Minggu, 29 April 2012

Ketika Nabi Tersenyum

Saat menikahkan putri bungsunya, Sayyidah Fatimah Az Zahrah, dengan sahabat Ali bin Abi Thalib, Baginda Nabi Muhammad SAW tersenyum lebar. Itu merupakan peristiwa yang penuh kebahagiaan. Hal serupa juga diperlihatkan Rasulullah SAW pada peristiwa Fathu Makkah, pembebasan Makkah, karena hari itu merupakan hari kemenangan besar bagi kaum muslimin. “Hari itu adalah hari yang penuh dengan senyum panjang yang terukir dari bibir Rasulullah SAW serta bibir seluruh kaum muslimin” tulis Ibnu Hisyam dalam kita As Sirah Nabawiyyah. Rasulullah SAW adalah pribadi yang lembut dan penuh senyum. Namun, beliau tidak memberi senyum kepada sembarang orang. Demikian istimewanya senyum Rasul sampai-sampai Abu Bakar dan Umar, dua sahabat utama beliau, sering terperangah dan memperhatikan arti senyum tersebut. Misalnya mereka heran melihat Rasul tertawa saat berada di Muzdalifah di suatu akhir malam. “Sesungguhnya Tuan tidak biasa tertawa pada saat seperti ini,” kata Umar. “Apa yang menyebabkan Tuan tertawa?” Pada saat seperti itu, akhir malam, Nabi biasanya berdoa dengan khusyu’. Menyadari senyuman beliau tidak sembarangan, bahkan mengandung makna tertentu, Umar berharap, “Semoga Allah menjadikan Tuan tertawa sepanjang umur”. Atas pertanyaan diatas, Rasul menjawab, “Ketika iblis mengetahui bahwa Allah mengabulkan doaku dan mengampuni umatku, dia memungut pasir dan melemparkannya kekepalanya, sambil berseru, ‘celaka aku, binasa aku!’ Melihat hal itu aku tertawa.” (HR Ibnu Majah) Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menulis, apabila Rasul dipanggil, beliau selalu menjawab, “Labbaik”. Ini menunjukkan betapa beliau sangat rendah hati. Begitu pula, Rasul belum pernah menolak seseorang dengan ucapan “tidak” bila diminta sesuatu. Bahkan ketika tak punya apa-apa, beliau tidak pernah menolak permintaan seseorang. “Aku tidak mempunyai apa-apa,” kata Rasul, “Tapi, belilah atas namaku. Dan bila yang bersangkutan datang menagih, aku akan membayarnya.” Banyak hal yang bisa membuat Rasul tertawa tanpa diketahui sebab musababnya. Hal itu biasanya berhubungan dengan turunnya wahyu Allah. Misalnya, ketika beliau sedang duduk-duduk dan melihat seseorang sedang makan. Pada suapan terakhir orang itu mengucapkan. “Bismillahi fi awalihi wa akhirihi.” Saat itu beliau tertawa. Tentu saja orang itu terheran-heran. Keheranan itu dijawab beliau dengan bersabda, “Tadi aku lihat setan ikut makan bersama dia. Tapi begitu dia membaca basmalah, setan itu memuntahkan makanan yang sudah ditelannya.” Rupanya orang itu tidak mengucapkan basmalah ketika mulai makan. Suatu hari Umar tertegun melihat senyuman Nabi. Belum sempat dia bertanya, Nabi sudah mendahului bertanya, “Ya Umar, tahukah engkau mengapa aku tersenyum?” “Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,” jawab Umar. “Sesungguhnya Allah memandang kepadamu dengan kasih sayang dan penuh rahmat pada malam hari Arafat, dan menjadikan kamu sebagai kunci Islam,” sabda beliau. Kesaksian Anggota Tubuh Rasul SAW bahkan sering membalas sindiran orang dengan senyuman. Misalnya ketika seorang Badui yang ikut mendengarkan taushiyah beliau tiba-tiba nyeletuk, “Ya Rasul, orang itu pasti orang Quraisy atau Anshar, karena mereka gemar bercocok tanam, sedang kami tidak.” Saat itu Rasul tengah menceritakan dialog antara seorang penghuni surga dan Allah SWT yang mohon agar diizinkan bercocok tanam di surga. Allah SWT mengingatkan bahwa semua yang diinginkannya sudah tersedia di surga. Karena sejak di dunia punya hobi bercocok tanam, iapun lalu mengambil beberapa biji-bijian, kemudian ia tanam. Tak