan) perilaku manusia semasa hidupnya di dunia. Tamsil ini bukti bahwa apa yang disampaikan kepada manusia adalah benar.
Beliau melihat manusia sedang bercocok tanam  yang pada hari itu juga memetik buahnya.  Setelah dipetik buahnya muncul lagi. Malaikat Jibril menerangkan bahwa mereka adalah orang yang berjuang di jalan Allah. Mereka mendapat pahala berlipat hingga 700 kali lipat.
Beliau mencium bau yang harumnya luar biasa. Malaikat Jibril menerangkan bahwa bau harum itu berasal dari seorang perempuan bernama Masyitah. Ia mati dibunuh Fir’aun karena mempertahankan tauhid, yaitu tetap beriman kepada Allah dan menolak mempercayai Fir’aun sebagai Tuhan.
Beliau bertemu dengan seorang lelaki yang apabila menoleh ke kanan ia tersenyum, dan bila menoleh ke kiri ia menangis. Malaikat Jibril menerangkan bahwa orang itu adalah Nabi adam a.s. Disebelah kanan dan kiri merupakan gambaran anak keturunannya. Ketika menoleh ke kanan ia tersenyum karena melihat keturunannya akan masuk ke surga. Namun ketika menoleh ke kiri, ia  menangis karena melihat anak keturunannya akan masuk ke neraka.
Beliau juga bertemu seorang yang menjawab salam dari nabi Muhammad saw  hanya sekedarnya saja. Sementara wajahnya seperti orang marah. Malaikat Jibril menerangkan bahwa orang itu adalah malaikat Malik. Dia adalah penjaga pintu neraka.

TANGGAPAN KAUM KAFIR QURAISY TERHADAP PERISTIWA ISRA’ DAN MI’RAJ

Pada keesokan harinya, Nabi Muhammad saw  menceritakan apa yang dialaminya kepada Ummi Hani. Ummi Hani meminta agar kejadian itu tidak diceritakan kepada kaum kafir Quraisy karena khawatir akan dicela akibat kebencian mereka selama ini.
Namun Nabi Muhammad saw tetap akan menceritakannya kepada orang banyak. Karena peristiwa Isro’ Mi’raj merupakan kebenaran yang harus diketahui oleh segenap manusia.
Setelah merasa siap Nabi Muhammad saw berangkat ke Masjidil Haram yang menjadi tempat berkumpulnya para pemimpin kaum Quraisy. Disana beliau bertemu Abu Jahal.
 Abu Jahal meminta Nabi Muhammad saw  untuk menceritakan apa yang dialaminya dihadapan kaum Quraisy. Nabi Muhammad saw pun menyanggupinya. Lalu Abu Jahal mengumpulkan kaum Qurasy. Dan Nabi Muhammad saw menceritakan peristiwa Isra’ Mi’raj kepada mereka.
Sebagian kaum Quraisy ada yang mengejek, sebagian bertepuk tangan, sebagian lagi tertawa terbahak-bahak mendengar cerita tersebut. Karena mereka menganggap apa yang diceritakan Nabi Muhammad saw sebagi khayalan belaka yang mustahil, mereka sama sekali tidak mempercayainya.
Selanjutnya kaum Quraisy memanggil sahabat Abu Bakar  r.a. untuk datang, lalu ia ditanya apakah percaya terhadap cerita Nabi Muhammad saw yang pergi ke Masjidil Aqsha dan telah kembali ke Makkah dalam waktu semalam. Abu Bakar mengatakan bahwa ia percaya semua yang disampaikan Nabi Muhammad saw karena beliau tidak pernah berdusta. Sikap Abu Bakar ini yang kemudian, menjadikan, ia diberi gelar As Siddiq artinya orang yang mempercayai kebenaran.
Namun kaum Quraisy tidak puas dengan jawaban Abu Bakar, sebagian dari mereka yang pernah berdagang ke Masjidil Aqsha menanyakan gambaran tentang masjid itu, Nabi Muhammad saw dapat menyebutkan semua ciri-cirinya dengan tepat serta jelas sehingga mereka tidak mengelak lagi. Meskipun demikian kaum Quraisy tetap tidak percaya dan mengatakan bahwa jawaban Nabi Muhammad saw adalah karangan belaka.

PELAJARAN   6
HIKMAH PERISTIWA ISRA’ DAN MI’RAJ

HIKMAH ISRA’ DAN MI’RAJ  NABI MUHAMMAD SAW

Perjalanan Nabi Muhammad saw dalam Isra’ Mi’raj bukan atas kehendak dan kemampuannya. Beliau dibimbing dengan kehendak Allah SWT sehingga dapat melakukannya.  Nabi Muhammad saw hanyalah seorang hamba Allah SWT yang tunduk atas perintah Allah SWT. Kesiapan beliau dalam menjalani Isra’ dan Mi’raj adalah bukti kepatuhan beliau terhadap Allah SWT.
Hikmah atau pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj antara lain sebagai berikut :
1.       Membuktikan kekuasaan Allah yang maha besar dengan memperjalankan hambanya menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu singkat.
2.       Memperlihatkan kebesaran Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw dengan menyaksikan keadaan alam di luar bumi.
3.       Menghibur kesedihan yang dialami oleh Nabi Muhammad saw setelaj ditimpa berbagai kesulitan, penderitaan, tekanan dan halangan dalam berdakwah.
4.       Menguji keimanan kaum muslimin terhadap ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw.
5.       Memperkuat keyakinan Nabi Muhammad saw untuk terus berdakwah sekalipun menghadapi banyak rintangan.
6.       Membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw adalah benar-benar utusan Allah meneruskan ajan-ajaran para rasul sebelum beliau.
7.       Mengerjakan shalat adalah hikmah terbesar yang harus diambil bagi umat Islam.


