Sabtu, 20 Oktober 2012

HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW KE MADINAH

SKI KELAS 5 PELAJARAN 1 HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW KE MADINAH A. Kejahatan Kaum Kafir Quraisy Terhadap Nabi Muhammad saw Setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad saw semakin meningkatkan dakwahnya. Beliau mendatangi pemuka-pemuka kabilah (suku) guna menyampaikan ajaran Islam. Pada saat musim haji tiba, beliau mengajak orang-orang dari luar Mekah yang sedang melakukan ibadah haji untuk menjadi pengikutnya. Keadaan ini dibenci oleh kaum kafir Quraisy. Mereka khawatir Nabi Muhammad saw mendapatkan pengikut dari luar kaum Quraisy. Hal itu sangat membahayakan karena akan memperkuat barisan kaum Muslimin. Karena itu, mereka menyusun berbagai rencana jahat untuk menghalangi kemajuan dakwah Nabi Muhammad saw. Kaum kafir Quraisy menghalangi dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Meskipun dengan upaya yang sangat kotor dan licik. Di antara siasat-siasat jahat yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy agar dakwah Nabi Muhammad tidak tersebar adalah dengan cara-cara di bawah ini: 1. Fitnah terhadap Nabi Muhammad saw. Berbagai tuduhan terus dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad saw karena ajaran-ajaran yang disampaikannya dipandang meresahkan masyarakat. Tidak hanya itu, mereka juga menganggap bahwa kehadiran Islam telah menyebabkan perpecahan di antara kaum Quraisy yang tadinya bersatu dalam agama jahiliyah. Untuk membendung laju dakwah Islam, para pemimpin Quraisy membuat siasat dengan menuduh Nabi saw sebagai pengacau masyarakat sehingga kegiatannya harus dihentikan. Tuduhan ini juga disampaikan kepada penduduk dari luar Mekah agar mereka tidak terbujuk oleh ajakan beliau. Kaum Kafir Quraisy juga mengatakan bahwa ajaran-ajaran Muhammad saw adalah bohong dan hasil karangannya sendiri ketika menyepi di Gua Hira’. Sebagian orang ada yang mempercayai fitnah yang disebarkan oleh kaum kafir Quraisy. Akan tetapi, sebagian yang lain tidak mempercayainya karena Nabi Muhammad saw dikenal sebagai orang jujur dan tidak pernah berdusta. Setelah itu, ada orang yang terhasut oleh perkataan kaum kafir Quraisy dan ada pula yang tetap istikomah mendengarkan dakwah Nabi Muhammad saw bahkan kemudian menjadi pemeluk Islam. 2. Upaya Pembunuhan Nabi Muhammad saw. Ancaman terhadap Nabi Muhammad saw tidak sebatas hinaan, ejekan, maupun penyiksaan. Kaum kafir Quraisy juga menyusun rencana untuk membunuh beliau. Menurut mereka, membunuh Nabi Muhammad saw adalah satu-satunya jalan untuk menghentikan dakwah beliau. Selama Nabi Muhammad saw masih hidup, beliau tidak akan pernah berhenti menyiarkan Islam. Tawaran berupa harta, wanita, dan kekuasaan yang akan diberikan kepada beliau supaya berhenti berdakwah, juga tidak berhasil. Kaum kafir Quraisy kemudian memilih pemuda-pemuda yang kuat dari setiap suku untuk membunuh Nabi Muhammad saw. Mereka dikumpulkan lalu diberikan petunjuk mengenai cara membunuh Nabi Muhammad saw. Setiap orang dilengkapi dengan senjata yang akan digunakan untuk menghabisi nyawa beliau. Pada malam yang telah ditentukan, pemuda-pemuda itu mengepung rumah Nabi saw dari segala penjuru. Mereka yakin bahwa Muhammad tidak akan bisa lolos dari kepungan tersebut. Namun, sebelum terlaksana, Nabi Muhammad saw telah diberitahu oleh Allah swt. Beliau diperintahkan untuk segera berhijrah ke Madinah dan meminta Ali bin Abi Thalib untuk tidur di rumahnya sebelum pergi berhijrah. Siasat ini dilakukan agar para pemuda yang berencana membunuhnya mengira bahwa Nabi saw masih tinggal di dalam rumah. Ternyata taktik ini berhasil dan Nabi Muhammad saw lolos dari upaya pembunuhan tersebut. 3. Pengasingan Nabi Muhammad saw dan Kaum Muslimin Cara lain yang digunakan kaum kafir Quraisy untuk menglangi dakwah Nabi Muhammad adalah dengan mengasingkannya dari pergaulan masyarakat. Seluruh suku Quraisy dilarang berhubungan dengan Nabi saw., keluarga beliau dari Bani Hasyim, dan juga para pemeluk Islam. Mereka dilarang bergaul, menikah, mengunjungi dan berdagang dengan kaum Muslimin. Larangan ini kemudian ditulis dalam sebuah piagam dan digantungkan di dinding ka’bah sehingga setiap orang dapat melihat dan membacanya. Mereka yang melanggar larangan ini akan diserang oleh kaum Quraisy karena dianggap telah membantu musuh. Akibat larangan ini kaum Muslimin dan keluarga Nabi saw sangat menderita. Untuk meringankan penderitaan itu, mereka terpaksa pindah ke suatu lembah di luar kota Mekah. Tindakan pengasingan ini berlangsung selama tiga tahun dan sangat menyusahkan kaum Muslimin. Setelah itu, beberapa pemimpin suku Quraisy membatalkan perjanjian tersebut karena melihat kesusahan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad saw., keluarga, dan para pengikutnya. Namun di sisi lain, kaum kafir Quraisy mengakui ketabahan dan kesabaran kaum Muslimin dalam menghadapi segala bentuk kejahatan yang mereka ciptakan. Pada akhirnya, kaum Quraisy pun diperbolehkan kembali untuk berhubungan dengan kaum Muslimin. Demikian beberapa cara yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya. Mereka menempuh berbagai cara. Diantaranya dengan bujukan, rayuan, hinaan, siksaan, pengasingan, hingga pembunuhan. Akan tetapi, semua ancaman itu dihadapi dengan kesabaran dan ketabahan. Kaum Muslimin yakin bahwa suatu ketika perjuangan mereka akan sukses dan Islam akan diterima seluruh umat manusia. Keyakinan itulah yang mendorong mereka untuk terus menyampaikan ajaran Islam sampai akhir hayat dengan resiko apapun. B. Hijrah Kaum Muslimin ke Madinah 1. Penyebab Hijrah Kaum Muslimin Tekanan dan ancaman kaum kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin semakin kuat. Mereka terus-menerus menghina, menyakiti, dan menindas para pengikut Nabi Muhammad saw karena berbagai sebab tersebut, kaum Muslimin semakin berharap untuk segera melakukan hijrah. Setelah melihat kondisi penderitaan yang banyak dialami kaum Muslimin, Nabi Muhammad melihat bahwa kota Mekah sudah tidak bisa diandalkan lagi sebagai tempat untuk menyebarkan ajaran Islam. Nabi Muhammad saw juga pernah mengunjungi daerah Thaif untuk berdakwah di sana. Tetapi, masyarakat Thaif justru memusuhi Nabi Muhammad saw. Niat baik Nabi untuk berdakwah di Thaif justru menuai penderitaan karena para penduduk Thaif melempari dan mengusirnya dari Thaif. Beliau tidak putus asa, beliau bahkan mendoakan penduduk Thaif untuk segera mendapatkan petunjuk dari Allah swt. 2. Madinah Menjadi Tempat Tujuan Hijrah Berbagai penderitaan yang terus dialami kaum Muslimin akhirnya memunculkan keputusan untuk mencari tempat yang lebih baik dalam upaya menyebarkan ajaran Islam. Kemudian Nabi Muhammad saw memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Madinah yang saat itu masih bernama Yasrib. Dalam hal ini, selain perintah dari Allah swt., hijrah menjadi pilihan Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin untuk memperbaiki keadaan mereka. Dalam sebuah firman-Nya, Allah swt menjelaskan : Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kota ini sengaja dipilih oleh Nabi saw karena jaraknya yang tidak begitu jauh dari Mekah. Selain itu, penduduk Madinah ada yang menjadi pemeluk Islam. Ketika Nabi saw berdakwah saat musim haji tahun ke-11 setelah kenabian, ada orang Madinah yang menyatakan diri menjadi pengikut beliau. Jumlah mereka enam orang. Tetapi setelah kembali ke Madinah, mereka mengajak kaumnya masing-masing untuk menerima ajaran Islam. Keenam orang tersebut adalah As’ad bin Zurarah, Auf bin Harits, Jabir bin Abdiwah, Quthbah bin Amir, Rafi’ bin Malik, dan Uqbah bin Amir. Ajakan itu diterima dengan baik oleh saudara, tetangga serta teman-teman mereka. Sejak itu Islam mulai tersiar dan tersebar di Madinah. Mereka inilah yang diharapkan oleh Nabi saw dapat membantu saudara-saudaranya yang akan hijrah dari Mekah. 3. Cara hijrah kaum muslimin Setelah Nabi saw memerintahkan kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah maka mereka segera mengikutinya. Agar kepindahan mereka tidak diketahui oleh kaum Quraisy, perjalanan menuju Madinah dilakukan dengan cara-cara berikut : 1. Secara sembunyi-sembunyi 2. Secara bertahap, agar tidak dicurigai oleh kaum Quraisy 3. Secara kelompok-kelompok kecil, dengan mendahulukan kaum wanita, anak-anak dan orang-orang tua. Dalam waktu dua bulan, hampir semua kaum muslimin yang berjumlah sekitar 150 orang telah meninggalkan Makkah. Hanya Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib yang tetap tinggal menemani Nabi di Makkah. Mereka menemani Nabi sampai akhirnya datang perintah untuk berhijrah untuk menyusul para pengikutnya yang telah berhijrah sekaligus menghindari rencana kaum Quraisy yang akan membunuhnya. C. Hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah 1. Perintah untuk berhijrah Setelah semua kaum muslimin berada di Madinah Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw segera berhijrah ke Madinah. Beliau menemui Abu Bakar dan memberitahukan perintah tersebut serta memintanya untuk menemani beliau hijrah ke Madinah. Kemudian Abu Bakar menyiapkan keperluan yang dibutuhkan dalam perjalanan seperti kendaraan unta, bekal makanan dan petunjuk jalan. Kepergian kaum muslimin hijrah ke Madinah diketahui kaum kafir Quraisy. Para pemuka Quraisy melakukan rapat di sebuah tempat yang bernama Darun Nadwah untuk membunuh Nabi Muhammad saw dengan cara mengutus para pemuda kafir Quraisy. Sementara itu Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar telah sepakat untuk bertemu di luar kota Makkah. Pada suatu malam, para pemuda Quraisy yang mengepung rumahnya dari segala arah. Oleh karena itu beliau meminta keponakannya, Ali bin Abi Thalib untuk tidur di kasurnya guna mengelabuhi para pemuda Quraisy. Beliau juga meminta Ali agar menyerahkan segala sesuatu yang dititipkan oleh penduduk Makkah kepada pemiliknya. Setelah itu Nabi Muhammad saw keluar dari rumahnya. Atas kehendak Allah, para pemuda Quraisy tertidur, sehingga tidak mengetahui kepergian beliau. Sebelumnya mereka telah melihat ada seseorang yang tidur di kasur Nabi Muhammad saw. Mereka menyangka itu adalah Nabi Muhammad saw meskipun sebenarnya adalah Ali bin Abi Thalib. Para pemuda Quraisy, terkejut ketika mengetahui bahwa yang tidur dalam selimut adalah Ali bin Abi Thalib. 