Selasa, 26 April 2016

Para Saksi Hidup : Mbah Hasyim Asy'ari Tak Berjenggot



Baru-baru ini publik dihebohkan dengan adanya lukisan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Hasyim Asyari yang tampil dengan tanpa jenggot di peringatan Hari Santri Nasional pada Kamis (22/10) di Tugu Proklamasi, Jakarta. Tentu kejadian langka tersebut menuai banyak komentar dari publik. Terlebih karena NU merupakan salah satu ormas terbesar di Indonesia.
Atas kejadian tersebut, Toto. M. Setiawan, pelukis lukisan hadratussyaikh NU tersebut melakukan klarifikasi atas lukisannya yang menghebohkan publik tersebut. Bahkan dia juga mengaku sudah melakukan klarifikasi pula di akun sosial media Facebook pada Jumat (23/10).
 “Saya posisinya hanya sebagai pelukis saja, saya hanya menerjemahkan permintaan pelanggan saja. Di Facebook juga sudah dilakukan klarifikasi, sumbernya dari Masyamsul Huda, dia sudah menjelaskan kenapa seperti itu. Yang jelas, yang disampaikan ke saya orangnya cuma minta pakaian jas shanghai dan jenggotnya dihilangkan,” tuturnya kepada Republika, Jumat (23/10).
Dia juga menjelaskan pemilik akun Facebook Masyamsul Huda tersebut adalah penulis “Guru Sejati” yang didekasikan kepada KH. Hasyim Asyari. Dimana dalam buku tersebut juga terdapat gambar pendiri NU itu dengan dagu tanpa jenggot. Toto mengaku permintaan tersebut juga sudah direstui oleh salah satu santri langsung dari KH. Asyari, namun dia tidak menyebutkan siapa santrinya tersebut.
Selain itu salah satu cucu KH. Hasyim Asyari juga ada yang sudah merestui kakeknyadilukis dengan tidak menyertakan jenggotnya. Menurut dia cucu KH. Hasyim Asyari yangdia maksud itu adalah Ketua Panitia Kirab Resolusi Jihad Hari Santri Nasional.
Berikut ini penjelasan dari Masyamsul Huda berkaitan bagaimana wajah atau rupa asli alias yang sebenarnya (minimal mendekati kebenaran) dari Hadrotussyaiky K.H Hasyim Asy'ari? Inilah penuturan Beliau yang kami diambil dari laman facebook pribadinya:
Ini yang kedua kalinya saya harus menjawab keraguan Mas Ipang, soal jenggot Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari.
Entah apa maksud Mas Ipang membawa-bawa Kakek Buyutnya untuk memancing orang berdebat dan saling mencaci maki???. Lukisan yang siang tadi dipajang sebagai backdrop di Tugu Proklamasi dalam rangka pencanangan Hari Santri.
Lukisan yang karya Toto. MS tersebut diambil dari cover buku Guru Sejati yang saya tulis. Buku yang menerangkan tentang sejarah asal usul berdirinya Pondok Pesantren Tebu Ireng. Gambar cover ini yang asal usulnya adalah karya pelukis Badri(Pasuruan), lukisan tersebut dipesan khusus oleh Gus Riza Yusuf Hasyim untuk memvisualkan perjuangan Mbah Hasyim ketika menghadapi kekejaman Tentara Nippon.
Ketika lukisan ini sudah selesai, kami bertiga ( Gus Riza, Mas Badri dan saya) menghadap almarhum KH. Hamid Baidlowi, kemudian kepada Pak Bulkin (adik KH Solihin - khadam/pembantu Mbah Hasyim yang ikut ditangkap Tentara Jepang). 
Pendapat kedua Beliau; lukisan yang sudah jadi tersebut dikoreksi, bahwa Mbah Hasyim raut wajahnya klimis tidak berjenggot. Untuk meyakinkan pendapat dua orang yang sempat bertemu Beliau, lukisan tersebutdibawa kerumah saya untuk ditashihkan kembali kepada Bapak saya, H. Ahmad Riyadi. Beliau asli Tebu Ireng, cucu salah satu khadamnya (pembantu) Mbah Hasyim. Bapak meyakinkan memang benar, bahwa Mbah Hasyim itu selalu klimis, wangi, selalu rapi dengan jas krah shanghai warna dawuk (abu-abu pekat).
Ketika lukisan ini saya ambil lagi sebagai cover. Sekali lagi saya bertanya kepada Bapak, dan beliau menjawab, "ya memang seperti ini wajah Mbah Hasyim".
Sebagai catatan; ketika launching buku Guru Sejati, dua kali buku ini dibedah di Pondok Pesantren Tebu Ireng. 
Yang pertama, bedah buku digelar di Masjid Ulul Albab Tebu Ireng bersama Gus Fahmi.Yang kedua, di Aula KH. Yusuf Hasyim. Semula dijadwalkan Gus Solah akan menjadipembicara, namun karena ada tamu penting dari Malaysia, maka diwakilkan kepada salah satu guru Tebu Ireng.
Dua kali dibedah di Tebu Ireng, tidak ada satupun keberatan soal isi, terlebih cover Guru Sejati. Bahkan Gus Fahmi mengapresiasi positif terhadap buku ini.
Namun mengapa sekarang Mas Ipang ribut di Facebook?. Kenapa tidak mencari sumber lukisan tersebut?. Mengapa koq senengnya ngajak ribut orang, sangat jauh dari sifat Buyut-nya 
yang selalu santun dan murah senyum. 
Sekali lagi, saya hanya ingin menyampaikan fakta yang sebenarnya. Jangan mengotori akhlak beliau yang begitu luhur, apalagi mengundang orang untuk saling mencaci maki difacebook. Tolong diurut lagi, apa KH. Wahid Hasyim, KH. Kholik, KH. Karim, KH. Yusuf Hasyim (merupakan putra-putra Mbah Hasyim) memiliki jenggot?