 SHALAT   SEBAGAI  PESAN INTI   ISRA’  MI’RAJ

Peristiwa Isra’ Mi’raj sangat penting bagi umat Islam, karena pada saat inilah Nabi Muhammad saw menerima perintah shalat lima waktu. Sedangkan shalat merupakan ibadah sangat penting karena karena ibadah pokok bagi umat Islam dan amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat.
Nabi Muhammad saw menerima perintah shalat ketika beliau berada di Sidratul Muntaha saat sedang Isra’ Mi’raj. Pada mulanya Allah memerintahkan sebanyak 50 waktu, namun setelah bertemu nabi Musa a.s. kemudian meminta beliau kembali menghadap Allah dan meminta agar kewajiban itu dikurangi.
Menurut Nabi Musa a.s. umat Nabi Muhammad saw tidak akan sanggup melakukan perintah itu. Lalu Nabi Muhammad saw bolak-balik menghadap Allah memohon keringanan sampai akhirnya perintah shalat hanya sebanyak 5 kali sehari. Dan beliau tidak meminta pengurangan lagi karena merasa malu jika terus menerus menawar perintah Allah. Akhirnya yang diwajibkan oleh Allah hanya 5 kali, tetapi pahala yang diberikan sama dengan pahala shalat 50 kali.
Tatacara dan waktu-waktu shalat 5 kali diajarkan oleh malaikat Jibril secara bertahap pada pagi hari setelah beliau menjalani Isra’ Mi’raj.
Shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril yaitu :
1.       Shalat Subuh, dua rakaat waktunya pada saat subuh.
2.       Shalat Dhuhur,  empat rakaat waktunya pada waktu tengah hari, setelah matahari tergelincir sedikit kearah barat.
3.       Shalat Asar, empat rakaat waktunya pada sekitar pukul 4 hingga menjelang terbenam matahari.
4.       Shalat Magrib, tiga rakaat, waktunya pada awal malam, yakni menjelang matahari terbenam.
5.       Shalat Isya’ empat rakaat waktunya ketika menjelang malam setelah shalat Magrib.
Nabi Muhammad saw meminta agar setiap muslim mengikuti tatacara shalat sebagaimana yang telah diajarkan beliau. Sebagaimana sabda beliau : “Shalatlah kalian sebagaimana melihat aku sdhalat” . Di samping shalat wajib  lima waktu, kaum muslimin juga dianjurkan untuk mengerjakan shalat sunah untuk melengkapi kekurangan pada  shalat wajib (fardhu).

KETELADANAN NABI MUHAMMAD SAW DALAM BERIBADAH

Ibadah yang dilakukan Nabi Muhammad saw hanya mengharap keridhaan dari Allah SWT. Beliau tidak bermaksud agar mendapat pujian dari manusia. Dan bagi umat Islam, apabila melakukan ibadah tanpa dari yang diajarkan beliau, maka ibadahnya tidak berarti apa-apa dihadapan Allah SWT.
Sejak peristiwa Isra’ Mi’raj, ibadah shalat merupakan kewajiban bagi umat Islam hingga akhir zaman. Mereka yang sebelumnya menyembah patung, mereka meninggalkan kebiasaan tercela itu. Mereka hanya menyembah kepada Allah SWT. Keteladanan dalam beribadah sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad saw telah menarik perhatian masyarakat kafir, sehingga sedikit demi sedikit tradisi nenek moyangnya ditinggalkan.
Dalam beribadai Nabi Muhammad saw adalah orang yang paling taat kepada Allah. Pada malam hari beliau bangun shalat Tahajud. Shalat ini merupakan shalat yang paling sering dan lama yang beliau lakukan, sampai kaki beliau terlihat agak bengkak. 
 Melihat hal itu Aisyah (isteri beliau) merasa khawatir kalau suaminya jatuh sakit. Lalu ia  bertanya bahwa dosa-dosa beliau sudah diampuni. Nabi Muhammad saw menjawab bahwa beliau agar menjadi hamba yang pandai bersyukur kepada Allah.
Dalam suatu riwayat Nabi Muhammad saw pernah mengatakan bahwa dalam sehari semalam tidak kurang beliau mengucapkan istigfar sebanyak 70 kali. Jaminan pengampunan beliau anggap sebagai upaya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga beliau selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT.
Dalam suatu riwayat beliau bersabda bahwa beliau adalah orang yang paling takut kepada Allah.  Sahabat Abdullah bin Syikhir berkata : “Saya pernah datang kepada Rasulullah saw dan beliau sedang shalat, saat itu terdengar suara seperti periuk tembaga yang berasal dari dadanya”.
Perumpamaan tersebut menggambarkan keadaan hati beliau yang merintih ketakutan ketika menghadap Allah SWT. Keterangan ini memperkuat bahwa semakin dekat kepada Allah SWT, ternyata semakin bertambah rasa takut kepada Allah SWT.