Sabtu, 18 Juni 2016

CARA MEMBUAT TELOR ASIN


Bahan :

10-20 Telur bebek usahakan yang masih fresh/baru
300 – 500 gr garam (dapat garam dapur, garam kasar, garam gosok)
Bawang putih 6 siung msh sm kulitnya geprek
Cabe merah 7 buah di geprek2
Jahe kira2 5 cm digeprek
1, 5 – 2 liter air
Toples berbahan plastik atau kaca yang dapat di tutup rapat.

cara membuatnya :

Rendam telur didalam air bersih kurang lebih 2 menit.
Perhatikan waktu merendam “jika telur mengapung” berarti telur itu jelek (jangan dipakai).
Lalu bersihkan telur dengan menggunakan spon sampai kotoran bersih, tujuanya yaitu agar kotoran tidak mengakibatkan telur rusak
waktu sistem pengasinan.
Keringkan telur yang sudah di bersihkan bersih tadi, lalu gosok dengan amplas halus, tujuanya yaitu supaya pori-pori telur terbuka, tetapi jangan terlalu lama menggosoknya.
Lalu letakkan di toples susun dengan rapi.
Campur garam dan air ditempat lain, sesudah garam larut (menjadi air), tuang air garam ke toples
Masukkan bumbu-bumbu geprek.

Ternyata telur jadi mengapung karena air mengandung garam.
Jadi solusinya yaitu dengan menyiapkan kantong plastik ukuran 1/4 yang di isi air (isi 1/2 saja airnya) berfungsi untuk menindih telur supaya terbenam sepenuhnya didalam air.
Pastikan semua sisi telur terendam di air.
Tutup rapat toples biarkan selama 12 hari sudah dapat di buka
rasanya juga sudah enak.

Bila ingin lebih “Masir” dan “Berminyak”biarkan selama 3 minggu hasilnya tentunya lebih awet dan tahan.
Untuk memasak, bisa memasaknya dengan merebus di air mendidih dengan api sedang selama 1 jam.
Dapat pula di kukus dengan durasi waktu yang sama.
sebetulnya 15 menit juga masak namun itu untuk segera mengkonsumsi ya bun

Sedikit tips :

 Telor setelah di kukus/rebus masukkan es batu sampai es nya cair, rasanya lebih punel/keset.
Met mencoba ya Bunda.

Semoga berhasil.

Minggu, 01 Mei 2016

Alat Tambal Ban Portable



Cara menggunakannya, yaitu kita hanya perlu memberi kompon pada lubang, kemudian balut dengan kertas HVS. Tempelkan ke leher knalpot yang masih panas dan kunci pakai Tyre Press.





Ketika  ban sudah tertambal lalu bagaimana cara memompa ban agar kembali seperti semula. Alat alternatifnya dengan menggunakan selang sepanjang lebih kurang 1 meter yang  bisa digunakan untuk mengisi angin, yang cukup dimasukkan ke dalam knalpot.


Jumat, 29 April 2016

Sejarah Syeh Siti Jenar


Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini, dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah dewasa mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban, sebelah tenggara Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit.

Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya adalah Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan ’Ali] bin Sayyid Shalih bin Sayyid ’Isa ’Alawi bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan bin Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin Sayyid 'Ali Khali Qasam bin Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah bin Sayyid 'Alwi al-Mubtakir bin Sayyid 'Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid 'Isa An-Naqib bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi bin Imam Ja'far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia 12 tahun.

Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Saat itu. KesultananMalaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani. Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.

Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.

Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.

Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada Siti Jenar yang pada waktu itu berusia 20 tahun. Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu:

1. Maulana Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, dari sanad sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan sekitarnya
2. Sayyid Ahmad Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir dan sekitarnya,
3. Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara
4. Sayyid Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan, India, Yaman.

Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.

Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.

Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy, dan lain-lain.

KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:

1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini bertentangan dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Ini adalah sejarah bohong. Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….