2. Perjalanan di gua Tsur Nabi Muhammad saw segera menemui Abu Bakar yang telah menunggunya di luar kota Makkah. Mereka meneruskan perjalanan sampai di gua Tsur. Karena sudah siang mereka masuk ke gua untuk menghindari kejaran pemuda Quraisy yang akan membunuhnya. Nabi Muhammad saw menduga bahwa para pemuda itu akan mengejar hingga ke gua Tsur. Ternyata dugaan Nabi tidak meleset. Akhirnya para pemuda itu mencarinya sampai di mulut gua Tsur. Mereka memeriksa sekitar gua, tetapi tidak ditemukan tanda-tanda pernah dilewati seseorang. Di mulut gua Tsur terdapat sarang laba-laba yang masih utuh. Di situ juga ada sarang burung yang masih utuh dan setangkai dahan yang menutup pintu gua seakan-akan tidak pernah dilalui orang. Padahal, apabila mereka menengok ke dalam maka akam melihat Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar yang sedang bersembunyi. Ketika para pemuda itu semakin dekat ke mulut gua, Abu Bakar semakin ketakutan kalau-kalau para pemuda itu melihat mereka berdua. Dia menangis dan merapatkan badannya kepada Nabi Muhammad saw. Nabi tetap tenang dan tidak panik dan menenangkan Abu Bakar agar tetap tenang dan tidak panik karena Allah bersama mereka. Setelah tidak mendapatkan buruannya para pemuda itu segera pergi. Atas pertolongan Allah, para pemuda itu tidak yakin ada orang di dalam gua Tsur setelah melihat mulut gua tersebut dan akhirnya meninggalkan tempat tersebut tanpa menghasilkan sesuatu. Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar menetap di gua Tsur selama tiga hari. Yang mengetahui persembunyian mereka hanyalah Abdullah bin Abu Bakar dan kedua putri Abu Bakar yang bernama Aisyah bin Abu Bakar dan Asma bin Abu Bakar, serta pembantu mereka yang bernama Amir bin Fuhaira. Selama mereka bersembunyi dalam gua, Abdullalh bin Abu Bakar menemui mereka di waktu sore guna menyampaikan berita-berita yang terjadi di Mekah. Sedangkan Asma bin Abu bakar membawakan bekal makanan untuk mereka berdua berupa susu hasil perahan dari kambing-kambing yang digembalakan Amir bin Fuhaira. 3. Rintangan Menuju Madinah Pada hari ketiga, datang seorang penunjuk jalan yang akan memandu perjalanan mereka ke kota Madinah. Setelah semua siap, maka Nabi saw beserta Abu Bakar melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, mereka dikejar oleh seorang Quraisy bernama Suraqah yang ingin menangkap mereka untuk dibawa kembali ke Mekah. Apabila berhasil maka ia akan mendapatkan imbalan 100 ekor unta. Akan tetapi, usahanya tersebut gagal di tengah jalan. Berkali-kali kuda yang dikendarainya terjerembab jatuh ke tanah sebelum sampai ke Rasulullah saw. Ia menghentikan usahanya karena kejadian itu dianggap sebagai pertanda buruk yang akan menimpanya jika tetap ingin menangkap beliau. Suraqah justru meminta maaf kepada Rasulullah saw. Dengan senang hati Nabi saw memaafkan dan memintanya untuk tidak menceritakan kepergiannya ke Madinah kepada warga Quraisy. 4.Membangun Masjid Pertama Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan di bawah terik panas matahari, maka pada tanggal 12 Rabiulawwal tahun ke-13 dari kenabian, Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar tiba di daerah Quba yang letaknya tidak jauh lagi dari Madinah. Beliau beristirahat selama empat hari untuk mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan sampai Madinah. Selama di Quba tersebut, Nabi Muhammad saw tinggal di rumah Kultsum bin Hamdan dari Suku Aus dan Abu Bakar menetap di rumah Habib bin Asaf dari Suku Khazraj. Selanjutnya datang rombongan yang menyusul dari Mekah untuk ikut hijrah ke Madinah. Mereka di pimpin oleh Ali bin Abi Thalib yang terdiri dari keluarga beliau dan Abu Bakar, seperti Fatimah, Ummi Kultsum, Saudah, Ummu Aiman, Ummu Ruman, Usamah, Aisyah dan Asma binti Abu Bakar. selain itu, ikut pula Abdullah bin Abu Bakar serta beberapa kaum Muslimin lainnya. Sesampainya di daerah Quba, Nabi saw dan kaum Muslimin membangun masjid untuk melaksanakan ibadah. Masjid ini didirikan di atas tanah wakaf dari Kultsum bin Hamdan. Inilah masjid pertama yang dibangun oleh kaum Muslimin. Rasulullah saw sendiri yang memulai pembangunan itu dan selanjutnya diselesaikan oleh para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Setelah pembangunan selesai, masjid tersebut diberi nama Masjid Taqwa. Masjid itulah masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin. Tentang keberadaan masjid tersebut, Allah swt mengemukakan dalam Al Quran, surah At Taubah ayat 108: Artinya : Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? dan Barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, Maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus. Kedatangan rombongan Nabi Muhammad saw telah lama ditunggu oleh warga Madinah. Bahkan di antara mereka ada yang sampai naik ke atas pohon korma karena ingin sekali melihat wajah Nabi saw. Pada hari Jum’at tanggal 16 Robiulawal tahun ke-1 Hijriyah atau tanggal 2 Juli 622 masehi, Rosululloh saw bersama rombongan tiba di Madinah. Mereka disambut dengan meriah bahkan diiringi oleh lantunan syair. Setiap penduduk Madinah juga menawarkan diri supaya Nabi Muhammad saw dapat tinggal dan menetap di rumah mereka. Permusuhan antar suku di Madinah seakan lenyap karena mereka bersatu menyambut kedatangan Rasulullah saw. Bertepatan dengan hari itu juga, Nabi Muhammad saw melaksanakan shalat Jum’at. Shalat jumat tersebut menjadi shalat Jumat pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bersama kaum Muhajirin dan Anshar. D. Hikmah Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah Hijrahnya Nabi Muhammad saw dan kaum Muhajirin dari Mekah ke Madinah memberikan pelajaran yang sangat penting bagi kita semua. Di antara hikmah yang dapat dipetik dari kejadian hijrah tersebut adalah sebagai berikut: 1. Perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan. 2. Keberhasilan dalam masalah apapun harus didahului oleh kerja keras. 3. Peristiwa hijrah telah menyatukan kekuatan kaum muslimin. 4. Peristiwa hijrah telah memperkuat keyakinan kaum muslimin terhadap janji Allah swt. Allah telah menegaskan (berjanji) dalam Al Qur’an yaitu : Artinya : Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. E. Bai’at Aqabah I dan Bai’at Aqabah II 1. Arti Bai’at Baiat artinya perjanjian atau sumpah setia untuk mentaati sesuatu yang telah dijanjikan oleh seseorang atau kelompok baik lewat ucapan maupun tulisan. Isi bai’at bisa berupa hal-hal yang harus dilakukan maupun tidak boleh dilakkukan. Bai’at Aqabah adalah sumpah setia yang diucapkan oleh penduduk Madinah dari suku Aus dan Khazraj kepada Nabi Muhammad saw. Sumpah ini mereka sampaikan di hadapan Rasulullah saw ketika mereka melaksanakan ibadah Haji di bukit Aqabah menjelang peristiwa hijrah. Di Madinah sendiri ketika itu ada dua golongan suku yang saling bermusuhan, yaitu suku Aus dan Khazraj. Nama Aus dan Khazraj berasal dari nama dua orang laki-laki kakak beradik. Keturunan mereka mempunyai anggota yang sama dari sisi jumlah dan kekuatannya. Selama kurang lebih 120 tahun kedua golongan tersebut tidak berhenti melakukan peperangan. Tidak ada bangsa atau golongan lain yang mendamaikan mereka hingga akhirnya Islam yang diserukan Muhammad saw menciptakan perdamaian di antara kedua suku tersebut. 2.Baiat Aqabah 1 Sumpah setia penduduk Madinah yang lebih dikenal dengan Bai’at Aqabah ini terjadi dua kali. Bai’at Aqabah 1 terjadi pada tahun ke-12 setelah kenabian. Saat itu, 12 orang suku Aus dan Khazraj berikrar di hadapan Nabi saw. Isi perjanjian Aqabah I itu antara lain: 1.Tidak akan menyekutukan Allah. 2.Tidak akan mencuri. 3.Tidak akan berzina. 4.Tidak akan membunuh anak-anak. 5.Tidak akan memfitnah dan menghasut. 6.Tidak akan mengkhianati Nabi Muhammad saw. Bai’at Aqabah I dikenal juga dengan nama “Bai’at Perempuan” karena salah satu yang ikut bersumpah adalah seorang perempuan bernama Afra binti Ibn Tsa’labah. Apabila mereka mentaati isi sumpah ini maka mereka akan mendapatkan balasan surga. Namun, jika melanggarnya maka akibatnya diserahkan kepada kekuasaan Allah swt apakah ia akan diampuni atau diazab. Beberapa orang sahabat dari penduduk Madinah yang mengikuti Bai’at Aqabah 1 ini merupakan keturunan dari suku Khazraj dan Aus. Di antara mereka yang mengikuti bai’at tersebut adalah: 1.As’ad bin Zurarah (Khazraj) 2.’Auf bin Harits (Khazraj) 3.Rafi’ bin Malik (Khazraj) 4.Uqbah bin Amir (Khazraj) 5.Ubbadah bin As Shamit (Khazraj) 3.Bai’at Aqabah II Sedangkan kedua adalah Bai’at Aqabah II terjadi pada tahun ke-13 dari kenabian. Pada musim haji tahun tersebut, Nabi Muhammad saw didatangi 73 orang laki-laki dari Madinah yang bersumpah setia kepada beliau. Adapun isi dari Bai’at Aqabah II antara lain: 1.Mereka akan beribadah kepada Allah swt semata. 2.Mereka tidak akan menyekutukan Allah swt. 3.Mereka akan membela Nabi saw dari segala ancaman. Para sahabat yang mengikuti dalam Bai’at Aqabah II secara keseluruhan berjumlah 75 orang. Mereka terdiri dari 62 laki-laki suku Khazraj dan 11 laki-laki suku Aus. Sedangkan, Nusaibah binti Ka’ab dan Asma binti Amr keduanya perempuan dari suku Khazraj yang juga ikut dalam bai’at tersebut. Adapun orang-orang yang mengikuti Bai’at Aqabah II dari suku Aus antara lain : 1.Usaid bin Hudhair 2.Abul Haitsam Malik bin At Taihan 3.Salamah bin Salaamah 4.Dhahir bin Rafi 5.Abu Burdah Hani bin Niyar Sedangkan dari suku Khazraj, mereka itu antara lain : 1.Abu Umamah 2.As’ad bin Zurarah 3.Al Barra bin Ma’ruf 4.Abdullah bin Rawahah 5.Sa’ad bin Ubadah 4.Islam Diterima Masyarakat Madinah Setelah melaksanakan bai’at Aqabah II, mereka kembali ke Madinah untuk menyiarkan Islam. Dengan dua perjanjian itu, Islam lebih berkembaang pesat di Madinah. Nabi muhammad saw juga semakin mendapatkan banyak pengikut dari luar Mekah yang akan memperkuat dakwah Islam. Ketika kaum kafir Quraisy mengetahui perjanjian tersebut, mereka semakin menambah tekanannya terhadap kaum Muslimin hingga akhirnya datang perintah dari Allah swt untuk berhijrah. Adapun hal-hal yang menyebabkan Islam mudah diterima oleh penduduk Madinah adalah: 1. Sifat orang-orang Madinah lebih terkenal dengan sifatnya yang lemah lembut dari pada penduduk Mekah yang lebih dikenal dengan sifat mereka yang keras kepala. 2. Sebelum datangnya ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., di Madinah sering terjadi peperangan antara suku Aus dan Khazraj. Akan tetapi, setelah mereka sama-sama menjadi muslim, maka Islam diharapkan dapat mendamaikan mereka. 3. Mereka memang benar-benar membutuhkan seorang rasul yang akan membimbing mereka kepada kebenaran. Sebelumnya, mereka pernah mendengar dari orang-orang Yahudi di Madinah tentang akan datangnya seorang rasul dari Bangsa Arab.