lama kemudian biji itu tumbuh menjadi pohon hingga setinggi gunung, berbuah, lalu dipanenkan. Lalu Allah SWT berfirman. “Itu tidak akan membuatmu kenyang, ambillah yang lain.” Ketika itulah si Badui menyeletuk, “Pasti itu orang Quraisy atau Anshar. Mereka gemar bercocok tanam, kami tidak.” Mendengar itu Rasul tersenyum, sama sekali tidak marah. Padahal, beliau orang Quraisy juga. Suatu saat justru Rasulullah yang bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian mengapa aku tertawa?.” “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,” jawab para sahabat. Maka Rasul pun menceritakan dialog antara seorang hamba dan Allah SWT. Orang itu berkata, “Aku tidak mengizinkan saksi terhadap diriku kecuali aku sendiri.” Lalu Allah SWT menjawab, “Baiklah, cukup kamu sendiri yang menjadi saksi terhadap dirimu, dan malaikat mencatat sebagai saksi.” Kemudia mulut orang itu dibungkam supaya diam, sementara kepada anggota tubuhnya diperintahkan untuk bicara. Anggota tubuh itupun menyampaikan kesaksian masing-masing. Lalu orang itu dipersilahkan mempertimbangkan kesaksian anggota-anggota tubuhnya. Tapi orang itu malah membentak, “Pergi kamu, celakalah kamu!” Dulu aku selalu berusaha, berjuang, dan menjaga kamu baik-baik,” katanya. Rasulpun tertawa melihat orang yang telah berbuat dosa itu mengira anggota tubuhnya akan membela dan menyelamatkannya. Dia mengira, anggota tubuh itu dapat menyelamatkannya dari api neraka. Tapi ternyata anggota tubuh itu menjadi saksi yang merugikan, karena memberikan kesaksian yang sebenarnya (HR Anas bin Malik). Hal itu mengingatkan kita pada ayat 65 surah Yasin, yang maknanya, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” Sumber : Majalah Alkisah No.01/Tahun VII/12

Rabu, 25 April 2012

R.A. KARTINI

PUISI KARTINI . Harum namanya ibu kartini berjuang untuk kaumnya perempuan, bukan untuk waria tulisannya indah penuh perjuangan habis gelap terbitlah terang begitu menusuk jantungku menghujam dalam hatiku Kenapa oh kenapa? tanggal 21 april saja, kau harus dikenang? Oh ibu yang harum namanya kenapa tak setiap waktu, kau dikenang, dan di maknai bahwa harkat wanita itu mulia dan sama dengan laki-laki kenapa? Oh ibu putri sejati emansipasimu sekarang tak bermakna sama batasannya beragam rupa ada yang lupa kalau dia seorang istri, bekerja di luar tanpa henti ada yang lupa dia seorang ibu, lupa memberi bayinya asi, dengan alasan kerja biar dapat gaji untuk bayi ada yang… Ah, ibu putri Indonesia begitulah adanya ada pula yang emansipasi menjadi TKI, dan bunuh diri karena membela diri oh ibu kartini, putri yang mulia, tak jua semua begitu banyak juga menjaga harkatnya nan mulia ada yang menjadi dewan, menteri, profesor, bahkan bisa menjadi presiden RI Oh ibu Kartini walau hari-hari aku tak bersanggul dan tak berkebaya sungguh aku akan meneruskan perjuanganmu… Oh ibu Kartini aku mau bernyanyi untuk mengenangmu (aku akan mengenangmu terus dan terus, tak hanya di 21 April) Ibu kita kartini putri sejati putri INDONESIA, harum namanya Wahai ibu kita kartini putri yang mulia sungguh besar cita-citanya bagi INDONESIA (Indah’kan? Walau Fals…) puisi tentang ibu kita kartini Kartini ku pahlawanku Tak henti – hentinya aku mengucap syukur karena telah memiliki sosok ibu sepertimu Kau rela memperjuangkan hidup dan matimu untuk melahirkanku kedunia ini Rela menjagaku selama 9bln meski masih dalam kandungan Dan rela menyitakan waktumu hanya untuk membesarkan dan mendidikku Ibu.. Kasih sayangmu tak kan bertepi Kepedulianmu selalu di hati Kau pelipur lara yang kan abadi Jiwaku hilang jika tanpamu Baktiku hanya untukmu Ketulusan hatiku kan ku