2. “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.

3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah” dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.

4. Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi anjing. Bantahan saya: “Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun.Manusia lahir dari manusia dan akan wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.“

5. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong. Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron. Bantahan saya: “Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah. Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama. Tidak bisa diterima akal sehat.”

Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera [Politik Pecah Belah] dengan 3 kelas:
1) Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali]
2) Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak]
3) Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar]


Wahai kaum muslimin melihat fenomena seperti ini, maka kita harus waspada terhadap upaya para kolonialist, imprealis, zionis, freemasonry yang berkedok orientalis terhadap penulisan sejarah Islam. Hati-hati jangan mau kita diadu dengan sesama umat Islam. Jangan mau umat Islam ini pecah. Ulama’nya pecah. Mari kita bersatu dalam naungan Islam untuk kejayaan Islam dan umat Islam.

2 Cara Agar Pahala Shalat Dhuha Seperti 1 Kali Umroh



1. Mengerjakan shalat dhuha sepaket dengan shalat subuh

Sebuah hadits menjelaskan bahwa siapa saja yang melaksanakan shalat subuh di masjid dan ia tetap berada di masjid sambil bezikir kemudian menutupnya dengan shalat dhuha, maka ganjarannya akan sama seperti ibadah umrah atau haji. Seperti yang kita tahu, bahwa ibadah haji dan umrah hanya diperuntukkan bagi orang yang mampu sehingga tak semua umat dapat melaksanakan ibadah ini.
Meskipun demikian, kita masih bisa mendapatkan pahala ini jika melakukan ibadah dhuha seperti yang sudah dijelaskan. Kita harus menyisihkan sedikit waktu untuk berada di masjid sambil berzikir mengingat Allah. Setelah tiba waktunya shalat dhuha, maka kita bisa langsung melaksanakan shalat dhuha terlebih dahulu. Bahkan dengan cara ini kita tidak hanya melakukan shalat wajib, tapi juga shalat sunnah beserta zikir kepada Allah.

2. Pulang terlebih dahulu dan kembali ke masjid

Apabila kita tidak bisa berdiam diri terlebih dahulu di masjid, maka kita masih bisa mendapatkan pahala seperti haji dan umrah. Namun, sebisa mungkin kita melaksanakan shalat subuh di masjid. Dan pulang sebentar, lalu setelah masuk waktu shalat dhuha kita kembali lagi ke masjid dan melaksanakan shalat dhuha. Namun, terdapat satu hal yang perlu kita perhatikan, yakni satu-satunya tujuan kita keluar rumah adalah untuk ke masjid shalat dhuha. Amalan ringan yang besar pahalanya dapat kita lakukan dengan kedua cara ini.
Setelah kita mengetahui cara mendapatkan pahala setara dengan ibadah haji dan umrah pun, muncul pertanyaan, bukankah shalat sunnah lebih baik dilaksanakan di rumah? Sebenarnya kita juga dapat melaksanakan shalat dhuha di rumah, tapi untuk mendapatkan imbalan yang istimewa ini kita membutuhkan usaha yang lebih yakni melaksanakan shalat dhuha di masjid. Bukankah hal ini sangat luar biasa, kita bisa mendapatkan pahala umrah meskipun tidak pergi ke tanah suci Mekah untuk melaksanakan ibadah Umrah. Inilah agar shalat dhuha Anda berpahala umrah.
Sebagai seorang muslim, seharusnya kita bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin. Allah juga sudah menganjurkan kepada umat-Nya untuk berlomba-lomba menuju kebaikan. Allah telah memberikan kita waktu untuk hidup dan kita akan dimintai pertanggungjawaban ketika di akhirat mengenai apa yang kita lakukan. Oleh karena itu, kita harus melaksanakan ibadah wajib dengan baik dan benar, serta melaksanakan ibadah sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Karena setiap amalan terdapat keutamaannya masing-masing sehingga bisa kita kerjakan sebagai bekal di akhirat.