Jumat, 20 Juli 2012

Cara Rasulullah Sambut Ramadhan

Adalah Rasul SAW yang mempersiapkan diri betul menyambut kedatangan setiap bulan Ramadhan. Persiapan Rasul tersebut bukan hanya bersifat jasmani, melainkan paduan jasmani dan rohani mengingat puasa sebagaimana ibadah yang lain adalah paduan ibadah jasmani dan rohani, di samping ibadah yang paling berat di antara ibadah wajib (fardu) lainnya. Oleh sebab itu, ia disyariatkan paling akhir di antara ibadah wajib lainnya. Persiapan jasmani tersebut dilakukan oleh Rasul SAW melalui puasa Senin-Kamis dan puasa hari-hari putih (tanggal 13,14 dan 15) setiap bulan sejak bulan syawal hingga Sya’ban. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW senantiasa puasa Senin dan Kamis. Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasul, engkau senantiasa puasa Senin dan Kamis.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya pada setiap hari Senin dan Kamis Allah SWT mengampuni dosa setiap Muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan. Allah berfirman, ‘Tangguhkanlah keduanya sampai keduanya berdamai’.” (HR. Ibnu Majah). Dalam kaitannya dengan puasa tiga hari setiap bulan, Rasul SAW bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari RA, “Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa setiap bulan, maka puasalah tanggal 13,14 dan 15.” (HR. Tirmidzi). Sedangkan persiapan rohani dilakukan oleh Rasul SAW melalui pembiasaan shalat tahajud setiap malam serta zikir setiap waktu dan kesempatan. Bahkan, shalat tahajud yang hukumnya sunah bagi kaum Muslimin menjadi wajib bagi pribadi Rasul SAW. Diriwayatkan oleh Aisyah RA yang bertanya kepada Rasul SAW mengenai pembiasaan ssalat tahajud, padahal dosa-dosa beliau telah diampuni oleh Allah SWT, Rasul SAW menjawab dengan nada yang sangat indah, “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?” Memasuki bulan Sya’ban, Rasul SAW meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah puasa, qiyamul lail, zikir dan amal salehnya. Peningkatan tersebut dikarenakan semakin dekatnya bulan Ramadhan yang akan menjadi puncak aktifitas kesalehan dan spiritualitas seorang Muslim. Jika biasanya dalam sebulan Rasul SAW berpuasa rata-rata 11 hari, maka di bulan Sya’ban ini beliau berpuasa hampir sebulan penuh. Dikisahkan oleh Aisyah RA bahwasanya, “Rasulullah banyak berpuasa (di bulan Sya’ban) sehingga kita mengatakan, beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar Ramadhan) melebihi Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim). Dalam riwayat Usama bin Zayed RA dikatakan, “Aku bertanya kepada Rasul, ‘Wahai Rasulullah, Aku tidak melihatmu banyak berpuasa seperti di bulan Sya’ban?’ Beliau menjawab, ‘Sya’ban adalah bulan yang dilupakan manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan tersebut amal manusia diangkat (ke langit) oleh Allah SWT dan aku menyukai pada saat amal diangkat aku dalam keadaan berpuasa’.” (HR. An-Nasa’i). Sya’ban adalah bulan penutup rangkaian puasa sunah bagi Rasulullah SAW sebelum berpuasa penuh di bulan Ramadhan. Jika Rasul telah mempersiapkan penyambutan Ramadhan dengan berpuasa minimal 11 hari di luar Sya’ban dan 20-an hari di bulan Sya’ban, berarti untuk menyambut Ramadhan Rasulullah SAW telah berpuasa paling sedikitnya 130 hari atau sepertiga lebih dari jumlah hari dalam setahun. Maka, hanya persiapan yang baiklah yang akan mendapat hasil yang baik, dan demikian pula sebaliknya. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk mempersiapkan diri di bulan Sya’ban sehingga memperoleh hasil yang maksimal di akhir Ramadhan.

Selasa, 15 Mei 2012

AMALAN BULAN SOFAR

AMALAN DI BULAN SOFAR · Sholat Sunah Pada malam pertama pada bulan Shofar, setelah sholat isya dan sebelum sholat witir disunahkan menjalankan sholat sunah empat rokaat. Setelah membaca surat al- fatihah, pada rokaat pertama membaca surat al- Kafirun 11 x, pad rokaat kedua membaca surat al- Ikhlas 11 x, pada rokaat ketiga memca surat al- Falaq 11 x dan pada rokaaat keempat membaca surat an-Naas 11 x. Setelah salam kemudian membaca aurod merikut ini, masing-masing dibaca 70 x سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ 70× اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ 70× (lht. Kitab jawahirul Khomsy hal. 50 ) · Amalan ini dilakukan di hari Rabu terakhir di bulan Sofar. Tulislah tulisan dibawah ini di kertas atau di piring yang bersih (di tulis dengan menggunakan spidol dll. sekiranya tulisan bisa luntur) lalu dilebur dengan air aduk 7 kali serta membaca solawat dan diminum. سَلَامٌ قََوْلًاً مِنْ رَبِّ الرَحِيْم (*) سَلَامٌ عَلَى نُوْحٍ فِى العَالَمِيْنَ (*) سَلَامٌ عَلَى إِبْــــــــــَراهِيْمَ (*) سَلَاٌم عَلَى مُوْسَى وَهَارُوََْنَ (*) سَلَامٌ عَلَى إِلْـــــــــيَاسِيْنَ (*) سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خَالِدِيْنَ (*) مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر (*)[1] Ritual ini dilakukan setelah Sholat Ashar sebelum Magrib. Faidah: untuk menolak bala’. Setelah magrib: Membaca surat Yaasiin pada lafadz سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَّحِيمٍ dibaca 11 kali atau 313 kali. Kemudian baca doa: Sholawat Munjiyat أَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِينَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِِ وَالْأَفَاتِ وَتَقْضِى لَنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْحَاجَاتِ وَتَُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاتِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ أَلّلَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَبِكَلِمَاتِ الْتاَّمَّاتِ وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وصلى الله عليه وسلم أَنْ تَحْفَظَنِي وَأَنْ تُعَافِيَِنِى مِنْ بَلَائِكَ يَا دَافِعَ البَلاََياَ يَا مُفَرِّجَ الهَمِّ وَيَا كَاشِفَ الغَمِّ إِكْشِفْ عََنِّى مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِى هَذِهِ السَّنَةِ فِى هَمٍّ أَوغَمٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَ مَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا.[2] بسم الله الرحمن الرحيم. اَللَّهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا شَرَّما يَنْزِلُ مِنَ السََّمَاءِ وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وصلى الله على سيدنا و مولانا محمد وعلى اله وصحبه وسلم.[3]

