Sabtu, 20 Oktober 2012

HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW KE MADINAH

SKI KELAS 5 PELAJARAN 1 HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW KE MADINAH A. Kejahatan Kaum Kafir Quraisy Terhadap Nabi Muhammad saw Setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad saw semakin meningkatkan dakwahnya. Beliau mendatangi pemuka-pemuka kabilah (suku) guna menyampaikan ajaran Islam. Pada saat musim haji tiba, beliau mengajak orang-orang dari luar Mekah yang sedang melakukan ibadah haji untuk menjadi pengikutnya. Keadaan ini dibenci oleh kaum kafir Quraisy. Mereka khawatir Nabi Muhammad saw mendapatkan pengikut dari luar kaum Quraisy. Hal itu sangat membahayakan karena akan memperkuat barisan kaum Muslimin. Karena itu, mereka menyusun berbagai rencana jahat untuk menghalangi kemajuan dakwah Nabi Muhammad saw. Kaum kafir Quraisy menghalangi dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Meskipun dengan upaya yang sangat kotor dan licik. Di antara siasat-siasat jahat yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy agar dakwah Nabi Muhammad tidak tersebar adalah dengan cara-cara di bawah ini: 1. Fitnah terhadap Nabi Muhammad saw. Berbagai tuduhan terus dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad saw karena ajaran-ajaran yang disampaikannya dipandang meresahkan masyarakat. Tidak hanya itu, mereka juga menganggap bahwa kehadiran Islam telah menyebabkan perpecahan di antara kaum Quraisy yang tadinya bersatu dalam agama jahiliyah. Untuk membendung laju dakwah Islam, para pemimpin Quraisy membuat siasat dengan menuduh Nabi saw sebagai pengacau masyarakat sehingga kegiatannya harus dihentikan. Tuduhan ini juga disampaikan kepada penduduk dari luar Mekah agar mereka tidak terbujuk oleh ajakan beliau. Kaum Kafir Quraisy juga mengatakan bahwa ajaran-ajaran Muhammad saw adalah bohong dan hasil karangannya sendiri ketika menyepi di Gua Hira’. Sebagian orang ada yang mempercayai fitnah yang disebarkan oleh kaum kafir Quraisy. Akan tetapi, sebagian yang lain tidak mempercayainya karena Nabi Muhammad saw dikenal sebagai orang jujur dan tidak pernah berdusta. Setelah itu, ada orang yang terhasut oleh perkataan kaum kafir Quraisy dan ada pula yang tetap istikomah mendengarkan dakwah Nabi Muhammad saw bahkan kemudian menjadi pemeluk Islam. 2. Upaya Pembunuhan Nabi Muhammad saw. Ancaman terhadap Nabi Muhammad saw tidak sebatas hinaan, ejekan, maupun penyiksaan. Kaum kafir Quraisy juga menyusun rencana untuk membunuh beliau. Menurut mereka, membunuh Nabi Muhammad saw adalah satu-satunya jalan untuk menghentikan dakwah beliau. Selama Nabi Muhammad saw masih hidup, beliau tidak akan pernah berhenti menyiarkan Islam. Tawaran berupa harta, wanita, dan kekuasaan yang akan diberikan kepada beliau supaya berhenti berdakwah, juga tidak berhasil. Kaum kafir Quraisy kemudian memilih pemuda-pemuda yang kuat dari setiap suku untuk membunuh Nabi Muhammad saw. Mereka dikumpulkan lalu diberikan petunjuk mengenai cara membunuh Nabi Muhammad saw. Setiap orang dilengkapi dengan senjata yang akan digunakan untuk menghabisi nyawa beliau. Pada malam yang telah ditentukan, pemuda-pemuda itu mengepung rumah Nabi saw dari segala penjuru. Mereka yakin bahwa Muhammad tidak akan bisa lolos dari kepungan tersebut. Namun, sebelum terlaksana, Nabi Muhammad saw telah diberitahu oleh Allah swt. Beliau diperintahkan untuk segera berhijrah ke Madinah dan meminta Ali bin Abi Thalib untuk tidur di rumahnya sebelum pergi berhijrah. Siasat ini dilakukan agar para pemuda yang berencana membunuhnya mengira bahwa Nabi saw masih tinggal di dalam rumah. Ternyata taktik ini berhasil dan Nabi Muhammad saw lolos dari upaya pembunuhan tersebut. 