Rabu, 27 April 2016

Tafsir Midadurrahman, Kitab Terbesar Karya Ulama Indonesia

 



Peluncuran perdana Tafsir Midadurrahman sebanyak 115 volume karya Mufti Kesultanan Palembang Darussalam, Asy-Syaikh KH. Shohibul Faroji Azmat Khan, M.A., telah berlangsung pada Sabtu (27/2), bertempat di Baitul Qur’an dan Museum Istiqlal Taman ini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Dalam acara ini, Syaikh Shohibul Faroji Azmat Khan juga mendapatkan anugerah dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Penulis Tafsir Al-Qur’an Terlengkap: 30 Juz, 115 Volume.  Penghargaan serupa diberikan Museum Rekor Terhebat Indonesia (MURTHI) dalam bentukAnugerah Rekor Supranatural Indonesia (RESI) atas Pencapaian Prestasi yang Luar Biasa,Golden Achievement Cultural Award, (Menulis Tafsir Midadurrahman 115 vol). Bahkan Museum Rekor Nahdlatul Ulama (MRNU) juga memberikan penghargaan sejenis.
Turut hadir Sultan Palembang Darussalam, Sri Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, yang juga Ketua Umum Yayasan Raja Sultan Nusantara (YARASUTRA). Sultan Iskandar hadir untuk memberikan sambutan atas terbitnya Tafsir Midadurrahman ini. Ia juga memberikan kata pengantar dalam Tafsir Midadurrahman ini. Hadir juga Ketua Umum Forum Silaturahmi Takmir Masjid dan Mushalla Indonesia (Fahmi Tamami), H. Rhoma Irama. Bahkan aktor yang dikenal sebagai raja dangdut itu juga memberikan kata pengantar dalam Tafsir Midadurrahman ini.
Acara ini diselenggarakan bersama oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), MURI, Majelis Dakwah Wali Songo, dan YARASUTRA, serta Majelis Pimpinan Pusat (MPP) Fahmi Tamami. Sejumah tokoh agama juga memberikan kata pengantar dalam kitab Tafsir Midadurrahman ini, yakni Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat, DR. KH. Makruf Amin, Menteri Agama RI,Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., dan pakar tafsir Al-Qur’an, Prof. Dr. H. Quraish Shihab, M.A.   
Tafsir Midadurrahman ini sangat istimewa karena menjadi tafsir Al-Qur’an yang terpanjang di Indonesia, bahkan di dunia. Tafsir ini terdiri dari 8.500 halaman atau 115 volume dan terbagi dalam 30 juz. Tafsir ini merupakan karya ke 30 Syaikh Shohibul Faroji yang telah ditulis sejak usia 14 tahun dan membutuhkan waktu 22 tahun untuk menyelesaikannya hingga kini.
“Tafsir Midadurrahman ditulis dengan metode sanadiyyah yang sanadnya bersambung dari ulama-ulama Nusantara, melalui Wali Songo, hingga sanad Rasulullah Muhammad SAW,” tutur Syaikh Shohibul Faroji pada Rabu (20/4) pagi, dalam rilisnya kepada DMI.OR.ID. Tafsir ini, lanjutnya, merupakan rangkaian dari 313 tafsir-tafsir sebelumnya, serta dikaji secara kritis dan mendetail dari berbagai perspektif ilmu Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan umum.
“Tafsir Midadurrahman ini ditulis dalam bahasa Arab dengan harapan dapat dibaca dan dipelajari oleh ummat Islam di seluruh dunia, khususnya di pesantren-pesantren, universitas Isam, beragam organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, partai-partai politik Islam serta para peneliti Al-Qur’an di seluruh Indonesia dan di dunia,” ungkap Syaikh Shohibul Faroji.
Syekh K.H. Shohibul Faroji Azmatkhan saat ini memimpin Majelis Dakwah Walisongo, Jakarta. Ia adalah seorang habib atau sayyid kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 13 Juni 1977. Melalui jalur ayah, beliau masih keturunan dari Sunan Kudus, sedangkan dari jalur ibu ia merupakan keturunan dari Pangeran Diponegoro.
Nisbat Azmatkhan merupakan gelar untuk keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. Seorang sayyid yang lahir di Tarim, Hadramaut Yaman. Menurut Wikipedia, Sayyid Azmatkhan merupakan leluhur dari para Walisongo.
Karya Syekh Shohibul Faroji sebenarnya banyak. Tafsir ini merupakan karyanya yang ketigapuluh dan merupakan tafsir terpanjang. Meraih rekor MURI, MURTI (Museum Rekor Terhebat Indonesia), dan MURNU (Museum Rekor Nahdlatul Ulama). Penganugerahan rekor tersebut dilakukan saatgrand launching pada 27 pebruari 2016 yang bertempat di aula utama TMII.
Apa saja keistimewaan dari tafsir ini? Apa sisi menarik dari penulisnya? Berikut 5 fakta menarik tentang Tafsir Midadurrahman:

1. Tafsir Midadurrahman Paling Lengkap

Seperti dijelaskan di awal, tafsir ini berjumlah 115 jilid. Setiap jilid merupakan tafsiran untuk satu surah. Jilid ke-115 merupakan ringkasan. Jumlah total halaman seluruh kitab tersebut mencapai 8500 halaman. Metode penafsirannya pun komplit. Dalam menafsiri ayat, Syekh Shohibul Faroji menafsirkan secara runtut dan kronologis. Diutamakan tafsir ayat dengan ayat, lalu dengan hadis, tafsir ahlul bait, tafsiran para istri nabi, kemudian mendatangkan tafsiran para sahabat, tabiin, tabi’ tabi’in, para salaf shalih, tafsiran Wali Songo, lalu tafsir para ulama Nusantara. Istimewanya, tafsir karya ulama Indonesia ini tetap menggnakan bahasa Arab. Tujuannya agar tetap bisa dipelajari oleh seluruh umat Islam.

2. Proses Penulisannya

Penulisan Tafsir Midadurrahaman memakan waktu selama 22 tahun. Dimulai sejak beliau berumur 14 tahun, ketika Shohibul Faroji baru menyelesaikan hapalan Alquran. Sebenarnya awal menekuni menulis tafsir adalah dari suatu hukuman dari gurunya karena saat itu ia sering tidur setelah subuh. Saat itu ia diharuskan menulis catatan dengan tema inspirasi Alquran. Dari menjalani hukuman akhirnya menjadi kebiasaan yang serius. Kebiaaan menulis akhirnya menghasilkan sekian banyak kitab. Selain Tafsir Midadurrahman, ia pernah juga menulis kitab tafsir berjudul Ma’rifatullahyang membuatnya dihadiahi haji ke Baitullah.

3. Kontroversi tentang Nasabnya

Tidak semua orang percaya bahwa Syekh Shohibul Faroji masih termasuk golongan sayyid atau keturunan Rasulullah. Tulisan dalam rangka kritik dan upaya mengkaji ulang jalur nasab dari tokoh satu ini juga banyak beredar di media online. Menurut sumber tersebut, penisbatan Syekh Shohibul Faroji pada klan Azmatkhan adalah dusta. Seperti tulisan dianandakemas.wordpress.com, yang mengkritik dan mengkaji ulang nasab Sykeh Faroji. Sebaliknya, bantahan juga datang dari pihak pengurus Majelis Dakwah Walisongo asuhan Syekh Shohibul Faroji. Menurut tulisan yang diposting oleh Iwan Mahmud al-Fattah Azmatkhan di ikrafaalfattah.blogspot.com, pihak yang menyebarkan keraguan atas nasab Syekh Shohibul Faroji hanyalah memfitnah karena tujuan balas dendam dan kepentingan tertentu. Lepas dari mana yang benar antara kedua klaim tersebut, yang jelas dan sudah terbukti adalah Syekh Shohibul Faroji adalah seorang ulama yang nyata-nyata telah menghasilkan karya luar biasa.