TEMBANG LIR ILIR

MEMBEDAH TEMBANG LIR – ILIR (SUNAN KALIJAGA) Karya besar (tembang lir-ilir) ini dibuat oleh Sunan Kalijaga, yang terkenal dengan dakwah Islam ala Jawa yang telah dikenal masyarakat pada zamannya hingga sekarang. Sunan Kalijaga ialah anggota Wali Songo (sembilan Waliullah) yang dikenal sebagai sosok bijaksana dan cerdas. Beliau adalah satu-satunya anggota Wali Songo yang asli keturunan Jawa. Oleh karena itu, dalam misi menyebarkan agama Islam, beliau menggunakan cara-cara kejawen yang mudah dimengerti oleh kalangan orang Jawa yang pada waktu itu masih ada pengaruh budaya Hindu. Dakwahnya tidak hanya dikenal di kalangan rakyat jelata, namun kalangan ningrat pun mengetahuinya. Oleh karena itu, beliau dikenal oleh kaum muslim yang fanatik sebagai pemimpin “Islam abangan”. Maksud “abangan” dalam konteks ini ialah (cara dakwah) tidak seperti Islam aslinya di Negeri Arab, khususnya dalam hal budayanya. Kebijaksanaan dalam hal kebudayaan memang beliau ambil sendiri (diterapkan secara lokal). Bangsa Jawa saat itu memang murni Bangsa Jawa yang berkebudayaan Jawa, tidak perlu diganti dengan kebudayaan Bangsa Arab. Hanya dalam hal kepercayaan saja harus diganti dengan kepercayaan Islam, dengan pengertian yang dalam. Maka (pada waktu itu), seni dan kebudayaan Jawa tidak dihapus oleh Sunan Kalijaga, namun diberi warna Islam, upacara ritual seperti selamatan doanya diganti dengan doa Islam. Wayang kulit pun diubah sedemikian rupa bentuknya, sehingga tidak menyalahi hukum Islam. Hingga pada perjalanannya, beliau menghasilkan karya besar berbudaya Jawa dengan membuat tembang seperti Ilir-ilir dan Dandang Gula yang di dalamnya terdapat nilai-nilai dakwah. Tembang Ilir-ilir ini akan kita kaji lebih dalam dalam pembahasan ini, karena di dalamnya banyak sekali pelajaran-pelajaran yang patut kita teladani. Berikut adalah syair tembang tersebut: ILIR – ILIR Lir-ilir, Lir-ilir, Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo, Tak sengguh penganten anyar. Cah angon – cah angon, Penekno blimbing kuwi, Lunyu-lunyu penekno, Kanggo mbasuh dodotiro. Dodotiro – dodotiro, Kumitir bedah ing pinggir, Dondomana jlumatana, Kanggo seba mengko sore. Mumpung padang rembulane, Mumpung jembar kalangane, Yo suraka, surak hiyo. Syair tersebut sangat indah jika kita merenungkannya secara mendalam. Nasihat Dibalik Tembang ILIR – ILIR Tembang ini mengandung nasihat bagaimana untuk menjadi muslim yang baik. Secara garis besar tembang tersebut berisi: • Bait pertama menerangkan mulai bangkitnya iman Islam. • Bait kedua ialah perintah untuk melaksanakan Rukun Islam yang lima. • Bait ketiga tentang taubat, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan untuk bekal kelak. • Bait keempat menerangkan tentang adanya kesempatan-kesempatan (yang baik). Berikut adalah uraian-uraian secara rinci: Uraian “Lir-ilir Tandure Wis Sumilir” Kata Lir-ilir berasal dari bahasa Jawa “Ngelilir” yang bahasa Indonesianya ialah terjaga/bangun dari tidur. Maksudnya ialah, orang yang belum masuk (agama Islam) dikatakan masih tidur/belum sadar. Pada tembang di atas, kata “Lir-ilir, Lir-ilir” (diulang sebanyak dua kali), maksudnya ialah “bangun-bangun”, bangun ke alam pemikiran yang baru, yaitu Islam. Sedangkan baris “tandure wis sumilir”, terdiri dari: “tandure” berarti “benih” yang ditanam, “wis sumilir” berarti sudah tumbuh. Jadi, baris “tandure wis sumilir” sama dengan benih yang ditanam sudah mulai tumbuh. Benih di sini berarti iman, yaitu iman Islam. Pada dasarnya semua manusia yang terlahir di muka bumi ini telah dianugerahi benih berupa iman oleh Allah swt. Disadari atau tidak bergantung pada orang-orang yang bersangkutan. Jika orang yang bersangkutan tersebut “sadar” akan adanya benih itu dalam dirinya dan mau merawat dengan baik setiap harinya, maka benih itu akan tumbuh subur, tentunya akan menghasilkan buah yang baik pula. Perawatan benih iman itu dapat berupa: • Membaca Al-Quran atau bacaan-bacaan Islam lainnya. • Menghadiri pengajian. • Mendengarkan khutbah mimbar agama Islam • Menjalin hubungan baik/silaturrahim dengan sesama. Masih banyak lagi pupuk-pupuk (makanan rohaniah) lainnya, yang tentunya dilaksanakan dengan penuh keikhlasan. Uraian “Tak Ijo Royo-Royo, Tak Sengguh Pengantin Anyar” “Tak ijo royo-royo” – Dibuat tumbuh subur, daunnya hijau nan segar. Maksud kalimat tersebut nampaknya menekankan “penampilan” tentang pribadi muslim yang menyenangkan. Adanya benih iman yang selalu dirawat yang menjadikan pribadi muslim sehat jasmani dan rohani. “Ijo-royo-royo” merupakan lambang tanaman yang subur karena dirawat dengan baik. “Tak sengguh penganten anyar” – pengantin baru. Pengantin ialah pasangan mempelai. Analogi ini disangkutkan dengan manusia atas keyakinan imannya, yang baru bertemu menjadi pengantin. Pasangan/pengantin baru ialah orang yang sangat berbahagia hidupnya. Begitu pula dengan “tak sengguh penganten anyar,” orang yang telah bersanding dengan keyakinan iman Islam. Jadi, maksud dari “Tak ijo royo-royo, tak sengguh pengantin anyar” berarti benih iman seseorang yang dirawat dengan baik akan menghasilkan seorang muslim yang baik pula. Kebahagiaan seorang muslim di sini ibarat pengantin baru. Iman yang kokoh yang digambarkan dengan “tak ijo royo-royo” tadi, haruslah selalu dijaga dan dirawat dengan baik. Tumbuhan bisa tidak “tak ijo royo-royo” lagi bila terkena hama. Analogi ini bisa kita kaitkan dengan iman seorang muslim. Penjagaan iman supaya tetap kokoh haruslah mampu menghalau hama-hamanya (contoh: tindakan kemungkaran). Berjudi, mencuri, zina, minum-minuman keras, dan sejenisnya merupakan hama iman yang harus segera dibasmi. Uraian “Cah Angon – Cah Angon, Penekno Blimbing Kuwi” “Cah angon” berarti anak gembala. Kata-kata tersebut diulang bahkan dua kali, yang berarti di sini terdapat penekanan, adanya perintah yang penting. Perintahnya yaitu: “penekno blimbing kuwi” (panjatlah belimbing itu). Perintah ini diberikan kepada bawahan/kedudukan yang lebih rendah dari atasan/kedudukan yang lebih tinggi. Analogi ini sepintas berkesan “orang tua yang memerintah anaknya.” Mengapa yang harus diperintah ialah “cah angon?” Ada gembala, pasti ada yang digembalakannya. Arti cah angon (bukan hanya anak semata) ialah manusia. Manusia yang sebagai gembala menggembalakan nafsu-nafsunya sendiri. Nafsu-nafsu yang dimiliki setiap orang ini, kalau tidak digembalakan, bisa merusak dan tentunya banyak melanggar perintah/aturan agama. Pribadi manusia haruslah bisa berperan sebagai gembala yang baik. Intinya, “cah angon” merupakan sebutan yang diperuntukkan untuk seorang muslim yang menjadi gembala atas nafsu-nafsunya sendiri. “Penekno blimbing kuwi.” Ini bukan berarti harus memanjat buah belimbingnya, namun “panjatlah pohon belimbing itu.” Perintah yang harus dipanjat ialah pohon belimbingnya (untuk meraih buahnya). Timbul pertanyaan, mengapa harus belimbing yang dijadikan contoh di sini, kok tidak durian atau strawberi? Kita tahu bahwa belimbing mempunyai 5 sisi. Nah gambaran ini sebenarnya merujuk kepada rukun Islam yang lima, yaitu: 1. (Dua kalimat) syahadat 2. Mendirikan sholat 3. Membayar zakat 4. Berpuasa Ramadhan 5. Menunaikan ibadah haji Uraian “Lunyu – Lunyu yo Penekno kanggo Mbasuh Dodotiro” Bahasa Indonesia dari “Lunyu-lunyu yo penekno” ialah “Meskipun licin, tetap panjatlah” (baris ini berhubungan dengan baris sebelumnya “Cah angon-cah angon, peneken blimbing kuwi”). Licin merupakan sebuah penghambat bagi si pemanjat. Haruslah memanjat dengan sungguh-sungguh dan hati-hati. Jika tidak, maka akan tergelincir jatuh. Sama halnya dengan perintah agama. Jika tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin bila tergelincir ke neraka. Analogi secara kasat mata, jalan turun memang lebih mudah daripada jalan naik, jalan menuju neraka lebih mudah daripada jalan menuju ke surga. Bukankah minum-minuman keras, judi, berzina, berdusta, memfitnah lebih mudah daripada mencegah kemungkaran, mengerjakan sholat dan berpuasa? Namun, bagi “cah angon” yang taat, perintah Allah untuk memanjat “blimbing” tadi bukanlah beban dan bukan sesuatu yang berat baginya (untuk meraih buah yang lezat, yaitu surga). “Kanggo mbasuh dodotiro” mempunyai maksud: berguna untuk membersihkan atau mensucikan kepercayaan kita, hingga benar-benar menjadi kepercayaan yang suci. Dodot ialah pakaian kebesaran di lingkungan kraton. Dodot = pakaian. Analogi ini diibaratkan sebagai “kepercayaan.” Pada zaman “Wali Songo” dulu, banyak orang yang memeluk agama Hindu, Budha, dan Animisme. Hal-hal seperti itu dicuci dengan “iman Islam” oleh Wali Songo, hingga jadilah agama yang bersih dan benar yaitu agama Islam. Salah satu pembersihnya yaitu rukun Islam yang lima. Uraian “Dodotiro – Dodotiro Kumitir Bedah ing Pinggir, Dondomana Jlumatana, Kanggo Seba Mengko Sore” Keterangan sebelumnya menerangkan bahwa “dodot” untuk menggambarkan agama atau kepercayaan yang dianut. “Kumitir bedah ing pinggir” artinya: banyak robekan-robekan di bagian tepi. Berikutnya terdapat perintah “dondomana jlumatana” – dijahit/diperbaiki. Pakaian yang rusak tadi hendaklah diperbaiki agar pantas dipakai lagi. Demikian halnya dengan kepercayaan kita. Bila rusak (karena dosa-dosa yang telah dilakukan), hendaknya diperbaiki dengan jalan memohon ampun kepada Allah (taubat) dan melakukan rukun Islam sebaik-baiknya. “Kanggo seba” mengandung arti: “datang, menghadap Yang Maha Kuasa, yaitu Allah.” Sedangkan “sore” mengandung maksud “akhir dari perjalanan.” Akhir dari perjalanan manusia. Jadi, maksud dari “Kanggo seba mengko sore” yaitu: “untuk menghadap Allah nanti bila perjalanan hidup sudah berakhir.” Hikmahnya yaitu bagaima kita melaksanakan perintah dalam mengamalkan rukun Islam dengan baik sebagai bekal untuk menghadap Allah kelak ketika hidup sudah berakhir. Uraian “Mumpung Padang Rembulane, Mumpung Jembar Kalangane” Terjemahan Bahasa Indonesianya ialah : “selagi terang sinar bulannya, selagi luas tempatnya.” terang bulan yang jelas saat malam hari. Tanpa cahaya bulan pada malam hari (tanpa penerang apapun) akan gelap gulita, tidak dapat melihat apa-apa. Maksudnya, di saat “gelap” orang akan sulit (bahkan tidak mampu) membedakan yang haq dan batil (mana yang baik/benar dan mana yang buruk/salah/haram). Namun, pada suasana gelap itu sesungguhnya terdapat “sinar penerangan” dari cahaya bulan (Sinar Islam), sehingga bisa nampak jelas mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang haq dan mana yang batil. “Mumpung jembar kalangane” – Luas cakupan sinar bulan, mampu menerangi daerah yang luas. Jadi, maksud dari “Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane” adalah mumpung masih ada kesempatan bertaubat untuk meraih surga (menek belimbing) itu atau untuk melaksanakan perintah agama, yaitu rukun Islam yang lima tadi. Hal ini dikarenakan dengan adanya Sinar Islam itu, kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kesempatan yang baik dan luas itu jangan sampai disia-siakan begitu saja. Semua itu merupakan ajakan untuk seluruh umat manusia agar melaksanakan kelima rukun Islam dengan baik dan benar. Uraian “Yo Surako, Surak Hiyo” Baris di atas (mari bersorak-mari bersorak) ialah ajakan untuk bersorak. Sorak merupakan ekspresi kebahagiaan dan kesenangan bagi yang bersangkutan. Mengapa harus berbahagia? Tak lain ialah karena ia sudah berhasil melaksanakan perintah “Penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu ya peneken.” Bahagia atau senang ini diperoleh sebagai hadiah dari pekerjaannya “memanjat belimbing itu” (surga). Inti dari baris tersebut ialah, mengajak “Si Cah Angon” (seorang muslim) yang telah melaksanakan perintah “peneken blimbing kuwi” dengan baik, untuk berbahagia karena akan memperoleh pahala yang berupa surga.

