Minggu, 17 April 2016

BIOGRAFI RA KARTINI



Kartini lahir di Jepara Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1897. Kartini adalah putri dari Adipati Ario Sosrodiningrat, Bupati Jepara. Ia putri dari istri pertama tapi bukan dari istri utama. Ibunya bernama M.A Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telu-kawur,Jepara.
Adipati Ario Sosrodiningrat awalnya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan waktu itu mengharuskan seorang Bupati beristrikan bangsawan. Karena Ngasirah bukan bangsawan tinggi, maka beliau menikah lagi dengan Raden Adjeng Werjan. Setelah pernikahan itu, ayah kartini diangkat menjadi Bupati di Jepara, menggantikan kedudukan ayah kandung R.A Werjan, yaitu  ,R.A.A. Tjitrowikromo.
R.AKartini anak ke -5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari 11 bersaudara Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakak Kartini Sosrokartono adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Eropase        Legene School) hingga usia 12 tahun. Di situlah Kartini belajar bahasa Belanda.
Pada seusia 12 tahun, Kartini harus mengalami masa pingitan. Kartini dipingit karena kebiasaan adat istiadat di tempat tinggalnya. Apabila seorang wanita sudah menamatkan belajar di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus mengalami masa pingitan hingga saatnya menikahnya tiba.
Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang bergaul dengan orang-orang terpelajar dan juga gemar membaca buku. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya yang kebanyakan terdiri dari anak keluarga biasa tidak pernah bersekolah.
 Sejak saat itu Kartini berkeinginan dan betekad memajukan kaumnya. Untuk membenahi cita-citanya tersebut dia mendirikan sekolah untuk anak gadis. Di sekolah itu diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak dan sebagainya. Semua itu tidak dipungut biaya apapun.
Bahkan demi cita-cita mulianya tersebut, Kartini berencana mengikuti sekolah guru di Belanda. Dia ingin menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Ia mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda. Namun keinginan mulianya tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orang tuanya.
Kartini sangat senang berteman dengan orang-orang di dalam negeri maupun di Eropa khususnya di negeri Belanda. Kepada sahabatnya dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya untuk memajukan kaum wanita di negerinya. Ia ingin ada  persamaan hak kaum wanita dan kaum pria.
Karena  Kartini bisa berbahasa Belanda, maka ia menulis surat kepada sahabatnya di Eropa, salah satu temanya adalah Rosa Abendanon. Oleh kawan-kawannya di Belanda. surat-surat Kartini dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Door Duistermis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku inilah yang akhirnya menjadi pondasi ’bangunan’ kesetaraan gender di Indonesia. 
 Orang tua Kartini menikahkannya dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djoyodiningrat, seorang Bupati di Rembang. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya memberi kebebasan dan mendukung mendirikan sekolah wanita.

Kehidupan berkeluarganya tidak berlangsung lama. Kartini wafat di Rembang pada tanggal 17 September 1904, empat hari setelah beliau berjuang melahirkan putra pertamanya.