4. Hapalan Syekh Shohibul Faroji

Usai menghapal Alquran 30 juz, Syekh Shohibul Faroji melanjutkan menghapal Alquran kepada para guru bersanad yaitu Syekh K.H. Adlan Ali Azmatkhan (pendiri Pesantren Walisongo, Cukir, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur) dan Syekh KH. Yusuf Masyhar (pendiri Pesantren Madrasatul Qur’an, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur). Selain menghapal Alquran, Syekh Shohibul Faroji juga menghapal berbagai kitab hadis, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Musnad Ahmad, Muwattha Imam Malik dan Riyadhus Shalihin di bawah bimbingan Syekh Bahruddin Azmatkhan.

5. Jabatan yang Diemban


Selain sebagai pimpinan Majelis Dakwah Walisongo, Syekh Shohibul Faroji diamanahi berbagai jabatan penting. Ia juga aktif di P.T. Islamic Mint Nusantara, perusahaan yang mencetak dan memasyarakatkan koin dinar dan dirham agar lebih dikenal dalam berbagai transaksi. Pada 5 Mei 2013, Syekh Shohibul Faroji mendapat mandat dari Sri Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin (Sultan Kesultanan Palembang Darussalam) menjadi Mufti Besar Kesultanan Palembang Darussalam dan bergelar Al-Mursyid Syekh Mufti Pangeran Penghulu Nata Agama As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh. Ia juga menjabat sebagai Ketua Dewan Nala Duta Igama Kerajaan Kutai Mulawarman.