lakukan hanya untuk membuatmu tersenyum Meski lakuku selalu membuatmu sedih Namun kau selalu mendoakan ku dalam setiap doa yang kau panjatkan Kasih sayangmu tak kan bisa di bayar dengan uang Kehadiranmu tak kan bisa di gantikan Kebahagiaanmu adalah obat untuk langkah hidupku Ibu.. kau selalu mengajarkan kebaikan untukku Kau selalu mengingatkan ku jika ku berlaku dan berucap salah Belaian kasihmu mampu mendamaikan hatiku Terima kasih atas semua yang telah kau berikan pada malaikat kecilmu ini Selamat hari ibu Semoga Tuhan selalu menjaga ibu

MENJADI UMAT TERBAIK

Manusia adalah wujud dari kemahasempurnaan Allah SWT yang menciptakan (al-Khaliq), yang mengadakan (al-Bari'), dan yang membentuk rupa (al-Mushawwir). Di samping kesempurnaan jasmani dan rohani, kapasitas intelektual adalah alasan penting mengapa manusia dipilih untuk menerima amanah sebagai khalifah di muka bumi. Kesempurnaan manusia adalah pada kemampuannya berpikir, menerima dan mengembangkan ilmu pengetahuan, memanfaatkan fakultas-fakultas yang dimilikinya, yaitu as-samu (pendengaran), al-bashar (penglihatan), dan al-fuad (hati). Menuntut ilmu adalah tugas pertama dan utama seorang anak manusia. Allah SWT telah mengajarkan nama-nama benda kepada Adam AS pada awal penciptaan sebagai landasan bagi penguasaan ilmu pengetahuan. (QS al-Baqarah [2]:31). Perintah membaca (iqra) dan menulis dengan pena (al-qalam) juga merupakan perintah pertama dari risalah kenabian. Wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah perintah membaca dan menulis. (QS al-Alaq [96]:1-5). Belajar, mencari, menguasai, dan mengembangkan ilmu pengetahuan adalah tugas yang pertama dan utama dari umat Muhammad SAW. Dengan bekal ilmu pengetahuan yang dimilikinya, manusia dapat memakmurkan bumi dan mencegahnya dari kerusakan. Di samping sebagai hamba dan wakil Allah SWT di muka bumi, umat Islam adalah umat terbaik (khaira ummah) karena mereka senantiasa memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah SWT. (QS Ali Imran [3]:110). Untuk dapat memelihara eksistensi dan kehormatannya sebagai umat yang terbaik, khaira ummah, the best nation of peoples for the people, umat Islam perlu terus-menerus belajar, beriman, dan beramal menyampaikan pesan-pesan Islam dengan contoh dan perbuatan serta tetap bersabar di dalam melaksanakannya. Pengetahuan yang mencerdaskan sekaligus mencerahkan tersebut diperoleh dengan menjelajahi dan mendalami ayat-ayat Allah SWT (the Spoken Verses) dan tanda-tanda di dalam ciptaan-Nya (the Creation Verses). Kemampuannya untuk menggunakan hati (zikir) dan nalar (pikir) di dalam menjelajahi tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah ciri utama dari seorang Muslim cendekia (ulul albab, men of understanding). Itu sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, pengikut, dan pewaris terbaiknya. (QS Ali Imran [3]: 190-191). Mengenai turunnya ayat ini, Abdullah Ibnu Umar RA menceritakan, dari Ummul Mu'minin Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW berdiri di dalam shalat malamnya dan menangis hingga janggutnya menjadi basah. Beliau menangis hingga air matanya membasahi lantai. Beliau kemudian berbaring dan bertumpu pada bagian sisinya seraya menangis. Ketika Bilal datang untuk mengingatkan waktu shalat Subuh, dia berkata, "Ya Rasulullah, apa gerangan yang membuatmu menangis, padahal Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang.” Beliau SAW berkata, "Ya Bilal, apa yang dapat menghalangi tangisku, ketika malam ini, ayat ini (QS Ali Imran [3]:190), diturunkan kepadaku. Celaka orang yang membaca ayat ini, tetapi tidak merenungkannya." Wallahu a'lam.

