Selasa, 24 April 2012

USMAN BIN AFFAN

Utsman bin Affan dilahirkan 47 tahun sebelum hijrah (574 Masehi) dari seorang ayah bernama Abul-Ash bin Umayyah bin Abdus Syams bin Abdu Manaf bin Qusyayyi bin Kilab. Beliau masuk Islam karena ajakan Abu Bakar Al-Shiddiq. Sebagai sesama pedagang keduanya memang berteman dekat, kedekatan tersebut yang membuat Utsman akhirnya tertarik untuk mengikuti ajaran Rosulullah saw, sehingga dia juga termasuk golongan assabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam). Sebagai seorang kaya raya dan ahli ekonomi yang handal, kedermawanan Utsman juga tidak diragukan lagi. Sejarah mencatat bagaimana kedermawanan Ustman sangat membantu kehidupan masyarakat muslim pada masa itu. Dalam suatu kisah disebutkan ketika kaum muslimin hendak menghadapi perang Tabuk. Saat itu Rosulullah membutuhkan berbagai perlengkapan, logistik dan orang-orang untuk menjadi prajurit. Banyak orang yang menginginkan untuk menjadi syuhada dalam perang tersebut tetapi ditolak oleh Rosulullah karena memang kurangnya kendaraan dan logistik yang disebabkan masa paceklik yang sedang melanda jazirah Arab. Maka orang-orang tadi kembali pulang ke tempat masing-masing dengan mata yang berlinang. Pada saat itulah Rasulullah Saw naik ke atas mimbar. Beliau memuji Allah Swt, kemudian menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan segala kemampuan mereka dan menjanjikan mereka dengan balasan yang besar. Mengetahui adanya kesulitan tersebut, dengan segera Utsman berdiri dan berkata kepada Rosulullah Saw: “Aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah Saw turun satu anak tangga dari mimbarnya dan Beliau terus menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan apa yang mereka punya. Maka untuk kedua kalinya Utsman berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!” Wajah Rasul Saw menjadi cerah, kemudian Beliau turun satu anak tangga lagi dari mimbar dan Beliau masih saja menyerukan umat Islam untuk mengerahkan segala yang mereka miliki. Utsman untuk ketiga kalinya berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!” Pada saat itu Rasulullah Saw mengarahkan tangannya ke arah Utsman pertanda Beliau senang dengan apa yang telah dilakukan Utsman ra. Beliau pun bersabda: “Utsman setelah hari ini tidak akan pernah ada yang membahayakannya….” Belum lagi Rasulullah Saw turun dari mimbarnya, Utsman sudah berlari pulang ke rumah. Ia segera mengirimkan semua unta yang ia janjikan dan disertai dengan 1000 dinar emas. Begitu uang-uang dinar tadi diserahkan kepangkuan Rasulullah Saw, Beliau lalu membolak-balikkan uang dinar tersebut seraya bersabda: “Semoga Allah Swt akan mengampunimu, wahai Utsman atas sedekah yang kau berikan secara terang-terangan maupun sembunyi. Semoga Allah juga akan mengampuni segala sesuatu yang ada pada dirimu, dan apa yang telah Allah ciptakan hingga Hari Kiamat.” Utsman bin Affan diangkat menjadi Khalifah sepeninggal Umar bin Al-Khattab, yaitu tahun 24 H/644 M. Pada masa pemerintahannya banyak jasa yang dilakukan yaitu melakukan perluasan Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Utsman juga mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf. Kebijakan tersebut diambil karena wilayah Islam bertambah luas dan para qori pun tersebar di berbagai daerah, sehinga perbedaan bacaan pun terjadi yang diakibatkan berbedanya qiro‘at dari qori yang sampai pada mereka. Ketika terjadi perang di Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Irak, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat tersebut adalah Hudzaifah bin Yaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara membaca Al-Qur‘an. Sebagian bacaan itu tercampur dengan kesalahan tetapi masing-masing berbekal dan mempertahankan bacaannya. Bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat hal tersebut beliau melaporkannya kepada Khalifah Utsman. Para sahabat amat khawatir kalau perbedaan tersebut akan membawa perpecahan pada kaum muslimin. Mereka lalu sepakat menyalin lembaran pertama yang telah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar yang disimpan oleh istri Rasulullah, Hafsah binti