Selasa, 26 April 2016

Para Saksi Hidup : Mbah Hasyim Asy'ari Tak Berjenggot



Baru-baru ini publik dihebohkan dengan adanya lukisan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Hasyim Asyari yang tampil dengan tanpa jenggot di peringatan Hari Santri Nasional pada Kamis (22/10) di Tugu Proklamasi, Jakarta. Tentu kejadian langka tersebut menuai banyak komentar dari publik. Terlebih karena NU merupakan salah satu ormas terbesar di Indonesia.
Atas kejadian tersebut, Toto. M. Setiawan, pelukis lukisan hadratussyaikh NU tersebut melakukan klarifikasi atas lukisannya yang menghebohkan publik tersebut. Bahkan dia juga mengaku sudah melakukan klarifikasi pula di akun sosial media Facebook pada Jumat (23/10).
 “Saya posisinya hanya sebagai pelukis saja, saya hanya menerjemahkan permintaan pelanggan saja. Di Facebook juga sudah dilakukan klarifikasi, sumbernya dari Masyamsul Huda, dia sudah menjelaskan kenapa seperti itu. Yang jelas, yang disampaikan ke saya orangnya cuma minta pakaian jas shanghai dan jenggotnya dihilangkan,” tuturnya kepada Republika, Jumat (23/10).
Dia juga menjelaskan pemilik akun Facebook Masyamsul Huda tersebut adalah penulis “Guru Sejati” yang didekasikan kepada KH. Hasyim Asyari. Dimana dalam buku tersebut juga terdapat gambar pendiri NU itu dengan dagu tanpa jenggot. Toto mengaku permintaan tersebut juga sudah direstui oleh salah satu santri langsung dari KH. Asyari, namun dia tidak menyebutkan siapa santrinya tersebut.
Selain itu salah satu cucu KH. Hasyim Asyari juga ada yang sudah merestui kakeknyadilukis dengan tidak menyertakan jenggotnya. Menurut dia cucu KH. Hasyim Asyari yangdia maksud itu adalah Ketua Panitia Kirab Resolusi Jihad Hari Santri Nasional.
Berikut ini penjelasan dari Masyamsul Huda berkaitan bagaimana wajah atau rupa asli alias yang sebenarnya (minimal mendekati kebenaran) dari Hadrotussyaiky K.H Hasyim Asy'ari? Inilah penuturan Beliau yang kami diambil dari laman facebook pribadinya:
Ini yang kedua kalinya saya harus menjawab keraguan Mas Ipang, soal jenggot Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari.
Entah apa maksud Mas Ipang membawa-bawa Kakek Buyutnya untuk memancing orang berdebat dan saling mencaci maki???. Lukisan yang siang tadi dipajang sebagai backdrop di Tugu Proklamasi dalam rangka pencanangan Hari Santri.
Lukisan yang karya Toto. MS tersebut diambil dari cover buku Guru Sejati yang saya tulis. Buku yang menerangkan tentang sejarah asal usul berdirinya Pondok Pesantren Tebu Ireng. Gambar cover ini yang asal usulnya adalah karya pelukis Badri(Pasuruan), lukisan tersebut dipesan khusus oleh Gus Riza Yusuf Hasyim untuk memvisualkan perjuangan Mbah Hasyim ketika menghadapi kekejaman Tentara Nippon.
Ketika lukisan ini sudah selesai, kami bertiga ( Gus Riza, Mas Badri dan saya) menghadap almarhum KH. Hamid Baidlowi, kemudian kepada Pak Bulkin (adik KH Solihin - khadam/pembantu Mbah Hasyim yang ikut ditangkap Tentara Jepang). 
Pendapat kedua Beliau; lukisan yang sudah jadi tersebut dikoreksi, bahwa Mbah Hasyim raut wajahnya klimis tidak berjenggot. Untuk meyakinkan pendapat dua orang yang sempat bertemu Beliau, lukisan tersebutdibawa kerumah saya untuk ditashihkan kembali kepada Bapak saya, H. Ahmad Riyadi. Beliau asli Tebu Ireng, cucu salah satu khadamnya (pembantu) Mbah Hasyim. Bapak meyakinkan memang benar, bahwa Mbah Hasyim itu selalu klimis, wangi, selalu rapi dengan jas krah shanghai warna dawuk (abu-abu pekat).
Ketika lukisan ini saya ambil lagi sebagai cover. Sekali lagi saya bertanya kepada Bapak, dan beliau menjawab, "ya memang seperti ini wajah Mbah Hasyim".
Sebagai catatan; ketika launching buku Guru Sejati, dua kali buku ini dibedah di Pondok Pesantren Tebu Ireng. 
Yang pertama, bedah buku digelar di Masjid Ulul Albab Tebu Ireng bersama Gus Fahmi.Yang kedua, di Aula KH. Yusuf Hasyim. Semula dijadwalkan Gus Solah akan menjadipembicara, namun karena ada tamu penting dari Malaysia, maka diwakilkan kepada salah satu guru Tebu Ireng.
Dua kali dibedah di Tebu Ireng, tidak ada satupun keberatan soal isi, terlebih cover Guru Sejati. Bahkan Gus Fahmi mengapresiasi positif terhadap buku ini.
Namun mengapa sekarang Mas Ipang ribut di Facebook?. Kenapa tidak mencari sumber lukisan tersebut?. Mengapa koq senengnya ngajak ribut orang, sangat jauh dari sifat Buyut-nya 
yang selalu santun dan murah senyum. 
Sekali lagi, saya hanya ingin menyampaikan fakta yang sebenarnya. Jangan mengotori akhlak beliau yang begitu luhur, apalagi mengundang orang untuk saling mencaci maki difacebook. Tolong diurut lagi, apa KH. Wahid Hasyim, KH. Kholik, KH. Karim, KH. Yusuf Hasyim (merupakan putra-putra Mbah Hasyim) memiliki jenggot?