Cerita Rakyat Lutung Kasarung



Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung. Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.
Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. “Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta,” kata Prabu Tapa.
Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. “Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya,” gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari.
Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. “Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !” ujar Purbararang. Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, “Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri”. “Terima kasih paman”, ujar Purbasari.
Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.
Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.
Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. “Apa manfaatnya bagiku ?”, pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.
Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. “Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !”, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.
“Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku”, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi monyet itu tunanganmu ?”.
Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.

Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.

Cerita Rakyat Keong Mas

 
Alkisah pada jaman dahulu kala hiduplah seorang pemuda bernama Galoran. Ia termasuk orang yang disegani karena kekayaan dan pangkat orangtuanya. Namun Galoran sangatlah malas dan boros. Sehari-hari kerjanya hanya menghambur-hamburkan harta orangtuanya, bahkan pada waktu orang tuanya meninggal dunia ia semakin sering berfoya-foya. Karena itu lama kelamaan habislah harta orangtuanya. Walaupun demikian tidak membuat Galoran sadar juga, bahkan waktu dihabiskannya dengan hanya bermalas-malasan dan berjalan-jalan. Iba warga kampung melihatnya. Namun setiap kali ada yang menawarkan pekerjaan kepadanya, Galoran hanya makan dan tidur saja tanpa mau melakukan pekerjaan tersebut. Namun akhirnya galoran dipungut oleh seorang janda berkecukupan untuk dijadikan teman hidupnya. Hal ini membuat Galoran sangat senang ; "Pucuk dicinta ulam pun tiba", demikian pikir Galoran.
Janda tersebut mempunyai seorang anak perempuan yang sangat rajin dan pandai menenun, namanya Jambean. Begitu bagusnya tenunan Jambean sampai dikenal diseluruh dusun tersebut. Namun Galoran sangat membenci anak tirinya itu, karena seringkali Jambean menegurnya karena selalu bermalas-malasan.
Rasa benci Galoran sedemikian dalamnya, sampai tega merencanakan pembunuhan anak tirinya sendiri. Dengan tajam dia berkata pada istrinya : " Hai, Nyai, sungguh beraninya Jambean kepadaku. Beraninya ia menasehati orangtua! Patutkah itu ?" "Sabar, Kak. Jambean tidak bermaksud buruk terhadap kakak" bujuk istrinya itu. "Tahu aku mengapa ia berbuat kasar padaku, agar aku pergi meninggalkan rumah ini !" seru nya lagi sambil melototkan matanya. "Jangan begitu kak, Jambean hanya sekedar mengingatkan agar kakak mau bekerja" demikian usaha sang istri meredakan amarahnya. "Ah .. omong kosong. Pendeknya sekarang engkau harus memilih .. aku atau anakmu !" demikian Galoran mengancam.