Umar dan menyatukan umat Islam dengan satu bacaan yang tetap pada satu huruf. Selanjutnya Utsman mengirim surat pada Hafsah yang isinya: Kirimkanlah pada kami lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Qur‘an, kami akan menyalinnya dalam bentuk mushaf dan setelah selesai akan kami kembalikan kepada engkau. Kemudian Hafsah mengirimkannya kepada Utsman. Utsman memerintahkan para sahabat antara lain: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Az-Zubair, Sa‘ad bin Al-Ash dan Abdurahman bin Harist, untuk menyalin mushaf yang telah dipinjam. Khalifah Utsman juga berpesan kepada kaum Quraisy: bila kalian berbeda pendapat tentang hal Al-Qur‘an maka tulislah dengan ucapan lisan Quraisy karena Al-Qur‘an diturunkan di kaum Quraisy. Setelah mereka menyalin ke dalam beberapa mushaf, Utsman mengembalikan lembaran mushaf yang asli kepada Hafsah. Selanjutnya ia menyebarkan mushaf yang yang telah di salinnya ke seluruh daerah dan memerintahkan agar semua bentuk lembaran mushaf yang lain dibakar. Mushaf ditulis sebanyak lima buah, empat buah dikirimkan ke daerah-daerah Islam supaya disalin kembali dan supaya dipedomani, satu buah disimpan di Madinah untuk Khalifah Utsman sendiri dan mushaf ini disebut mushaf Al-Imam dan dikenal dengan mushaf Utsmani. Jadi langkah pengumpulan mushaf ini merupakan salah satu langkah strategis yang dilakukan pada zaman Khalifah Utsman dan belum dilakukan pada zaman Rasulullah saw. Ini menunjukkan bahwasanya hal-hal baik yang dilakukan setelah wafatnya Rasulullah saw juga dianggap perkara yang baik dalam agama dan bukan sesuatu yang sesat. Keinginan Khalifah Ustman agar kitab Al-Qur’an tidak mempunyai banyak versi bacaan, tercapai setelah kitab yang berdasarkan pada dialek masing-masing kabilah semua dibakar, dan yang tersisa hanyalah mushaf yang telah disesuaikan dengan naskah Al-Qur’an aslinya. Khalifah Utsman wafat sebagai syahid pada hari Jum’at tanggal 18 Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah Saw perihal kematian Utsman yang syahid nantinya. Ia dimakamkan di kuburan Baqi yang letaknya berdekatan dengan masjid Nabawi.

ALI BIN ABI THALIB

Ali bin Abi Thalib dilahirkan tanggal 13 Rajab tahun ke 23 sebelum Hijriah/ tahun 599 M. Ayahnya bernama Abu Thalib bin Abdul Muthallib bin Hasyim, sedangkan ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim. Ali kemudian dijadikan anak angkat Nabi SAW karena pernikahan beliau dengan Siti Khadijah tidak dikaruniai anak laki-laki sekaligus sebagai wujud terimakasih Nabi SAW kepada pamannya Abu Thalib yang juga pernah mengasuhnya waktu kecil. Konsistensi dan totalitas Ali dalam mendukung dakwah nabi terlihat dari sikapnya sebagai orang yang pertama kali mempercayai wahyu-wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW. Saat itu usia Ali baru sekitar 10 tahun. Sikap seperti ini sungguh sulit pada masa itu mengingat sudut pandang, pemikiran, dan pengetahuan suku Quraisy yang masih dalam masa kegelapan (jahiliyah). Sikap yang diambil Ali juga bukan tanpa resiko. Cercaan, hinaan bahkan ancaman nyawa selalu mengintai. Ada sebuah kisah pengorbanan totalitas yang pernah dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Ketika Rasul Allah s.a.w. mendapatkan perintah untuk hijrah ke Madinah. Di satu malam yang gelap-gulita, ketika komplotan kafir Quraiys mengepung kediaman Rasul Allah s.a.w. dengan tujuan hendak membunuh beliau, manakala beliau meninggalkan rumah. Dalam peristiwa ini Ali bin Abi Thalib r.a. memiliki peranan besar: Ia diminta oleh Rasul Allah s.a.w. supaya tidur di atas pembaringan beliau dan menutupi tubuhnya dengan selimut beliau guna mengelabui mata orang-orang Quraiys. Tanpa ragu dan tawar-menawar lagi ia menyanggupinya. Ali berkata, “Baiklah, aku patuh dan kutaati perintah engkau. Aku rela menebus keselamatan engkau dengan nyawaku, ya Rasulullah!” Ali bin Abi Thalib r.a. segera menghampiri pembaringan Rasulullah s.a.w. Kemudian berselunjur mengenakan selimut beliau untuk menutupi tubuhnya. Pada saat itu orang-orang kafir Quraiys sudah mulai berdatangan di sekitar rumah Rasulullah s.a.w. dan mengepungnya dari segala