Selasa, 24 April 2012

USMAN BIN AFFAN

Utsman bin Affan dilahirkan 47 tahun sebelum hijrah (574 Masehi) dari seorang ayah bernama Abul-Ash bin Umayyah bin Abdus Syams bin Abdu Manaf bin Qusyayyi bin Kilab. Beliau masuk Islam karena ajakan Abu Bakar Al-Shiddiq. Sebagai sesama pedagang keduanya memang berteman dekat, kedekatan tersebut yang membuat Utsman akhirnya tertarik untuk mengikuti ajaran Rosulullah saw, sehingga dia juga termasuk golongan assabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam). Sebagai seorang kaya raya dan ahli ekonomi yang handal, kedermawanan Utsman juga tidak diragukan lagi. Sejarah mencatat bagaimana kedermawanan Ustman sangat membantu kehidupan masyarakat muslim pada masa itu. Dalam suatu kisah disebutkan ketika kaum muslimin hendak menghadapi perang Tabuk. Saat itu Rosulullah membutuhkan berbagai perlengkapan, logistik dan orang-orang untuk menjadi prajurit. Banyak orang yang menginginkan untuk menjadi syuhada dalam perang tersebut tetapi ditolak oleh Rosulullah karena memang kurangnya kendaraan dan logistik yang disebabkan masa paceklik yang sedang melanda jazirah Arab. Maka orang-orang tadi kembali pulang ke tempat masing-masing dengan mata yang berlinang. Pada saat itulah Rasulullah Saw naik ke atas mimbar. Beliau memuji Allah Swt, kemudian menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan segala kemampuan mereka dan menjanjikan mereka dengan balasan yang besar. Mengetahui adanya kesulitan tersebut, dengan segera Utsman berdiri dan berkata kepada Rosulullah Saw: “Aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah Saw turun satu anak tangga dari mimbarnya dan Beliau terus menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan apa yang mereka punya. Maka untuk kedua kalinya Utsman berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!” Wajah Rasul Saw menjadi cerah, kemudian Beliau turun satu anak tangga lagi dari mimbar dan Beliau masih saja menyerukan umat Islam untuk mengerahkan segala yang mereka miliki. Utsman untuk ketiga kalinya berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!” Pada saat itu Rasulullah Saw mengarahkan tangannya ke arah Utsman pertanda Beliau senang dengan apa yang telah dilakukan Utsman ra. Beliau pun bersabda: “Utsman setelah hari ini tidak akan pernah ada yang membahayakannya….” Belum lagi Rasulullah Saw turun dari mimbarnya, Utsman sudah berlari pulang ke rumah. Ia segera mengirimkan semua unta yang ia janjikan dan disertai dengan 1000 dinar emas. Begitu uang-uang dinar tadi diserahkan kepangkuan Rasulullah Saw, Beliau lalu membolak-balikkan uang dinar tersebut seraya bersabda: “Semoga Allah Swt akan mengampunimu, wahai Utsman atas sedekah yang kau berikan secara terang-terangan maupun sembunyi. Semoga Allah juga akan mengampuni segala sesuatu yang ada pada dirimu, dan apa yang telah Allah ciptakan hingga Hari Kiamat.” Utsman bin Affan diangkat menjadi Khalifah sepeninggal Umar bin Al-Khattab, yaitu tahun 24 H/644 M. Pada masa pemerintahannya banyak jasa yang dilakukan yaitu melakukan perluasan Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Utsman juga mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf. Kebijakan tersebut diambil karena wilayah Islam bertambah luas dan para qori pun tersebar di berbagai daerah, sehinga perbedaan bacaan pun terjadi yang diakibatkan berbedanya qiro‘at dari qori yang sampai pada mereka. Ketika terjadi perang di Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Irak, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat tersebut adalah Hudzaifah bin Yaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara membaca Al-Qur‘an. Sebagian bacaan itu tercampur dengan kesalahan tetapi masing-masing berbekal dan mempertahankan bacaannya. Bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat hal tersebut beliau melaporkannya kepada Khalifah Utsman. Para sahabat amat khawatir kalau perbedaan tersebut akan membawa perpecahan pada kaum muslimin. Mereka lalu sepakat menyalin lembaran pertama yang telah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar yang disimpan oleh istri Rasulullah, Hafsah binti Umar dan menyatukan umat Islam dengan satu bacaan yang tetap pada satu huruf. Selanjutnya Utsman mengirim surat pada Hafsah yang isinya: Kirimkanlah pada kami lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Qur‘an, kami akan menyalinnya dalam bentuk mushaf dan setelah selesai akan kami kembalikan kepada engkau. Kemudian Hafsah mengirimkannya kepada Utsman. Utsman memerintahkan para sahabat antara lain: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Az-Zubair, Sa‘ad bin Al-Ash dan Abdurahman bin Harist, untuk menyalin mushaf yang telah dipinjam. Khalifah Utsman juga berpesan kepada kaum Quraisy: bila kalian berbeda pendapat tentang hal Al-Qur‘an maka tulislah dengan ucapan lisan Quraisy karena Al-Qur‘an diturunkan di kaum Quraisy. Setelah mereka menyalin ke dalam beberapa mushaf, Utsman mengembalikan lembaran mushaf yang asli kepada Hafsah. Selanjutnya ia menyebarkan mushaf yang yang telah di salinnya ke seluruh daerah dan memerintahkan agar semua bentuk lembaran mushaf yang lain dibakar. Mushaf ditulis sebanyak lima buah, empat buah dikirimkan ke daerah-daerah Islam supaya disalin kembali dan supaya dipedomani, satu buah disimpan di Madinah untuk Khalifah Utsman sendiri dan mushaf ini disebut mushaf Al-Imam dan dikenal dengan mushaf Utsmani. Jadi langkah pengumpulan mushaf ini merupakan salah satu langkah strategis yang dilakukan pada zaman Khalifah Utsman dan belum dilakukan pada zaman Rasulullah saw. Ini menunjukkan bahwasanya hal-hal baik yang dilakukan setelah wafatnya Rasulullah saw juga dianggap perkara yang baik dalam agama dan bukan sesuatu yang sesat. Keinginan Khalifah Ustman agar kitab Al-Qur’an tidak mempunyai banyak versi bacaan, tercapai setelah kitab yang berdasarkan pada dialek masing-masing kabilah semua dibakar, dan yang tersisa hanyalah mushaf yang telah disesuaikan dengan naskah Al-Qur’an aslinya. Khalifah Utsman wafat sebagai syahid pada hari Jum’at tanggal 18 Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah Saw perihal kematian Utsman yang syahid nantinya. Ia dimakamkan di kuburan Baqi yang letaknya berdekatan dengan masjid Nabawi.