Sedih hati ibu Jambean. Sang ibu menangis siang-malam karena bingung hatinya. Ratapnya : " Sampai hati bapakmu menyiksaku jambean. Jambean anakku, mari kemari nak" serunya lirih. "Sebentar mak, tinggal sedikit tenunanku" jawab Jambean. "Nah selesai sudah" serunya lagi. Langsung Jambean mendapatkan ibunya yang tengah bersedih. "Mengapa emak bersedih saja" tanyanya dengan iba. Maka diceritakanlah rencana bapak Jambean yang merencanakan akan membunuh Jambean. Dengan sedih Jambean pun berkata : " Sudahlah mak jangan bersedih, biarlah aku memenuhi keinginan bapak. Yang benar akhirnya akan bahagia mak". "Namun hanya satu pesanku mak, apabila aku sudah dibunuh ayah janganlah mayatku ditanam tapi buang saja ke bendungan" jawabnya lagi. Dengan sangat sedih sang ibu pun mengangguk-angguk. Akhirnya Jambean pun dibunuh oleh ayah tirinya, dan sesuai permintaan Jambean sang ibu membuang mayatnya di bendungan. Dengan ajaib batang tubuh dan kepala Jambean berubah menjadi udang dan siput, atau disebut juga dengan keong dalam bahasa Jawanya.
Tersebutlah di Desa Dadapan dua orang janda bersaudara bernama Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil. Kedua janda itu hidup dengan sangat melarat dan bermata pencaharian mengumpulkan kayu dan daun talas. Suatu hari kedua bersaudara tersebut pergi ke dekat bendungan untuk mencari daun talas. Sangat terpana mereka melihat udang dan siput yang berwarna kuning keemasan. "Alangkah indahnya udang dan siput ini" seru Mbok Rondo Sambega "Lihatlah betapa indahnya warna kulitnya, kuning keemasan. Ingin aku bisa memeliharanya" serunya lagi. "Yah sangat indah, kita bawa saja udang dan keong ini pulang" sahut Mbok Rondo Sembadil. Maka dipungutnya udang dan siput tersebut untuk dibawa pulang. Kemudian udang dan siput tersebut mereka taruh di dalam tempayan tanah liat di dapur. Sejak mereka memelihara udang dan siput emas tersebut kehidupan merekapun berubah. Terutama setiap sehabis pulang bekerja, didapur telah tersedia lauk pauk dan rumah menjadi sangat rapih dan bersih. Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil juga merasa keheranan dengan adanya hal tersebut. Sampai pada suatu hari mereka berencana untuk mencari tahu siapakah gerangan yang melakukan hal tersebut.
Suatu hari mereka seperti biasanya pergi untuk mencari kayu dan daun talas, mereka berpura-pura pergi dan kemudian setelah berjalan agak jauh mereka segera kembali menyelinap ke dapur. Dari dapur terdengar suara gemerisik, kedua bersaudara itu segera mengintip dan melihat seorang gadis cantik keluar dari tempayan tanah liat yang berisi udang dan Keong Emas peliharaan mereka. "tentu dia adalah jelmaan keong dan udang emas itu" bisik Mbok Rondo Sambega kepada Mbok Rondo Sembadil. "Ayo kita tangkap sebelum menjelma kembali menjadi udang dan Keong Emas" bisik Mbok Rondo Sembadil. Dengan perlahan-lahan mereka masuk ke dapur, lalu ditangkapnya gadis yang sedang asik memasak itu. "Ayo ceritakan lekas nak, siapa gerangan kamu itu" desak Mbok Rondo Sambega "Bidadarikah kamu ?" sahutnya lagi. "bukan Mak, saya manusia biasa yang karena dibunuh dan dibuang oleh orang tua saya, maka saya menjelma menjadi udang dan keong" sahut Jambean lirih. "terharu mendengar cerita Jambean kedua bersaudara itu akhirnya mengambil Keong Emas sebagai anak angkat mereka. Sejak itu Keong Emas membantu kedua bersaudara tersebut dengan menenun. Tenunannya sangat indah dan bagus sehingga terkenallah tenunan terebut keseluruh negeri, dan kedua janda bersaudara tersebut menjadi bertambah kaya dari hari kehari.
Sampailah tenunan tersebut di ibu kota kerajaan. Sang raja muda sangat tertarik dengan tenunan buatan Jambean atau Keong Emas tersebut. Akhirnya raja memutuskan untuk meninjau sendiri pembuatan tenunan tersebut dan pergi meninggalkan kerajaan dengan menyamar sebagai saudagar kain. Akhirnya tahulah raja perihal Keong Emas tersebut, dan sangat tertarik oleh kecantikan dan kerajinan Keong Emas. Raja menitahkan kedua bersaudara tersebut untuk membawa Jambean atau Keong Emas untuk masuk ke kerajaan dan meminang si Keong Emas untuk dijadikan permaisurinya. Betapa senang hati kedua janda bersaudara tersebut.