3. Pengasingan Nabi Muhammad saw dan Kaum Muslimin Cara lain yang digunakan kaum kafir Quraisy untuk menglangi dakwah Nabi Muhammad adalah dengan mengasingkannya dari pergaulan masyarakat. Seluruh suku Quraisy dilarang berhubungan dengan Nabi saw., keluarga beliau dari Bani Hasyim, dan juga para pemeluk Islam. Mereka dilarang bergaul, menikah, mengunjungi dan berdagang dengan kaum Muslimin. Larangan ini kemudian ditulis dalam sebuah piagam dan digantungkan di dinding ka’bah sehingga setiap orang dapat melihat dan membacanya. Mereka yang melanggar larangan ini akan diserang oleh kaum Quraisy karena dianggap telah membantu musuh. Akibat larangan ini kaum Muslimin dan keluarga Nabi saw sangat menderita. Untuk meringankan penderitaan itu, mereka terpaksa pindah ke suatu lembah di luar kota Mekah. Tindakan pengasingan ini berlangsung selama tiga tahun dan sangat menyusahkan kaum Muslimin. Setelah itu, beberapa pemimpin suku Quraisy membatalkan perjanjian tersebut karena melihat kesusahan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad saw., keluarga, dan para pengikutnya. Namun di sisi lain, kaum kafir Quraisy mengakui ketabahan dan kesabaran kaum Muslimin dalam menghadapi segala bentuk kejahatan yang mereka ciptakan. Pada akhirnya, kaum Quraisy pun diperbolehkan kembali untuk berhubungan dengan kaum Muslimin. Demikian beberapa cara yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya. Mereka menempuh berbagai cara. Diantaranya dengan bujukan, rayuan, hinaan, siksaan, pengasingan, hingga pembunuhan. Akan tetapi, semua ancaman itu dihadapi dengan kesabaran dan ketabahan. Kaum Muslimin yakin bahwa suatu ketika perjuangan mereka akan sukses dan Islam akan diterima seluruh umat manusia. Keyakinan itulah yang mendorong mereka untuk terus menyampaikan ajaran Islam sampai akhir hayat dengan resiko apapun. B. Hijrah Kaum Muslimin ke Madinah 1. Penyebab Hijrah Kaum Muslimin Tekanan dan ancaman kaum kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin semakin kuat. Mereka terus-menerus menghina, menyakiti, dan menindas para pengikut Nabi Muhammad saw karena berbagai sebab tersebut, kaum Muslimin semakin berharap untuk segera melakukan hijrah. Setelah melihat kondisi penderitaan yang banyak dialami kaum Muslimin, Nabi Muhammad melihat bahwa kota Mekah sudah tidak bisa diandalkan lagi sebagai tempat untuk menyebarkan ajaran Islam. Nabi Muhammad saw juga pernah mengunjungi daerah Thaif untuk berdakwah di sana. Tetapi, masyarakat Thaif justru memusuhi Nabi Muhammad saw. Niat baik Nabi untuk berdakwah di Thaif justru menuai penderitaan karena para penduduk Thaif melempari dan mengusirnya dari Thaif. Beliau tidak putus asa, beliau bahkan mendoakan penduduk Thaif untuk segera mendapatkan petunjuk dari Allah swt. 2. Madinah Menjadi Tempat Tujuan Hijrah Berbagai penderitaan yang terus dialami kaum Muslimin akhirnya memunculkan keputusan untuk mencari tempat yang lebih baik dalam upaya menyebarkan ajaran Islam. Kemudian Nabi Muhammad saw memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Madinah yang saat itu masih bernama Yasrib. Dalam hal ini, selain perintah dari Allah swt., hijrah menjadi pilihan Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin untuk memperbaiki keadaan mereka. Dalam sebuah