ALI BIN ABI THALIB

Ali bin Abi Thalib dilahirkan tanggal 13 Rajab tahun ke 23 sebelum Hijriah/ tahun 599 M. Ayahnya bernama Abu Thalib bin Abdul Muthallib bin Hasyim, sedangkan ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim. Ali kemudian dijadikan anak angkat Nabi SAW karena pernikahan beliau dengan Siti Khadijah tidak dikaruniai anak laki-laki sekaligus sebagai wujud terimakasih Nabi SAW kepada pamannya Abu Thalib yang juga pernah mengasuhnya waktu kecil. Konsistensi dan totalitas Ali dalam mendukung dakwah nabi terlihat dari sikapnya sebagai orang yang pertama kali mempercayai wahyu-wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW. Saat itu usia Ali baru sekitar 10 tahun. Sikap seperti ini sungguh sulit pada masa itu mengingat sudut pandang, pemikiran, dan pengetahuan suku Quraisy yang masih dalam masa kegelapan (jahiliyah). Sikap yang diambil Ali juga bukan tanpa resiko. Cercaan, hinaan bahkan ancaman nyawa selalu mengintai. Ada sebuah kisah pengorbanan totalitas yang pernah dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Ketika Rasul Allah s.a.w. mendapatkan perintah untuk hijrah ke Madinah. Di satu malam yang gelap-gulita, ketika komplotan kafir Quraiys mengepung kediaman Rasul Allah s.a.w. dengan tujuan hendak membunuh beliau, manakala beliau meninggalkan rumah. Dalam peristiwa ini Ali bin Abi Thalib r.a. memiliki peranan besar: Ia diminta oleh Rasul Allah s.a.w. supaya tidur di atas pembaringan beliau dan menutupi tubuhnya dengan selimut beliau guna mengelabui mata orang-orang Quraiys. Tanpa ragu dan tawar-menawar lagi ia menyanggupinya. Ali berkata, “Baiklah, aku patuh dan kutaati perintah engkau. Aku rela menebus keselamatan engkau dengan nyawaku, ya Rasulullah!” Ali bin Abi Thalib r.a. segera menghampiri pembaringan Rasulullah s.a.w. Kemudian berselunjur mengenakan selimut beliau untuk menutupi tubuhnya. Pada saat itu orang-orang kafir Quraiys sudah mulai berdatangan di sekitar rumah Rasulullah s.a.w. dan mengepungnya dari segala jurusan. Dengan perlindungan Allah s.w.t. dan sambil membaca Surat Yaa Sin ayat 9, beliau keluar tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang mengepung dan mengintai. Orang-orang Quraiys itu menduga, bahwa orang yang sedang berbaring dan berselimut itu pasti Nabi Muhammad s.a.w. Mereka yang mengepung itu mewakili suku-suku qabilah Quraiys yang telah bersepakat hendak membunuh Nabi Muhammad s.a.w. dengan pedang secara serentak. Dengan cara demikian itu, tidak mungkin Bani Hasyim dapat menuntut balas. Ali bin Abi Thalib r.a. mengerti benar kemungkinan apa yang akan diperbuat orang-orang kafir Quraiys terhadap dirinya karena ia tidur di pembaringan Rasul Allah s.a.w. Hal itu sama sekali tidak membuatnya sedih atau takut. Dengan kesabaran yang luar biasa, ia berserah diri kepada Allah s.w.t. Ia yakin, bahwa Allah yang menentukan segala-galanya. Menjelang subuh, Ali bin Abi Thalib r.a. bangun. Gerombolan Quraiys terus menyerbu ke dalam rumah. Dengan suara membentak mereka bertanya: “Mana Muhammad? Mana Muhammad?” “Aku tak tahu di