jurusan. Dengan perlindungan Allah s.w.t. dan sambil membaca Surat Yaa Sin ayat 9, beliau keluar tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang mengepung dan mengintai. Orang-orang Quraiys itu menduga, bahwa orang yang sedang berbaring dan berselimut itu pasti Nabi Muhammad s.a.w. Mereka yang mengepung itu mewakili suku-suku qabilah Quraiys yang telah bersepakat hendak membunuh Nabi Muhammad s.a.w. dengan pedang secara serentak. Dengan cara demikian itu, tidak mungkin Bani Hasyim dapat menuntut balas. Ali bin Abi Thalib r.a. mengerti benar kemungkinan apa yang akan diperbuat orang-orang kafir Quraiys terhadap dirinya karena ia tidur di pembaringan Rasul Allah s.a.w. Hal itu sama sekali tidak membuatnya sedih atau takut. Dengan kesabaran yang luar biasa, ia berserah diri kepada Allah s.w.t. Ia yakin, bahwa Allah yang menentukan segala-galanya. Menjelang subuh, Ali bin Abi Thalib r.a. bangun. Gerombolan Quraiys terus menyerbu ke dalam rumah. Dengan suara membentak mereka bertanya: “Mana Muhammad? Mana Muhammad?” “Aku tak tahu di mana Muhammad berada!” jawab Ali bin Abi Thalib r.a. dengan tenang. Gerombolan Quraiys itu segera mencari-cari ke sudut-sudut rumah. Usaha mereka sia-sia belaka. Gerombolan itu kecewa benar. Di dalam hati mereka bertanya-tanya: “Kemana ia pergi?” Dalam suasana gaduh, Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya: “Apa maksud kalian?” “Mana, Muhammad? Mana Muhammad?” mereka mengulang-ulang pertanyaan semula. “Apakah kalian mengangkatku menjadi pengawasnya?” ujar Ali bin Abi Thalib r.a. dengan nada memperolok-olok. “Bukankah kalian sendiri berniat mengeluarkannya dari negeri ini? Sekarang ia sudah keluar meninggalkan kalian!” Ucapan Ali bin Abi Thalib r.a. sungguh-sungguh menggambarkan ketabahan dan keberanian hatinya. Cahaya pedang terhunus yang berkilauan, sama sekali tidak dihiraukan, bahkan orang-orang Quraiys yang kalap itu dicemoohkan. Seandainya ada seorang saja dari gerombolan itu mengayunkan pedang ke arah Ali r.a., entahlah apa yang terjadi. Tetapi Allah tidak menghendaki hal itu. Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi saw dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra yang banyak dinanti para pemuda. Nabi saw menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga yang se-rumpun (Bani Hasyim), yang paling dulu mempercayai ke-nabi-an beliau (setelah Khadijah), dan yang selalu belajar di bawah Nabi. Setelah pernikahannya dengan Fatimah Az-Zahra, Ali tinggal bersama isterinya di sebuah rumah yang sungguh amat sederhana. Sebagian besar perkakas rumah tangganya terbuat dari tembikar (tanah Hat). Namun, Rasulullah s.a.w. merasa bangga, tenang dan bahagia serta penuh kasih sayang sebagai ayah kepada puteri belahan hati beliau sendiri. Suasana yang penuh kesejahteraan dan keserasian itu lebih disemarakkan lagi oleh kelahiran dua orang cucu beliau s.a.w., Al-Hasan dan Al-Husain. Di dalam rumah yang diliputi suasana kebahagiaan itu Rasulullah saw sering duduk berbincang-bincang dengan mereka. Ali duduk di sebelah kanan dan Fatimah Az-Zahra duduk di sebelah kiri beliau. Sedangkan dua orang cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husain duduk di atas pangkuan beliau. Secara bergantian beliau menciumi kedua orang cucunya itu. Beliau mendoakan keberkahan bagi mereka semua dan mohon kepada Allah Swt agar berkenan menjauhkan mereka dari segala macam noda dan kotoran hidup serta mensucikan mereka sesuci-sucinya. Setelah Rasulullah saw wafat, tampuk khilafah dipegang oleh Abu Bakar yang diteruskan oleh Umar kemudian Utsman. Khalifah Utsman syahid dibunuh oleh para pemberontak. Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan ini mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Akibat pemberontakan yang waktu itu menguasai Madinah, maka tidak pilihan lain selain mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Ali kemudian menjadi Khalifah yang keempat menggantikan Khalifah Utsman bin Affan. Ali bin Abi Thalib meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij saat mengimami salat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah.