firman-Nya, Allah swt menjelaskan : Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kota ini sengaja dipilih oleh Nabi saw karena jaraknya yang tidak begitu jauh dari Mekah. Selain itu, penduduk Madinah ada yang menjadi pemeluk Islam. Ketika Nabi saw berdakwah saat musim haji tahun ke-11 setelah kenabian, ada orang Madinah yang menyatakan diri menjadi pengikut beliau. Jumlah mereka enam orang. Tetapi setelah kembali ke Madinah, mereka mengajak kaumnya masing-masing untuk menerima ajaran Islam. Keenam orang tersebut adalah As’ad bin Zurarah, Auf bin Harits, Jabir bin Abdiwah, Quthbah bin Amir, Rafi’ bin Malik, dan Uqbah bin Amir. Ajakan itu diterima dengan baik oleh saudara, tetangga serta teman-teman mereka. Sejak itu Islam mulai tersiar dan tersebar di Madinah. Mereka inilah yang diharapkan oleh Nabi saw dapat membantu saudara-saudaranya yang akan hijrah dari Mekah. 3. Cara hijrah kaum muslimin Setelah Nabi saw memerintahkan kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah maka mereka segera mengikutinya. Agar kepindahan mereka tidak diketahui oleh kaum Quraisy, perjalanan menuju Madinah dilakukan dengan cara-cara berikut : 1. Secara sembunyi-sembunyi 2. Secara bertahap, agar tidak dicurigai oleh kaum Quraisy 3. Secara kelompok-kelompok kecil, dengan mendahulukan kaum wanita, anak-anak dan orang-orang tua. Dalam waktu dua bulan, hampir semua kaum muslimin yang berjumlah sekitar 150 orang telah meninggalkan Makkah. Hanya Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib yang tetap tinggal menemani Nabi di Makkah. Mereka menemani Nabi sampai akhirnya datang perintah untuk berhijrah untuk menyusul para pengikutnya yang telah berhijrah sekaligus menghindari rencana kaum Quraisy yang akan membunuhnya. C. Hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah 1. Perintah untuk berhijrah Setelah semua kaum muslimin berada di Madinah Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw segera berhijrah ke Madinah. Beliau menemui Abu Bakar dan memberitahukan perintah tersebut serta memintanya untuk menemani beliau hijrah ke Madinah. Kemudian Abu Bakar menyiapkan keperluan yang dibutuhkan dalam perjalanan seperti kendaraan unta, bekal makanan dan petunjuk jalan. Kepergian kaum muslimin hijrah ke Madinah diketahui kaum kafir Quraisy. Para pemuka Quraisy melakukan rapat di sebuah tempat yang bernama Darun Nadwah untuk membunuh Nabi Muhammad saw dengan cara mengutus para pemuda kafir Quraisy. Sementara itu Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar telah sepakat untuk bertemu di luar kota Makkah. Pada suatu malam, para pemuda Quraisy yang mengepung rumahnya dari segala arah. Oleh karena itu beliau meminta keponakannya, Ali bin Abi Thalib untuk tidur di kasurnya guna mengelabuhi para pemuda Quraisy. Beliau juga meminta Ali agar menyerahkan segala sesuatu yang dititipkan oleh penduduk Makkah kepada pemiliknya. Setelah itu Nabi Muhammad saw keluar dari rumahnya. Atas kehendak Allah, para pemuda Quraisy tertidur, sehingga tidak mengetahui kepergian beliau. Sebelumnya mereka telah melihat ada seseorang yang tidur di kasur Nabi Muhammad saw. Mereka menyangka itu adalah Nabi Muhammad saw meskipun sebenarnya adalah Ali bin Abi Thalib. Para pemuda Quraisy, terkejut ketika mengetahui bahwa yang tidur dalam selimut adalah Ali bin Abi Thalib. 