Minggu, 29 April 2012

Ketika Nabi Tersenyum

Saat menikahkan putri bungsunya, Sayyidah Fatimah Az Zahrah, dengan sahabat Ali bin Abi Thalib, Baginda Nabi Muhammad SAW tersenyum lebar. Itu merupakan peristiwa yang penuh kebahagiaan. Hal serupa juga diperlihatkan Rasulullah SAW pada peristiwa Fathu Makkah, pembebasan Makkah, karena hari itu merupakan hari kemenangan besar bagi kaum muslimin. “Hari itu adalah hari yang penuh dengan senyum panjang yang terukir dari bibir Rasulullah SAW serta bibir seluruh kaum muslimin” tulis Ibnu Hisyam dalam kita As Sirah Nabawiyyah. Rasulullah SAW adalah pribadi yang lembut dan penuh senyum. Namun, beliau tidak memberi senyum kepada sembarang orang. Demikian istimewanya senyum Rasul sampai-sampai Abu Bakar dan Umar, dua sahabat utama beliau, sering terperangah dan memperhatikan arti senyum tersebut. Misalnya mereka heran melihat Rasul tertawa saat berada di Muzdalifah di suatu akhir malam. “Sesungguhnya Tuan tidak biasa tertawa pada saat seperti ini,” kata Umar. “Apa yang menyebabkan Tuan tertawa?” Pada saat seperti itu, akhir malam, Nabi biasanya berdoa dengan khusyu’. Menyadari senyuman beliau tidak sembarangan, bahkan mengandung makna tertentu, Umar berharap, “Semoga Allah menjadikan Tuan tertawa sepanjang umur”. Atas pertanyaan diatas, Rasul menjawab, “Ketika iblis mengetahui bahwa Allah mengabulkan doaku dan mengampuni umatku, dia memungut pasir dan melemparkannya kekepalanya, sambil berseru, ‘celaka aku, binasa aku!’ Melihat hal itu aku tertawa.” (HR Ibnu Majah) Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menulis, apabila Rasul dipanggil, beliau selalu menjawab, “Labbaik”. Ini menunjukkan betapa beliau sangat rendah hati. Begitu pula, Rasul belum pernah menolak seseorang dengan ucapan “tidak” bila diminta sesuatu. Bahkan ketika tak punya apa-apa, beliau tidak pernah menolak permintaan seseorang. “Aku tidak mempunyai apa-apa,” kata Rasul, “Tapi, belilah atas namaku. Dan bila yang bersangkutan datang menagih, aku akan membayarnya.” Banyak hal yang bisa membuat Rasul tertawa tanpa diketahui sebab musababnya. Hal itu biasanya berhubungan dengan turunnya wahyu Allah. Misalnya, ketika beliau sedang duduk-duduk dan melihat seseorang sedang makan. Pada suapan terakhir orang itu mengucapkan. “Bismillahi fi awalihi wa akhirihi.” Saat itu beliau tertawa. Tentu saja orang itu terheran-heran. Keheranan itu dijawab beliau dengan bersabda, “Tadi aku lihat setan ikut makan bersama dia. Tapi begitu dia membaca basmalah, setan itu memuntahkan makanan yang sudah ditelannya.” Rupanya orang itu tidak mengucapkan basmalah ketika mulai makan. Suatu hari Umar tertegun melihat senyuman Nabi. Belum sempat dia bertanya, Nabi sudah mendahului bertanya, “Ya Umar, tahukah engkau mengapa aku tersenyum?” “Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,” jawab Umar. “Sesungguhnya Allah memandang kepadamu dengan kasih sayang dan penuh rahmat pada malam hari Arafat, dan menjadikan kamu sebagai kunci Islam,” sabda beliau. Kesaksian Anggota Tubuh Rasul SAW bahkan sering membalas sindiran orang dengan senyuman. Misalnya ketika seorang Badui yang ikut mendengarkan taushiyah beliau tiba-tiba nyeletuk, “Ya Rasul, orang itu pasti orang Quraisy atau Anshar, karena mereka gemar bercocok tanam, sedang kami tidak.” Saat itu Rasul tengah menceritakan dialog antara seorang penghuni surga dan Allah SWT yang mohon agar diizinkan bercocok tanam di surga. Allah SWT mengingatkan bahwa semua yang diinginkannya sudah tersedia di surga. Karena sejak di dunia punya hobi bercocok tanam, iapun lalu mengambil beberapa biji-bijian, kemudian ia tanam. Tak lama kemudian biji itu tumbuh menjadi pohon hingga setinggi gunung, berbuah, lalu dipanenkan. Lalu Allah SWT berfirman. “Itu tidak akan membuatmu kenyang, ambillah yang lain.” Ketika itulah si Badui menyeletuk, “Pasti itu orang Quraisy atau Anshar. Mereka gemar bercocok tanam, kami tidak.” Mendengar itu Rasul tersenyum, sama sekali tidak marah. Padahal, beliau orang Quraisy juga. Suatu saat justru Rasulullah yang bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian mengapa aku tertawa?.” “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,” jawab para sahabat. Maka Rasul pun menceritakan dialog antara seorang hamba dan Allah SWT. Orang itu berkata, “Aku tidak mengizinkan saksi terhadap diriku kecuali aku sendiri.” Lalu Allah SWT menjawab, “Baiklah, cukup kamu sendiri yang menjadi saksi terhadap dirimu, dan malaikat mencatat sebagai saksi.” Kemudia mulut orang itu dibungkam supaya diam, sementara kepada anggota tubuhnya diperintahkan untuk bicara. Anggota tubuh itupun menyampaikan kesaksian masing-masing. Lalu orang itu dipersilahkan mempertimbangkan kesaksian anggota-anggota tubuhnya. Tapi orang itu malah membentak, “Pergi kamu, celakalah kamu!” Dulu aku selalu berusaha, berjuang, dan menjaga kamu baik-baik,” katanya. Rasulpun tertawa melihat orang yang telah berbuat dosa itu mengira anggota tubuhnya akan membela dan menyelamatkannya. Dia mengira, anggota tubuh itu dapat menyelamatkannya dari api neraka. Tapi ternyata anggota tubuh itu menjadi saksi yang merugikan, karena memberikan kesaksian yang sebenarnya (HR Anas bin Malik). Hal itu mengingatkan kita pada ayat 65 surah Yasin, yang maknanya, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” Sumber : Majalah Alkisah No.01/Tahun VII/12

Rabu, 25 April 2012

R.A. KARTINI

PUISI KARTINI . Harum namanya ibu kartini berjuang untuk kaumnya perempuan, bukan untuk waria tulisannya indah penuh perjuangan habis gelap terbitlah terang begitu menusuk jantungku menghujam dalam hatiku Kenapa oh kenapa? tanggal 21 april saja, kau harus dikenang? Oh ibu yang harum namanya kenapa tak setiap waktu, kau dikenang, dan di maknai bahwa harkat wanita itu mulia dan sama dengan laki-laki kenapa? Oh ibu putri sejati emansipasimu sekarang tak bermakna sama batasannya beragam rupa ada yang lupa kalau dia seorang istri, bekerja di luar tanpa henti ada yang lupa dia seorang ibu, lupa memberi bayinya asi, dengan alasan kerja biar dapat gaji untuk bayi ada yang… Ah, ibu putri Indonesia begitulah adanya ada pula yang emansipasi menjadi TKI, dan bunuh diri karena membela diri oh ibu kartini, putri yang mulia, tak jua semua begitu banyak juga menjaga harkatnya nan mulia ada yang menjadi dewan, menteri, profesor, bahkan bisa menjadi presiden RI Oh ibu Kartini walau hari-hari aku tak bersanggul dan tak berkebaya sungguh aku akan meneruskan perjuanganmu… Oh ibu Kartini aku mau bernyanyi untuk mengenangmu (aku akan mengenangmu terus dan terus, tak hanya di 21 April) Ibu kita kartini putri sejati putri INDONESIA, harum namanya Wahai ibu kita kartini putri yang mulia sungguh besar cita-citanya bagi INDONESIA (Indah’kan? Walau Fals…) puisi tentang ibu kita kartini Kartini ku pahlawanku Tak henti – hentinya aku mengucap syukur karena telah memiliki sosok ibu sepertimu Kau rela memperjuangkan hidup dan matimu untuk melahirkanku kedunia ini Rela menjagaku selama 9bln meski masih dalam kandungan Dan rela menyitakan waktumu hanya untuk membesarkan dan mendidikku Ibu.. Kasih sayangmu tak kan bertepi Kepedulianmu selalu di hati Kau pelipur lara yang kan abadi Jiwaku hilang jika tanpamu Baktiku hanya untukmu Ketulusan hatiku kan ku lakukan hanya untuk membuatmu tersenyum Meski lakuku selalu membuatmu sedih Namun kau selalu mendoakan ku dalam setiap doa yang kau panjatkan Kasih sayangmu tak kan bisa di bayar dengan uang Kehadiranmu tak kan bisa di gantikan Kebahagiaanmu adalah obat untuk langkah hidupku Ibu.. kau selalu mengajarkan kebaikan untukku Kau selalu mengingatkan ku jika ku berlaku dan berucap salah Belaian kasihmu mampu mendamaikan hatiku Terima kasih atas semua yang telah kau berikan pada malaikat kecilmu ini Selamat hari ibu Semoga Tuhan selalu menjaga ibu