ABU HURAIRAH

Abu Hurairah Maret 8, 2012 · Disimpan dalam Biografi Sahabat Nabi · Tagged Abu Hurairah, Perawi terbanyak, Sahabat Nabi Namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr bin Tsalabah bin Salim bin Fahmi bin Ghanan bin Daws Al-Yaman. Beliau lahir tahun 21 sebelum hijrahnya Nabi saw ke Madinah bersamaan dengan tahun 602 Masehi. Dia lebih dikenal dengan nama Abu Hurairah karena memiliki seekor kucing kecil yang selalu diajaknya bermain-main pada siang hari atau saat menggembalakan kambing-kambing milik keluarga dan kerabatnya. Diriwayatkan bahwa Nabi saw pernah memanggilnya dengan sebutan, “Wahai, Abu Hir”. Abu Hurairah masuk Islam melalui pemimpin kaumnya yaitu Thufail bin Amr, seorang pemimpin Bani Daus. Thufail kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad saw dan menjadi muslim. Ia lalu menyeru kepada kaumnya untuk masuk Islam. Akan tetapi sangat sedikit kaumnya yang masuk Islam, dan di antara yang sedikit itu adalah Abu Hurairah. Setelah masuk Islam, Abu Hurairah sangat berkeinginan agar ibunya juga masuk Islam. Abu Hurairah lalu datang menemui Rasulullah seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah, ibu saya menolak masuk Islam dan setiap kali saya mengajak masuk Islam, setiap itu pula saya mendengar caci makinya. Doakanlah ibu saya agar mendapat hidayah Allah.” Rasulullah pun kemudian berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.” Abu Hurairah gembira mendengar doa Rasulullah saw. Lalu beliau kembali ke rumahnya dan datang menemui ibunya. Ibunya memanggil, “Wahai Abu Hurairah !” Abu Hurairah mengira rentetan caci maki akan didengarnya. Dia menjawab “Ya, Bu..” Ternyata ibunya berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Abu Hurairah tersenyum dan sangat gembira. Lalu beliau kembali menemui Rasulullah dan mengatakan, “Alangkah bahagianya aku wahai Rasulullah! Doa engkau dikabulkan”. Rasulullah kemudian mengucapkan hamdalah dan pujian atas terkabulnya doa. Abu Hurairah lantas mengatakan, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar saya dan ibu saya mencintai orang-orang mukmin dan agar orang-orang mukmin mencintai saya dan ibu saya” Maka Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah, semoga kedua hambaMu ini dicintai dan mencintai orang mukmin” Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah itu tidak ada seorang mukmin pun yang mendengar atau melihatku, melainkan ia kemudian mencintaiku.” Abu Hurairah merupakan sahabat Nabi yang senantiasa mendampingi beliau dimanapun beliau berada selama empat tahun. Dalam waktu yang sangat singkat tersebut, Abu Hurairah banyak menyerap Ilmu dan menghafal hadits-hadits dari Rasulullah saw. Abu Hurairah mengisahkan, “Orang-orang banyak yang heran, bagaimana aku dapat meriwayatkan hadits begitu banyak. Sebenarnya ketika saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin banyak yang berdagang dan saudara-saudara dari kaum Anshar sibuk berladang, aku selalu di samping Rasulullah saw. Aku termasuk golongan Ashhabus Suffah dan aku tidak begitu menghiraukan pencarian nafkah karena aku selalu merasa puas dengan sedikit makanan yang diberikan Rasulullah saw kepadaku. Aku pernah memberitahukan kepada Rasulullah tentang hafalanku yang lemah, lalu beliau bersabda, ‘Hamparkan kain selimutmu!’ Aku pun melakukan perintahnya, beliau lalu membuat tanda-tanda di kain selimut itu, kemudian bersabda, ‘Sekarang balutkanlah kain selimut ini di sekeliling dadamu.’ Aku pun membalut dadaku dengan kain itu. Sejak saat itu aku tidak pernah lupa lagi dengan segala sesuatu yang ingin aku hafalkan.” Abu Hurairah meriwayatkan hadits Rasulullah sebanyak 5374 hadits. Dari jumlah tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim secara bersama sebanyak 326 hadits. Sedangkan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tanpa Imam Muslim sebanyak 93 hadits dan diriwayatkan oleh Imam Muslim tanpa Imam Bukhari 98 hadits. Selain meriwayatkan dari Rasulullah saw, beliau juga meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar bin Khathab, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, Aisyah, Bushrah Al-Ghifari, dan Ka’ab Al-Ahbar Radhiyallahu ‘anhum. Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, dan beliau adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan beribu-ribu hadits. Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah mengatakan,”Abu Hurairah ra adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadits pada zamannya (masa sahabat).” Abu Hurairah meninggal pada tahun 57 Hijriyah/678 M. Semoga jasanya yang besar dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi senantiasa dikenang oleh kaum Muslimin dan untuk kepentingan Islam.