mana Muhammad berada!” jawab Ali bin Abi Thalib r.a. dengan tenang. Gerombolan Quraiys itu segera mencari-cari ke sudut-sudut rumah. Usaha mereka sia-sia belaka. Gerombolan itu kecewa benar. Di dalam hati mereka bertanya-tanya: “Kemana ia pergi?” Dalam suasana gaduh, Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya: “Apa maksud kalian?” “Mana, Muhammad? Mana Muhammad?” mereka mengulang-ulang pertanyaan semula. “Apakah kalian mengangkatku menjadi pengawasnya?” ujar Ali bin Abi Thalib r.a. dengan nada memperolok-olok. “Bukankah kalian sendiri berniat mengeluarkannya dari negeri ini? Sekarang ia sudah keluar meninggalkan kalian!” Ucapan Ali bin Abi Thalib r.a. sungguh-sungguh menggambarkan ketabahan dan keberanian hatinya. Cahaya pedang terhunus yang berkilauan, sama sekali tidak dihiraukan, bahkan orang-orang Quraiys yang kalap itu dicemoohkan. Seandainya ada seorang saja dari gerombolan itu mengayunkan pedang ke arah Ali r.a., entahlah apa yang terjadi. Tetapi Allah tidak menghendaki hal itu. Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi saw dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra yang banyak dinanti para pemuda. Nabi saw menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga yang se-rumpun (Bani Hasyim), yang paling dulu mempercayai ke-nabi-an beliau (setelah Khadijah), dan yang selalu belajar di bawah Nabi. Setelah pernikahannya dengan Fatimah Az-Zahra, Ali tinggal bersama isterinya di sebuah rumah yang sungguh amat sederhana. Sebagian besar perkakas rumah tangganya terbuat dari tembikar (tanah Hat). Namun, Rasulullah s.a.w. merasa bangga, tenang dan bahagia serta penuh kasih sayang sebagai ayah kepada puteri belahan hati beliau sendiri. Suasana yang penuh kesejahteraan dan keserasian itu lebih disemarakkan lagi oleh kelahiran dua orang cucu beliau s.a.w., Al-Hasan dan Al-Husain. Di dalam rumah yang diliputi suasana kebahagiaan itu Rasulullah saw sering duduk berbincang-bincang dengan mereka. Ali duduk di sebelah kanan dan Fatimah Az-Zahra duduk di sebelah kiri beliau. Sedangkan dua orang cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husain duduk di atas pangkuan beliau. Secara bergantian beliau menciumi kedua orang cucunya itu. Beliau mendoakan keberkahan bagi mereka semua dan mohon kepada Allah Swt agar berkenan menjauhkan mereka dari segala macam noda dan kotoran hidup serta mensucikan mereka sesuci-sucinya. Setelah Rasulullah saw wafat, tampuk khilafah dipegang oleh Abu Bakar yang diteruskan oleh Umar kemudian Utsman. Khalifah Utsman syahid dibunuh oleh para pemberontak. Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan ini mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Akibat pemberontakan yang waktu itu menguasai Madinah, maka tidak pilihan lain selain mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Ali kemudian menjadi Khalifah yang keempat menggantikan Khalifah Utsman bin Affan. Ali bin Abi Thalib meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij saat mengimami salat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah.