MENJADI UMAT TERBAIK

Manusia adalah wujud dari kemahasempurnaan Allah SWT yang menciptakan (al-Khaliq), yang mengadakan (al-Bari'), dan yang membentuk rupa (al-Mushawwir). Di samping kesempurnaan jasmani dan rohani, kapasitas intelektual adalah alasan penting mengapa manusia dipilih untuk menerima amanah sebagai khalifah di muka bumi. Kesempurnaan manusia adalah pada kemampuannya berpikir, menerima dan mengembangkan ilmu pengetahuan, memanfaatkan fakultas-fakultas yang dimilikinya, yaitu as-samu (pendengaran), al-bashar (penglihatan), dan al-fuad (hati). Menuntut ilmu adalah tugas pertama dan utama seorang anak manusia. Allah SWT telah mengajarkan nama-nama benda kepada Adam AS pada awal penciptaan sebagai landasan bagi penguasaan ilmu pengetahuan. (QS al-Baqarah [2]:31). Perintah membaca (iqra) dan menulis dengan pena (al-qalam) juga merupakan perintah pertama dari risalah kenabian. Wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah perintah membaca dan menulis. (QS al-Alaq [96]:1-5). Belajar, mencari, menguasai, dan mengembangkan ilmu pengetahuan adalah tugas yang pertama dan utama dari umat Muhammad SAW. Dengan bekal ilmu pengetahuan yang dimilikinya, manusia dapat memakmurkan bumi dan mencegahnya dari kerusakan. Di samping sebagai hamba dan wakil Allah SWT di muka bumi, umat Islam adalah umat terbaik (khaira ummah) karena mereka senantiasa memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah SWT. (QS Ali Imran [3]:110). Untuk dapat memelihara eksistensi dan kehormatannya sebagai umat yang terbaik, khaira ummah, the best nation of peoples for the people, umat Islam perlu terus-menerus belajar, beriman, dan beramal menyampaikan pesan-pesan Islam dengan contoh dan perbuatan serta tetap bersabar di dalam melaksanakannya. Pengetahuan yang mencerdaskan sekaligus mencerahkan tersebut diperoleh dengan menjelajahi dan mendalami ayat-ayat Allah SWT (the Spoken Verses) dan tanda-tanda di dalam ciptaan-Nya (the Creation Verses). Kemampuannya untuk menggunakan hati (zikir) dan nalar (pikir) di dalam menjelajahi tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah ciri utama dari seorang Muslim cendekia (ulul albab, men of understanding). Itu sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, pengikut, dan pewaris terbaiknya. (QS Ali Imran [3]: 190-191). Mengenai turunnya ayat ini, Abdullah Ibnu Umar RA menceritakan, dari Ummul Mu'minin Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW berdiri di dalam shalat malamnya dan menangis hingga janggutnya menjadi basah. Beliau menangis hingga air matanya membasahi lantai. Beliau kemudian berbaring dan bertumpu pada bagian sisinya seraya menangis. Ketika Bilal datang untuk mengingatkan waktu shalat Subuh, dia berkata, "Ya Rasulullah, apa gerangan yang membuatmu menangis, padahal Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang.” Beliau SAW berkata, "Ya Bilal, apa yang dapat menghalangi tangisku, ketika malam ini, ayat ini (QS Ali Imran [3]:190), diturunkan kepadaku. Celaka orang yang membaca ayat ini, tetapi tidak merenungkannya." Wallahu a'lam.

Selasa, 24 April 2012

USMAN BIN AFFAN

Utsman bin Affan dilahirkan 47 tahun sebelum hijrah (574 Masehi) dari seorang ayah bernama Abul-Ash bin Umayyah bin Abdus Syams bin Abdu Manaf bin Qusyayyi bin Kilab. Beliau masuk Islam karena ajakan Abu Bakar Al-Shiddiq. Sebagai sesama pedagang keduanya memang berteman dekat, kedekatan tersebut yang membuat Utsman akhirnya tertarik untuk mengikuti ajaran Rosulullah saw, sehingga dia juga termasuk golongan assabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam). Sebagai seorang kaya raya dan ahli ekonomi yang handal, kedermawanan Utsman juga tidak diragukan lagi. Sejarah mencatat bagaimana kedermawanan Ustman sangat membantu kehidupan masyarakat muslim pada masa itu. Dalam suatu kisah disebutkan ketika kaum muslimin hendak menghadapi perang Tabuk. Saat itu Rosulullah membutuhkan berbagai perlengkapan, logistik dan orang-orang untuk menjadi prajurit. Banyak orang yang menginginkan untuk menjadi syuhada dalam perang tersebut tetapi ditolak oleh Rosulullah karena memang kurangnya kendaraan dan logistik yang disebabkan masa paceklik yang sedang melanda jazirah Arab. Maka orang-orang tadi kembali pulang ke tempat masing-masing dengan mata yang berlinang. Pada saat itulah Rasulullah Saw naik ke atas mimbar. Beliau memuji Allah Swt, kemudian menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan segala kemampuan mereka dan menjanjikan mereka dengan balasan yang besar. Mengetahui adanya kesulitan tersebut, dengan segera Utsman berdiri dan berkata kepada Rosulullah Saw: “Aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah Saw turun satu anak tangga dari mimbarnya dan Beliau terus menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan apa yang mereka punya. Maka untuk kedua kalinya Utsman berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!” Wajah Rasul Saw menjadi cerah, kemudian Beliau turun satu anak tangga lagi dari mimbar dan Beliau masih saja menyerukan umat Islam untuk mengerahkan segala yang mereka miliki. Utsman untuk ketiga kalinya berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!” Pada saat itu Rasulullah Saw mengarahkan tangannya ke arah Utsman pertanda Beliau senang dengan apa yang telah dilakukan Utsman ra. Beliau pun bersabda: “Utsman setelah hari ini tidak akan pernah ada yang membahayakannya….” Belum lagi Rasulullah Saw turun dari mimbarnya, Utsman sudah berlari pulang ke rumah. Ia segera mengirimkan semua unta yang ia janjikan dan disertai dengan 1000 dinar emas. Begitu uang-uang dinar tadi diserahkan kepangkuan Rasulullah Saw, Beliau lalu membolak-balikkan uang dinar tersebut seraya bersabda: “Semoga Allah Swt akan mengampunimu, wahai Utsman atas sedekah yang kau berikan secara terang-terangan maupun sembunyi. Semoga Allah juga akan mengampuni segala sesuatu yang ada pada dirimu, dan apa yang telah Allah ciptakan hingga Hari Kiamat.” Utsman bin Affan diangkat menjadi Khalifah sepeninggal Umar bin Al-Khattab, yaitu tahun 24 H/644 M. Pada masa pemerintahannya banyak jasa yang dilakukan yaitu melakukan perluasan Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Utsman juga mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf. Kebijakan tersebut diambil karena wilayah Islam bertambah luas dan para qori pun tersebar di berbagai daerah, sehinga perbedaan bacaan pun terjadi yang diakibatkan berbedanya qiro‘at dari qori yang sampai pada mereka. Ketika terjadi perang di Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Irak, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat tersebut adalah Hudzaifah bin Yaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara membaca Al-Qur‘an. Sebagian bacaan itu tercampur dengan kesalahan tetapi masing-masing berbekal dan mempertahankan bacaannya. Bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat hal tersebut beliau melaporkannya kepada Khalifah Utsman. Para sahabat amat khawatir kalau perbedaan tersebut akan membawa perpecahan pada kaum muslimin. Mereka lalu sepakat menyalin lembaran pertama yang telah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar yang disimpan oleh istri Rasulullah, Hafsah binti Umar dan menyatukan umat Islam dengan satu bacaan yang tetap pada satu huruf. Selanjutnya Utsman mengirim surat pada Hafsah yang isinya: Kirimkanlah pada kami lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Qur‘an, kami akan menyalinnya dalam bentuk mushaf dan setelah selesai akan kami kembalikan kepada engkau. Kemudian Hafsah mengirimkannya kepada Utsman. Utsman memerintahkan para sahabat antara lain: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Az-Zubair, Sa‘ad bin Al-Ash dan Abdurahman bin Harist, untuk menyalin mushaf yang telah dipinjam. Khalifah Utsman juga berpesan kepada kaum Quraisy: bila kalian berbeda pendapat tentang hal Al-Qur‘an maka tulislah dengan ucapan lisan Quraisy karena Al-Qur‘an diturunkan di kaum Quraisy. Setelah mereka menyalin ke dalam beberapa mushaf, Utsman mengembalikan lembaran mushaf yang asli kepada Hafsah. Selanjutnya ia menyebarkan mushaf yang yang telah di salinnya ke seluruh daerah dan memerintahkan agar semua bentuk lembaran mushaf yang lain dibakar. Mushaf ditulis sebanyak lima buah, empat buah dikirimkan ke daerah-daerah Islam supaya disalin kembali dan supaya dipedomani, satu buah disimpan di Madinah untuk Khalifah Utsman sendiri dan mushaf ini disebut mushaf Al-Imam dan dikenal dengan mushaf Utsmani. Jadi langkah pengumpulan mushaf ini merupakan salah satu langkah strategis yang dilakukan pada zaman Khalifah Utsman dan belum dilakukan pada zaman Rasulullah saw. Ini menunjukkan bahwasanya hal-hal baik yang dilakukan setelah wafatnya Rasulullah saw juga dianggap perkara yang baik dalam agama dan bukan sesuatu yang sesat. Keinginan Khalifah Ustman agar kitab Al-Qur’an tidak mempunyai banyak versi bacaan, tercapai setelah kitab yang berdasarkan pada dialek masing-masing kabilah semua dibakar, dan yang tersisa hanyalah mushaf yang telah disesuaikan dengan naskah Al-Qur’an aslinya. Khalifah Utsman wafat sebagai syahid pada hari Jum’at tanggal 18 Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah Saw perihal kematian Utsman yang syahid nantinya. Ia dimakamkan di kuburan Baqi yang letaknya berdekatan dengan masjid Nabawi.