2. Perjalanan di gua Tsur Nabi Muhammad saw segera menemui Abu Bakar yang telah menunggunya di luar kota Makkah. Mereka meneruskan perjalanan sampai di gua Tsur. Karena sudah siang mereka masuk ke gua untuk menghindari kejaran pemuda Quraisy yang akan membunuhnya. Nabi Muhammad saw menduga bahwa para pemuda itu akan mengejar hingga ke gua Tsur. Ternyata dugaan Nabi tidak meleset. Akhirnya para pemuda itu mencarinya sampai di mulut gua Tsur. Mereka memeriksa sekitar gua, tetapi tidak ditemukan tanda-tanda pernah dilewati seseorang. Di mulut gua Tsur terdapat sarang laba-laba yang masih utuh. Di situ juga ada sarang burung yang masih utuh dan setangkai dahan yang menutup pintu gua seakan-akan tidak pernah dilalui orang. Padahal, apabila mereka menengok ke dalam maka akam melihat Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar yang sedang bersembunyi. Ketika para pemuda itu semakin dekat ke mulut gua, Abu Bakar semakin ketakutan kalau-kalau para pemuda itu melihat mereka berdua. Dia menangis dan merapatkan badannya kepada Nabi Muhammad saw. Nabi tetap tenang dan tidak panik dan menenangkan Abu Bakar agar tetap tenang dan tidak panik karena Allah bersama mereka. Setelah tidak mendapatkan buruannya para pemuda itu segera pergi. Atas pertolongan Allah, para pemuda itu tidak yakin ada orang di dalam gua Tsur setelah melihat mulut gua tersebut dan akhirnya meninggalkan tempat tersebut tanpa menghasilkan sesuatu. Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar menetap di gua Tsur selama tiga hari. Yang mengetahui persembunyian mereka hanyalah Abdullah bin Abu Bakar dan kedua putri Abu Bakar yang bernama Aisyah bin Abu Bakar dan Asma bin Abu Bakar, serta pembantu mereka yang bernama Amir bin Fuhaira. Selama mereka bersembunyi dalam gua, Abdullalh bin Abu Bakar menemui mereka di waktu sore guna menyampaikan berita-berita yang terjadi di Mekah. Sedangkan Asma bin Abu bakar membawakan bekal makanan untuk mereka berdua berupa susu hasil perahan dari kambing-kambing yang digembalakan Amir bin Fuhaira. 3. Rintangan Menuju Madinah Pada hari ketiga, datang seorang penunjuk jalan yang akan memandu perjalanan mereka ke kota Madinah. Setelah semua siap, maka Nabi saw beserta Abu Bakar melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, mereka dikejar oleh seorang Quraisy bernama Suraqah yang ingin menangkap mereka untuk dibawa kembali ke Mekah. Apabila berhasil maka ia akan mendapatkan imbalan 100 ekor unta. Akan tetapi, usahanya tersebut gagal di tengah jalan. Berkali-kali kuda yang dikendarainya terjerembab jatuh ke tanah sebelum sampai ke Rasulullah saw. Ia menghentikan usahanya karena kejadian itu dianggap sebagai pertanda buruk yang akan menimpanya jika tetap ingin menangkap beliau. Suraqah justru meminta maaf kepada Rasulullah saw. Dengan senang hati Nabi saw memaafkan dan memintanya untuk tidak menceritakan kepergiannya ke Madinah kepada warga Quraisy. 4.Membangun Masjid Pertama Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan di bawah terik panas matahari, maka pada tanggal 12 Rabiulawwal tahun ke-13 dari kenabian, Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar tiba di daerah Quba yang letaknya tidak jauh lagi dari Madinah. Beliau beristirahat selama empat hari untuk mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan sampai Madinah. Selama di Quba tersebut, Nabi Muhammad saw tinggal di rumah Kultsum bin Hamdan dari Suku Aus dan Abu Bakar menetap di rumah Habib bin Asaf dari Suku Khazraj. Selanjutnya datang rombongan yang menyusul dari Mekah untuk ikut hijrah ke Madinah. Mereka di pimpin oleh Ali bin Abi Thalib yang terdiri dari keluarga beliau dan Abu Bakar, seperti