ABU HURAIRAH

Abu Hurairah Maret 8, 2012 · Disimpan dalam Biografi Sahabat Nabi · Tagged Abu Hurairah, Perawi terbanyak, Sahabat Nabi Namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr bin Tsalabah bin Salim bin Fahmi bin Ghanan bin Daws Al-Yaman. Beliau lahir tahun 21 sebelum hijrahnya Nabi saw ke Madinah bersamaan dengan tahun 602 Masehi. Dia lebih dikenal dengan nama Abu Hurairah karena memiliki seekor kucing kecil yang selalu diajaknya bermain-main pada siang hari atau saat menggembalakan kambing-kambing milik keluarga dan kerabatnya. Diriwayatkan bahwa Nabi saw pernah memanggilnya dengan sebutan, “Wahai, Abu Hir”. Abu Hurairah masuk Islam melalui pemimpin kaumnya yaitu Thufail bin Amr, seorang pemimpin Bani Daus. Thufail kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad saw dan menjadi muslim. Ia lalu menyeru kepada kaumnya untuk masuk Islam. Akan tetapi sangat sedikit kaumnya yang masuk Islam, dan di antara yang sedikit itu adalah Abu Hurairah. Setelah masuk Islam, Abu Hurairah sangat berkeinginan agar ibunya juga masuk Islam. Abu Hurairah lalu datang menemui Rasulullah seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah, ibu saya menolak masuk Islam dan setiap kali saya mengajak masuk Islam, setiap itu pula saya mendengar caci makinya. Doakanlah ibu saya agar mendapat hidayah Allah.” Rasulullah pun kemudian berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.” Abu Hurairah gembira mendengar doa Rasulullah saw. Lalu beliau kembali ke rumahnya dan datang menemui ibunya. Ibunya memanggil, “Wahai Abu Hurairah !” Abu Hurairah mengira rentetan caci maki akan didengarnya. Dia menjawab “Ya, Bu..” Ternyata ibunya berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Abu Hurairah tersenyum dan sangat gembira. Lalu beliau kembali menemui Rasulullah dan mengatakan, “Alangkah bahagianya aku wahai Rasulullah! Doa engkau dikabulkan”. Rasulullah kemudian mengucapkan hamdalah dan pujian atas terkabulnya doa. Abu Hurairah lantas mengatakan, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar saya dan ibu saya mencintai orang-orang mukmin dan agar orang-orang mukmin mencintai saya dan ibu saya” Maka Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah, semoga kedua hambaMu ini dicintai dan mencintai orang mukmin” Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah itu tidak ada seorang mukmin pun yang mendengar atau melihatku, melainkan ia kemudian mencintaiku.” Abu Hurairah merupakan sahabat Nabi yang senantiasa mendampingi beliau dimanapun beliau berada selama empat tahun. Dalam waktu yang sangat singkat tersebut, Abu Hurairah banyak menyerap Ilmu dan menghafal hadits-hadits dari Rasulullah saw. Abu Hurairah mengisahkan, “Orang-orang banyak yang heran, bagaimana aku dapat meriwayatkan hadits begitu banyak. Sebenarnya ketika saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin banyak yang berdagang dan saudara-saudara dari kaum Anshar sibuk berladang, aku selalu di samping Rasulullah saw. Aku termasuk golongan Ashhabus Suffah dan aku tidak begitu menghiraukan pencarian nafkah karena aku selalu merasa puas dengan sedikit makanan yang diberikan Rasulullah saw kepadaku. Aku pernah memberitahukan kepada Rasulullah tentang hafalanku yang lemah, lalu beliau bersabda, ‘Hamparkan kain selimutmu!’ Aku pun melakukan perintahnya, beliau lalu membuat tanda-tanda di kain selimut itu, kemudian bersabda, ‘Sekarang balutkanlah kain selimut ini di sekeliling dadamu.’ Aku pun membalut dadaku dengan kain itu. Sejak saat itu aku tidak pernah lupa lagi dengan segala sesuatu yang ingin aku hafalkan.” Abu Hurairah meriwayatkan hadits Rasulullah sebanyak 5374 hadits. Dari jumlah tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim secara bersama sebanyak 326 hadits. Sedangkan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tanpa Imam Muslim sebanyak 93 hadits dan diriwayatkan oleh Imam Muslim tanpa Imam Bukhari 98 hadits. Selain meriwayatkan dari Rasulullah saw, beliau juga meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar bin Khathab, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, Aisyah, Bushrah Al-Ghifari, dan Ka’ab Al-Ahbar Radhiyallahu ‘anhum. Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, dan beliau adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan beribu-ribu hadits. Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah mengatakan,”Abu Hurairah ra adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadits pada zamannya (masa sahabat).” Abu Hurairah meninggal pada tahun 57 Hijriyah/678 M. Semoga jasanya yang besar dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi senantiasa dikenang oleh kaum Muslimin dan untuk kepentingan Islam.