ALI BIN ABI THALIB

Ali bin Abi Thalib dilahirkan tanggal 13 Rajab tahun ke 23 sebelum Hijriah/ tahun 599 M. Ayahnya bernama Abu Thalib bin Abdul Muthallib bin Hasyim, sedangkan ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim. Ali kemudian dijadikan anak angkat Nabi SAW karena pernikahan beliau dengan Siti Khadijah tidak dikaruniai anak laki-laki sekaligus sebagai wujud terimakasih Nabi SAW kepada pamannya Abu Thalib yang juga pernah mengasuhnya waktu kecil. Konsistensi dan totalitas Ali dalam mendukung dakwah nabi terlihat dari sikapnya sebagai orang yang pertama kali mempercayai wahyu-wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW. Saat itu usia Ali baru sekitar 10 tahun. Sikap seperti ini sungguh sulit pada masa itu mengingat sudut pandang, pemikiran, dan pengetahuan suku Quraisy yang masih dalam masa kegelapan (jahiliyah). Sikap yang diambil Ali juga bukan tanpa resiko. Cercaan, hinaan bahkan ancaman nyawa selalu mengintai. Ada sebuah kisah pengorbanan totalitas yang pernah dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Ketika Rasul Allah s.a.w. mendapatkan perintah untuk hijrah ke Madinah. Di satu malam yang gelap-gulita, ketika komplotan kafir Quraiys mengepung kediaman Rasul Allah s.a.w. dengan tujuan hendak membunuh beliau, manakala beliau meninggalkan rumah. Dalam peristiwa ini Ali bin Abi Thalib r.a. memiliki peranan besar: Ia diminta oleh Rasul Allah s.a.w. supaya tidur di atas pembaringan beliau dan menutupi tubuhnya dengan selimut beliau guna mengelabui mata orang-orang Quraiys. Tanpa ragu dan tawar-menawar lagi ia menyanggupinya. Ali berkata, “Baiklah, aku patuh dan kutaati perintah engkau. Aku rela menebus keselamatan engkau dengan nyawaku, ya Rasulullah!” Ali bin Abi Thalib r.a. segera menghampiri pembaringan Rasulullah s.a.w. Kemudian berselunjur mengenakan selimut beliau untuk menutupi tubuhnya. Pada saat itu orang-orang kafir Quraiys sudah mulai berdatangan di sekitar rumah Rasulullah s.a.w. dan mengepungnya dari segala jurusan. Dengan perlindungan Allah s.w.t. dan sambil membaca Surat Yaa Sin ayat 9, beliau keluar tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang mengepung dan mengintai. Orang-orang Quraiys itu menduga, bahwa orang yang sedang berbaring dan berselimut itu pasti Nabi Muhammad s.a.w. Mereka yang mengepung itu mewakili suku-suku qabilah Quraiys yang telah bersepakat hendak membunuh Nabi Muhammad s.a.w. dengan pedang secara serentak. Dengan cara demikian itu, tidak mungkin Bani Hasyim dapat menuntut balas. Ali bin Abi Thalib r.a. mengerti benar kemungkinan apa yang akan diperbuat orang-orang kafir Quraiys terhadap dirinya karena ia tidur di pembaringan Rasul Allah s.a.w. Hal itu sama sekali tidak membuatnya sedih atau takut. Dengan kesabaran yang luar biasa, ia berserah diri kepada Allah s.w.t. Ia yakin, bahwa Allah yang menentukan segala-galanya. Menjelang subuh, Ali bin Abi Thalib r.a. bangun. Gerombolan Quraiys terus menyerbu ke dalam rumah. Dengan suara membentak mereka bertanya: “Mana Muhammad? Mana Muhammad?” “Aku tak tahu di mana Muhammad berada!” jawab Ali bin Abi Thalib r.a. dengan tenang. Gerombolan Quraiys itu segera mencari-cari ke sudut-sudut rumah. Usaha mereka sia-sia belaka. Gerombolan itu kecewa benar. Di dalam hati mereka bertanya-tanya: “Kemana ia pergi?” Dalam suasana gaduh, Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya: “Apa maksud kalian?” “Mana, Muhammad? Mana Muhammad?” mereka mengulang-ulang pertanyaan semula. “Apakah kalian mengangkatku menjadi pengawasnya?” ujar Ali bin Abi Thalib r.a. dengan nada memperolok-olok. “Bukankah kalian sendiri berniat mengeluarkannya dari negeri ini? Sekarang ia sudah keluar meninggalkan kalian!” Ucapan Ali bin Abi Thalib r.a. sungguh-sungguh menggambarkan ketabahan dan keberanian hatinya. Cahaya pedang terhunus yang berkilauan, sama sekali tidak dihiraukan, bahkan orang-orang Quraiys yang kalap itu dicemoohkan. Seandainya ada seorang saja dari gerombolan itu mengayunkan pedang ke arah Ali r.a., entahlah apa yang terjadi. Tetapi Allah tidak menghendaki hal itu. Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi saw dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra yang banyak dinanti para pemuda. Nabi saw menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga yang se-rumpun (Bani Hasyim), yang paling dulu mempercayai ke-nabi-an beliau (setelah Khadijah), dan yang selalu belajar di bawah Nabi. Setelah pernikahannya dengan Fatimah Az-Zahra, Ali tinggal bersama isterinya di sebuah rumah yang sungguh amat sederhana. Sebagian besar perkakas rumah tangganya terbuat dari tembikar (tanah Hat). Namun, Rasulullah s.a.w. merasa bangga, tenang dan bahagia serta penuh kasih sayang sebagai ayah kepada puteri belahan hati beliau sendiri. Suasana yang penuh kesejahteraan dan keserasian itu lebih disemarakkan lagi oleh kelahiran dua orang cucu beliau s.a.w., Al-Hasan dan Al-Husain. Di dalam rumah yang diliputi suasana kebahagiaan itu Rasulullah saw sering duduk berbincang-bincang dengan mereka. Ali duduk di sebelah kanan dan Fatimah Az-Zahra duduk di sebelah kiri beliau. Sedangkan dua orang cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husain duduk di atas pangkuan beliau. Secara bergantian beliau menciumi kedua orang cucunya itu. Beliau mendoakan keberkahan bagi mereka semua dan mohon kepada Allah Swt agar berkenan menjauhkan mereka dari segala macam noda dan kotoran hidup serta mensucikan mereka sesuci-sucinya. Setelah Rasulullah saw wafat, tampuk khilafah dipegang oleh Abu Bakar yang diteruskan oleh Umar kemudian Utsman. Khalifah Utsman syahid dibunuh oleh para pemberontak. Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan ini mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Akibat pemberontakan yang waktu itu menguasai Madinah, maka tidak pilihan lain selain mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Ali kemudian menjadi Khalifah yang keempat menggantikan Khalifah Utsman bin Affan. Ali bin Abi Thalib meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij saat mengimami salat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah.

ABU HURAIRAH

Abu Hurairah Maret 8, 2012 · Disimpan dalam Biografi Sahabat Nabi · Tagged Abu Hurairah, Perawi terbanyak, Sahabat Nabi Namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr bin Tsalabah bin Salim bin Fahmi bin Ghanan bin Daws Al-Yaman. Beliau lahir tahun 21 sebelum hijrahnya Nabi saw ke Madinah bersamaan dengan tahun 602 Masehi. Dia lebih dikenal dengan nama Abu Hurairah karena memiliki seekor kucing kecil yang selalu diajaknya bermain-main pada siang hari atau saat menggembalakan kambing-kambing milik keluarga dan kerabatnya. Diriwayatkan bahwa Nabi saw pernah memanggilnya dengan sebutan, “Wahai, Abu Hir”. Abu Hurairah masuk Islam melalui pemimpin kaumnya yaitu Thufail bin Amr, seorang pemimpin Bani Daus. Thufail kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad saw dan menjadi muslim. Ia lalu menyeru kepada kaumnya untuk masuk Islam. Akan tetapi sangat sedikit kaumnya yang masuk Islam, dan di antara yang sedikit itu adalah Abu Hurairah. Setelah masuk Islam, Abu Hurairah sangat berkeinginan agar ibunya juga masuk Islam. Abu Hurairah lalu datang menemui Rasulullah seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah, ibu saya menolak masuk Islam dan setiap kali saya mengajak masuk Islam, setiap itu pula saya mendengar caci makinya. Doakanlah ibu saya agar mendapat hidayah Allah.” Rasulullah pun kemudian berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.” Abu Hurairah gembira mendengar doa Rasulullah saw. Lalu beliau kembali ke rumahnya dan datang menemui ibunya. Ibunya memanggil, “Wahai Abu Hurairah !” Abu Hurairah mengira rentetan caci maki akan didengarnya. Dia menjawab “Ya, Bu..” Ternyata ibunya berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Abu Hurairah tersenyum dan sangat gembira. Lalu beliau kembali menemui Rasulullah dan mengatakan, “Alangkah bahagianya aku wahai Rasulullah! Doa engkau dikabulkan”. Rasulullah kemudian mengucapkan hamdalah dan pujian atas terkabulnya doa. Abu Hurairah lantas mengatakan, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar saya dan ibu saya mencintai orang-orang mukmin dan agar orang-orang mukmin mencintai saya dan ibu saya” Maka Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah, semoga kedua hambaMu ini dicintai dan mencintai orang mukmin” Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah itu tidak ada seorang mukmin pun yang mendengar atau melihatku, melainkan ia kemudian mencintaiku.” Abu Hurairah merupakan sahabat Nabi yang senantiasa mendampingi beliau dimanapun beliau berada selama empat tahun. Dalam waktu yang sangat singkat tersebut, Abu Hurairah banyak menyerap Ilmu dan menghafal hadits-hadits dari Rasulullah saw. Abu Hurairah mengisahkan, “Orang-orang banyak yang heran, bagaimana aku dapat meriwayatkan hadits begitu banyak. Sebenarnya ketika saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin banyak yang berdagang dan saudara-saudara dari kaum Anshar sibuk berladang, aku selalu di samping Rasulullah saw. Aku termasuk golongan Ashhabus Suffah dan aku tidak begitu menghiraukan pencarian nafkah karena aku selalu merasa puas dengan sedikit makanan yang diberikan Rasulullah saw kepadaku. Aku pernah memberitahukan kepada Rasulullah tentang hafalanku yang lemah, lalu beliau bersabda, ‘Hamparkan kain selimutmu!’ Aku pun melakukan perintahnya, beliau lalu membuat tanda-tanda di kain selimut itu, kemudian bersabda, ‘Sekarang balutkanlah kain selimut ini di sekeliling dadamu.’ Aku pun membalut dadaku dengan kain itu. Sejak saat itu aku tidak pernah lupa lagi dengan segala sesuatu yang ingin aku hafalkan.” Abu Hurairah meriwayatkan hadits Rasulullah sebanyak 5374 hadits. Dari jumlah tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim secara bersama sebanyak 326 hadits. Sedangkan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tanpa Imam Muslim sebanyak 93 hadits dan diriwayatkan oleh Imam Muslim tanpa Imam Bukhari 98 hadits. Selain meriwayatkan dari Rasulullah saw, beliau juga meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar bin Khathab, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, Aisyah, Bushrah Al-Ghifari, dan Ka’ab Al-Ahbar Radhiyallahu ‘anhum. Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, dan beliau adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan beribu-ribu hadits. Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah mengatakan,”Abu Hurairah ra adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadits pada zamannya (masa sahabat).” Abu Hurairah meninggal pada tahun 57 Hijriyah/678 M. Semoga jasanya yang besar dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi senantiasa dikenang oleh kaum Muslimin dan untuk kepentingan Islam.