Fatimah, Ummi Kultsum, Saudah, Ummu Aiman, Ummu Ruman, Usamah, Aisyah dan Asma binti Abu Bakar. selain itu, ikut pula Abdullah bin Abu Bakar serta beberapa kaum Muslimin lainnya. Sesampainya di daerah Quba, Nabi saw dan kaum Muslimin membangun masjid untuk melaksanakan ibadah. Masjid ini didirikan di atas tanah wakaf dari Kultsum bin Hamdan. Inilah masjid pertama yang dibangun oleh kaum Muslimin. Rasulullah saw sendiri yang memulai pembangunan itu dan selanjutnya diselesaikan oleh para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Setelah pembangunan selesai, masjid tersebut diberi nama Masjid Taqwa. Masjid itulah masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin. Tentang keberadaan masjid tersebut, Allah swt mengemukakan dalam Al Quran, surah At Taubah ayat 108: Artinya : Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? dan Barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, Maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus. Kedatangan rombongan Nabi Muhammad saw telah lama ditunggu oleh warga Madinah. Bahkan di antara mereka ada yang sampai naik ke atas pohon korma karena ingin sekali melihat wajah Nabi saw. Pada hari Jum’at tanggal 16 Robiulawal tahun ke-1 Hijriyah atau tanggal 2 Juli 622 masehi, Rosululloh saw bersama rombongan tiba di Madinah. Mereka disambut dengan meriah bahkan diiringi oleh lantunan syair. Setiap penduduk Madinah juga menawarkan diri supaya Nabi Muhammad saw dapat tinggal dan menetap di rumah mereka. Permusuhan antar suku di Madinah seakan lenyap karena mereka bersatu menyambut kedatangan Rasulullah saw. Bertepatan dengan hari itu juga, Nabi Muhammad saw melaksanakan shalat Jum’at. Shalat jumat tersebut menjadi shalat Jumat pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bersama kaum Muhajirin dan Anshar. D. Hikmah Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah Hijrahnya Nabi Muhammad saw dan kaum Muhajirin dari Mekah ke Madinah memberikan pelajaran yang sangat penting bagi kita semua. Di antara hikmah yang dapat dipetik dari kejadian hijrah tersebut adalah sebagai berikut: 1. Perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan. 2. Keberhasilan dalam masalah apapun harus didahului oleh kerja keras. 3. Peristiwa hijrah telah menyatukan kekuatan kaum muslimin. 4. Peristiwa hijrah telah memperkuat keyakinan kaum muslimin terhadap janji Allah swt. Allah telah menegaskan (berjanji) dalam Al Qur’an yaitu : Artinya : Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. E. Bai’at Aqabah I dan Bai’at Aqabah II 1. Arti Bai’at Baiat artinya perjanjian atau sumpah setia untuk mentaati sesuatu yang telah dijanjikan oleh seseorang atau kelompok baik lewat ucapan maupun tulisan. Isi bai’at bisa berupa hal-hal yang harus dilakukan maupun tidak boleh dilakkukan. Bai’at Aqabah adalah sumpah setia yang diucapkan oleh penduduk Madinah dari suku Aus dan Khazraj kepada Nabi Muhammad saw. Sumpah ini mereka sampaikan di hadapan Rasulullah saw ketika mereka melaksanakan ibadah Haji di bukit Aqabah menjelang peristiwa hijrah. Di Madinah sendiri ketika itu ada dua golongan suku yang saling bermusuhan, yaitu suku Aus dan Khazraj. Nama Aus dan Khazraj berasal dari nama dua orang laki-laki kakak beradik. Keturunan mereka mempunyai anggota yang sama dari sisi jumlah dan kekuatannya. Selama kurang lebih 120 tahun kedua golongan tersebut tidak berhenti melakukan peperangan. Tidak ada bangsa atau golongan lain yang mendamaikan mereka hingga akhirnya Islam yang diserukan Muhammad saw menciptakan perdamaian di antara kedua suku tersebut. 