Selasa, 20 Maret 2012

ISLAM

ISLAM Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah untuk imam para rasul, nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para shahabatnya . Islam adalah syari’at Allah terakhir yang diturunkan-Nya kepada penutup para nabi dan rasul-Nya, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia merupakan satu-satunya agama yang benar. Allah tidak menerima agama dari siapapun selainnya. Dia telah menjadikannya sebagai agama yang mudah, tidak ada kesulitan dan kesusahan di dalamnya. Allah tidak mewajibkan dan tidak pula membebankan kepada para pemeluknya apa-apa yang mereka tidak sanggup melakukannya. Islam adalah agama yang dasarnya tauhid, syi’arnya kejujuran, porosnya keadilan, tiangnya kebenaran, ruhnya kasih sayang. Ia merupakan agama agung yang mengarahkan manusia kepada seluruh hal yang bermanfa’at, serta melarang dari segala hal yang membahayakan bagi agama dan kehidupan mereka di dunia. Dengannya Allah meluruskan ’aqidah dan akhlak, serta memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat. Dengannya pula Allah menyatukan hati yang bercerai-berai, dan hawa nafsu yang berpecah-belah, dengan membebaskannya dari kegelapan kebatilan, dan mengarahkan serta menunjukinya kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Islam adalah agama yang lurus, yang sangat bijaksana dan sempurna dalam segala berita dan hukum-hukumnya. Ia tidak memberitakan kecuali dengan jujur dan benar, dan tidak menghukum kecuali dengan yang baik dan adil, yaitu: ’aqidah yang benar, amalan yang tepat, akhlak yang utama dan etika yang mulia. Syari’ah Islam bertujuan untuk mewujudkan hal-hal berikut: 1. Memperkenalkan manusia dengan Tuhan dan Pencipta mereka, melalui nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang sempurna. 2. Menyeru manusia untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya; dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya, yang merupakan kemaslahatan bagi mereka di dunia dan akhirat. 3. Mengingatkan mereka akan keadaan dan tempat kembali mereka setelah mati, dan apa yang akan mereka hadapi di dalam kubur, serta ketika dibangkitkan dan dihisab. Kemudian tempat kembali mereka surga atau neraka. Dan hal-hal yang diseru oleh Islam dapat kita simpulkan dalam penjelasan berikut: Pertama Aqidah Yaitu: Meyakini Rukun-Rukun (Pilar-Pilar) Iman yang enam: 1- Beriman kepada Allah, diwujudkan dengan hal-hal berikut: a. Satu: Beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala, maksudnya: Allah adalah Tuhan, Pencipta, Pemilik dan Pengatur segala urusan. b. Beriman kepada uluhiyyah Allah Ta’ala, maksudnya: Allah Ta’ala sajalah Tuhan yang berhak disembah, dan semua sesembahan selain-Nya adalah batil. c. Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maksudnya: bahwasanya Allah Ta’ala memiliki nama-nama yang mulia, dan sifat-sifat yang sempurna serta agung sesuai dengan yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam . 2- Beriman kepada para Malaikat: Malaikat adalah hamba-hamba yang mulia. Mereka diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya, serta tunduk dan patuh menta’ati-Nya. Allah telah membebankan kepada mereka berbagai tugas. Diantara mereka adalah Jibril; ditugaskan menurunkan wahyu dari sisi Allah kepada nabi-nabi dan rasul-rasul yang dikehendaki-Nya. Mikail yang ditugaskan untuk mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan. Israfil yang bertugas meniupkan sangsakala di hari terjadinya kiamat. Dan Malaikat Maut, bertugas mencabut nyawa ketika ajal tiba. 3- Beriman kepada Kitab-kitab: Allah -Yang Maha Agung dan Mulia- telah menurunkan kepada para rasul-Nya kitab-kitab, mengandung petunjuk dan kebaikan. Yang kita ketahui di antara kitab-kitab itu adalah: a. Taurat, diturunkan Allah kepada Nabi Musa alaihis salam, ia merupakan kitab Bani Israil yang paling agung. b. Injil, diturunkan Allah kepada Nabi Isa alaihis salam. c. Zabur, diturunkan Allah kepada Daud alaihis salam. d. Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa ’alaihimas salam. e. Al Qur’an yang agung, diturunkan Allah Ta’ala kepada nabi-Nya Muhammad, penutup para nabi. Dengannya Allah telah menasakh (menghapus) semua kitab sebelumnya. Dan Allah telah menjamin untuk memelihara dan menjaganya; karena ia akan tetap menjadi hujjah atas semua makhluk, sampai hari kiamat. 4- Beriman kepada para rasul: Allah telah mengutus para rasul kepada makhluk-Nya. Rasul pertama adalah Nuh dan yang terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan semua rasul itu adalah manusia biasa, tidak memiliki sedikitpun sifat-sifat ketuhanan. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang telah dimuliakan dengan kerasulan. Dan Allah telah mengakhiri semua syari’at dengan syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh manusia. Maka tidak ada lagi nabi sesudahnya. 5- Beriman kepada hari akhirat: Yaitu hari kiamat, tidak ada hari lagi setelahnya, Ketika Allah membangkitkan manusia dalam keadaan hidup untuk kekal di tempat yang penuh kenikmatan atau di tempat siksaan yang amat pedih. Beriman kepada Hari Akhir meliputi beriman kepada semua yang akan terjadi setelah mati, yaitu: ujian kubur, kenikmatan dan siksaannya, serta apa yang akan terjadi setelah itu, seperti kebangkitan dan hisab, kemudian surga atau neraka. 6- Beriman kepada Takdir: Takdir artinya: beriman bahwasanya Allah telah mentaqdirkan semua yang ada dan menciptakan seluruh makhluk sesuai dengan ilmu-Nya yang terdahulu, dan menurut kebijaksanaan-Nya. Maka segala sesuatu telah diketahui oleh Allah, serta telah pula tertulis disisi-Nya, dan Dialah yang telah menghendaki dan menciptakannya. Kedua Rukun-rukun (Pilar-Pilar) Islam Islam dibangun di atas lima rukun. Seseorang tidak akan menjadi muslim yang sebenarnya hingga dia mengimani dan melaksanakannya, yaitu: Rukun pertama: Syahadat (bersaksi) bahwa, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah Rasulullah. Syahadat ini merupakan kunci Islam dan pondasi bangunannya. Makna syahadat la ilaha illallah ialah: tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah saja, Dialah ilah yang hak, sedangkan ilah selainnya adalah batil. Dan ilah itu artinya: sesuatu yang disembah. Dan makna syahadat: bahwasanya Muhammad itu adalah rasulullah ialah: membenarkan semua apa yang diberitakannya, dan menta’ati semua perintahnya serta menjauhi semua yang dilarang dan dicegahnya. Rukun kedua: Shalat: Yaitu lima shalat setiap hari, Allah syari’atkan sebagai hubungan antara seorang muslim dengan Tuhannya. Di dalamnya dia bermunajat dan berdo’a kepada-Nya, di samping agar menjadi pencegah bagi muslim dari perbuatan keji dan munkar. Dan Allah telah menyiapkan bagi yang menunaikannya kebaikan dalam agama dan kemantapan iman serta ganjaran, baik cepat maupun lambat. Maka dengan demikian seorang hamba akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kenyamanan raga yang akan membuatnya bahagia di dunia dan akhirat. Rukun ketiga: Zakat Yaitu: sedekah yang dibayar oleh orang yang memiliki harta sampai nisab (kadar tertentu) setiap tahun, kepada yang berhak menerimanya seperti orang-orang fakir dan lainnya, di antara yang berhak menerima zakat. Dan zakat itu tidak diwajibkan atas orang fakir yang tidak memiliki nisab, tapi hanya diwajibkan atas orang-orang kaya untuk menyempurnakan agama dan islam mereka, meningkatkan kondisi dan akhlak mereka, menolak segala bala dari mereka dan harta mereka, mensucikan mereka dari dosa, di samping sebagai bantuan bagi orang-orang yang membutuhkan dan fakir di antara mereka, serta untuk memenuhi kebutuhan keseharian mereka, sementara zakat hanyalah merupakan bagian kecil sekali dari jumlah harta dan rizki yang diberikan Allah kepada mereka. Rukun keempat: Puasa Yaitu selama satu bulan saja setiap tahun, pada bulan Ramadhan yang mulia, yakni bulan kesembilan dari bulan-bulan Hijriah. Kaum muslimin secara keseluruhan serempak meninggalkan kebutuhan-kebutuhan pokok mereka; makan, minum dan jima’, di siang hari; mulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam. Dan semua itu akan diganti oleh Allah bagi mereka -berkat karunia dan kemurahannya- dengan penyempurnaan agama dan iman mereka, serta peningkatan kesempurnaan diri, dan banyak lagi ganjaran dan kebaikan lainnya; baik, di dunia maupun di akhirat yang telah dijanjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa. Rukun kelima: Haji Yaitu menuju Masjidil haram untuk melakukan ibadah tertentu. Allah mewajibkannya atas orang yang mampu sekali seumur hidup. Pada waktu itu kaum muslimin dari segala penjuru berkumpul di tempat yang paling mulia di muka bumi ini, menyembah Tuhan Yang Satu, memakai pakaian yang sama, tidak ada perbedaan antara pemimpin dan yang dipimpin, antara si kaya dan si fakir dan antara yang berkulit putih dan berkulit hitam. Mereka semua melaksanakan bentuk-bentuk ibadah tertentu, yang terpenting di antaranya adalah: Wukuf di padang Arafah, thawaf di Ka’bah yang mulia, kiblatnya kaum muslimin, dan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah. Dan di dalam pelaksanan haji itu terdapat manfaat-manfaat yang tidak terhingga banyaknya, baik dari segi agama maupun dunia. Ketiga Selanjutnya, Islam juga telah mengatur kehidupan pemeluknya secara individu dan kelompok, dengan konsep yang menjamin kebahagiaan hidup mereka dunia dan akhirat. Islam membolehkan bahkan mendorong mereka untuk nikah, dan sebaliknya mengharamkan atau melarang perbuatan zina, sodomi dan segala bentuk prilaku kotor lainnya. Ia mewajibkan menjalin hubungan antar kerabat, mengasihi orang-orang fakir dan miskin serta menyantuni mereka, sebagaimana Islam juga mewajibkan dan mendorong untuk berakhlak mulia, serta mengharamkan dan melarang segala bentuk moral yang hina. Islam membolehkan bagi mereka usaha yang baik melalui perdagangan, persewaan dan semacamnya, serta mengharamkan praktek riba, segala bentuk perdagangan yang terlarang dan semua yang mengandung unsur penipuan atau pengelabuan. Sebagaimana Islam juga memperhatikan perbedaan manusia dalam konsisten terhadap ajarannya dan memelihara hak-hak orang lain, untuk itu ditetapkan sanksi-sanksi yang mencegah untuk terjadinya berbagai pelanggaran terhadap hak-hak Allah seperti: murtad, berzina, meminum khamar dan semacamnya, begitu juga ditetapkan sanksi-sanksi yang mencegah akan terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak sesama manusia, seperti membunuh, mencuri, menuduh orang lain berbuat zina, atau menganiaya dengan memukul atau menyakiti. Sanksi-sanksi tersebut sangat sesuai dengan bentuk kejahatannya tanpa berlebih-lebihan. Sebagaimana Islam juga telah mengatur dan memberi batasan terhadap hubungan antara rakyat dan penguasa, dengan mewajibkan rakyat untuk ta’at selama bukan dalam maksiat kepada Allah, dan mengharamkan kepada mereka memberontak atau menentang, karena bisa menimbulkan kerusakan-kerusakan secara umum atau khusus. Sebagai penutup, dapat kita katakan bahwa Islam telah merangkum ajaran yang membangun dan menciptakan hubungan yang benar dan amalan yang tepat antara hamba dan Tuhannya dan antara seseorang dengan masyarakatnya dalam segala urusan. Maka tak satupun kebaikan, baik itu dari segi akhlak maupun mu’amalat, melainkan Islam telah membimbing dan mendorong ummat untuk melaksanakannya, dan sebaliknya tak satupun keburukan dalam hal akhlak ataupun mu’amalat melainkan Islam telah mencegah dan melarang ummat untuk melakukannya. Ini semua membuktikan kesempurnaan dan keindahan agama ini, dalam seluruh sisi dan bagiannya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.