2.Baiat Aqabah 1 Sumpah setia penduduk Madinah yang lebih dikenal dengan Bai’at Aqabah ini terjadi dua kali. Bai’at Aqabah 1 terjadi pada tahun ke-12 setelah kenabian. Saat itu, 12 orang suku Aus dan Khazraj berikrar di hadapan Nabi saw. Isi perjanjian Aqabah I itu antara lain: 1.Tidak akan menyekutukan Allah. 2.Tidak akan mencuri. 3.Tidak akan berzina. 4.Tidak akan membunuh anak-anak. 5.Tidak akan memfitnah dan menghasut. 6.Tidak akan mengkhianati Nabi Muhammad saw. Bai’at Aqabah I dikenal juga dengan nama “Bai’at Perempuan” karena salah satu yang ikut bersumpah adalah seorang perempuan bernama Afra binti Ibn Tsa’labah. Apabila mereka mentaati isi sumpah ini maka mereka akan mendapatkan balasan surga. Namun, jika melanggarnya maka akibatnya diserahkan kepada kekuasaan Allah swt apakah ia akan diampuni atau diazab. Beberapa orang sahabat dari penduduk Madinah yang mengikuti Bai’at Aqabah 1 ini merupakan keturunan dari suku Khazraj dan Aus. Di antara mereka yang mengikuti bai’at tersebut adalah: 1.As’ad bin Zurarah (Khazraj) 2.’Auf bin Harits (Khazraj) 3.Rafi’ bin Malik (Khazraj) 4.Uqbah bin Amir (Khazraj) 5.Ubbadah bin As Shamit (Khazraj) 3.Bai’at Aqabah II Sedangkan kedua adalah Bai’at Aqabah II terjadi pada tahun ke-13 dari kenabian. Pada musim haji tahun tersebut, Nabi Muhammad saw didatangi 73 orang laki-laki dari Madinah yang bersumpah setia kepada beliau. Adapun isi dari Bai’at Aqabah II antara lain: 1.Mereka akan beribadah kepada Allah swt semata. 2.Mereka tidak akan menyekutukan Allah swt. 3.Mereka akan membela Nabi saw dari segala ancaman. Para sahabat yang mengikuti dalam Bai’at Aqabah II secara keseluruhan berjumlah 75 orang. Mereka terdiri dari 62 laki-laki suku Khazraj dan 11 laki-laki suku Aus. Sedangkan, Nusaibah binti Ka’ab dan Asma binti Amr keduanya perempuan dari suku Khazraj yang juga ikut dalam bai’at tersebut. Adapun orang-orang yang mengikuti Bai’at Aqabah II dari suku Aus antara lain : 1.Usaid bin Hudhair 2.Abul Haitsam Malik bin At Taihan 3.Salamah bin Salaamah 4.Dhahir bin Rafi 5.Abu Burdah Hani bin Niyar Sedangkan dari suku Khazraj, mereka itu antara lain : 1.Abu Umamah 2.As’ad bin Zurarah 3.Al Barra bin Ma’ruf 4.Abdullah bin Rawahah 5.Sa’ad bin Ubadah 4.Islam Diterima Masyarakat Madinah Setelah melaksanakan bai’at Aqabah II, mereka kembali ke Madinah untuk menyiarkan Islam. Dengan dua perjanjian itu, Islam lebih berkembaang pesat di Madinah. Nabi muhammad saw juga semakin mendapatkan banyak pengikut dari luar Mekah yang akan memperkuat dakwah Islam. Ketika kaum kafir Quraisy mengetahui perjanjian tersebut, mereka semakin menambah tekanannya terhadap kaum Muslimin hingga akhirnya datang perintah dari Allah swt untuk berhijrah. Adapun hal-hal yang menyebabkan Islam mudah diterima oleh penduduk Madinah adalah: 1. Sifat orang-orang Madinah lebih terkenal dengan sifatnya yang lemah lembut dari pada penduduk Mekah yang lebih dikenal dengan sifat mereka yang keras kepala. 2. Sebelum datangnya ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., di Madinah sering terjadi peperangan antara suku Aus dan Khazraj. Akan tetapi, setelah mereka sama-sama menjadi muslim, maka Islam diharapkan dapat mendamaikan mereka. 3. Mereka memang benar-benar membutuhkan seorang rasul yang akan membimbing mereka kepada kebenaran. Sebelumnya, mereka pernah mendengar dari orang-orang Yahudi di Madinah tentang akan datangnya seorang rasul dari Bangsa Arab.