Rabu, 27 April 2016

Tafsir Midadurrahman, Kitab Terbesar Karya Ulama Indonesia

 



Peluncuran perdana Tafsir Midadurrahman sebanyak 115 volume karya Mufti Kesultanan Palembang Darussalam, Asy-Syaikh KH. Shohibul Faroji Azmat Khan, M.A., telah berlangsung pada Sabtu (27/2), bertempat di Baitul Qur’an dan Museum Istiqlal Taman ini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Dalam acara ini, Syaikh Shohibul Faroji Azmat Khan juga mendapatkan anugerah dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Penulis Tafsir Al-Qur’an Terlengkap: 30 Juz, 115 Volume.  Penghargaan serupa diberikan Museum Rekor Terhebat Indonesia (MURTHI) dalam bentukAnugerah Rekor Supranatural Indonesia (RESI) atas Pencapaian Prestasi yang Luar Biasa,Golden Achievement Cultural Award, (Menulis Tafsir Midadurrahman 115 vol). Bahkan Museum Rekor Nahdlatul Ulama (MRNU) juga memberikan penghargaan sejenis.
Turut hadir Sultan Palembang Darussalam, Sri Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, yang juga Ketua Umum Yayasan Raja Sultan Nusantara (YARASUTRA). Sultan Iskandar hadir untuk memberikan sambutan atas terbitnya Tafsir Midadurrahman ini. Ia juga memberikan kata pengantar dalam Tafsir Midadurrahman ini. Hadir juga Ketua Umum Forum Silaturahmi Takmir Masjid dan Mushalla Indonesia (Fahmi Tamami), H. Rhoma Irama. Bahkan aktor yang dikenal sebagai raja dangdut itu juga memberikan kata pengantar dalam Tafsir Midadurrahman ini.
Acara ini diselenggarakan bersama oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), MURI, Majelis Dakwah Wali Songo, dan YARASUTRA, serta Majelis Pimpinan Pusat (MPP) Fahmi Tamami. Sejumah tokoh agama juga memberikan kata pengantar dalam kitab Tafsir Midadurrahman ini, yakni Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat, DR. KH. Makruf Amin, Menteri Agama RI,Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., dan pakar tafsir Al-Qur’an, Prof. Dr. H. Quraish Shihab, M.A.   
Tafsir Midadurrahman ini sangat istimewa karena menjadi tafsir Al-Qur’an yang terpanjang di Indonesia, bahkan di dunia. Tafsir ini terdiri dari 8.500 halaman atau 115 volume dan terbagi dalam 30 juz. Tafsir ini merupakan karya ke 30 Syaikh Shohibul Faroji yang telah ditulis sejak usia 14 tahun dan membutuhkan waktu 22 tahun untuk menyelesaikannya hingga kini.
“Tafsir Midadurrahman ditulis dengan metode sanadiyyah yang sanadnya bersambung dari ulama-ulama Nusantara, melalui Wali Songo, hingga sanad Rasulullah Muhammad SAW,” tutur Syaikh Shohibul Faroji pada Rabu (20/4) pagi, dalam rilisnya kepada DMI.OR.ID. Tafsir ini, lanjutnya, merupakan rangkaian dari 313 tafsir-tafsir sebelumnya, serta dikaji secara kritis dan mendetail dari berbagai perspektif ilmu Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan umum.
“Tafsir Midadurrahman ini ditulis dalam bahasa Arab dengan harapan dapat dibaca dan dipelajari oleh ummat Islam di seluruh dunia, khususnya di pesantren-pesantren, universitas Isam, beragam organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, partai-partai politik Islam serta para peneliti Al-Qur’an di seluruh Indonesia dan di dunia,” ungkap Syaikh Shohibul Faroji.
Syekh K.H. Shohibul Faroji Azmatkhan saat ini memimpin Majelis Dakwah Walisongo, Jakarta. Ia adalah seorang habib atau sayyid kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 13 Juni 1977. Melalui jalur ayah, beliau masih keturunan dari Sunan Kudus, sedangkan dari jalur ibu ia merupakan keturunan dari Pangeran Diponegoro.
Nisbat Azmatkhan merupakan gelar untuk keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. Seorang sayyid yang lahir di Tarim, Hadramaut Yaman. Menurut Wikipedia, Sayyid Azmatkhan merupakan leluhur dari para Walisongo.
Karya Syekh Shohibul Faroji sebenarnya banyak. Tafsir ini merupakan karyanya yang ketigapuluh dan merupakan tafsir terpanjang. Meraih rekor MURI, MURTI (Museum Rekor Terhebat Indonesia), dan MURNU (Museum Rekor Nahdlatul Ulama). Penganugerahan rekor tersebut dilakukan saatgrand launching pada 27 pebruari 2016 yang bertempat di aula utama TMII.
Apa saja keistimewaan dari tafsir ini? Apa sisi menarik dari penulisnya? Berikut 5 fakta menarik tentang Tafsir Midadurrahman:

1. Tafsir Midadurrahman Paling Lengkap

Seperti dijelaskan di awal, tafsir ini berjumlah 115 jilid. Setiap jilid merupakan tafsiran untuk satu surah. Jilid ke-115 merupakan ringkasan. Jumlah total halaman seluruh kitab tersebut mencapai 8500 halaman. Metode penafsirannya pun komplit. Dalam menafsiri ayat, Syekh Shohibul Faroji menafsirkan secara runtut dan kronologis. Diutamakan tafsir ayat dengan ayat, lalu dengan hadis, tafsir ahlul bait, tafsiran para istri nabi, kemudian mendatangkan tafsiran para sahabat, tabiin, tabi’ tabi’in, para salaf shalih, tafsiran Wali Songo, lalu tafsir para ulama Nusantara. Istimewanya, tafsir karya ulama Indonesia ini tetap menggnakan bahasa Arab. Tujuannya agar tetap bisa dipelajari oleh seluruh umat Islam.

2. Proses Penulisannya

Penulisan Tafsir Midadurrahaman memakan waktu selama 22 tahun. Dimulai sejak beliau berumur 14 tahun, ketika Shohibul Faroji baru menyelesaikan hapalan Alquran. Sebenarnya awal menekuni menulis tafsir adalah dari suatu hukuman dari gurunya karena saat itu ia sering tidur setelah subuh. Saat itu ia diharuskan menulis catatan dengan tema inspirasi Alquran. Dari menjalani hukuman akhirnya menjadi kebiasaan yang serius. Kebiaaan menulis akhirnya menghasilkan sekian banyak kitab. Selain Tafsir Midadurrahman, ia pernah juga menulis kitab tafsir berjudul Ma’rifatullahyang membuatnya dihadiahi haji ke Baitullah.

3. Kontroversi tentang Nasabnya

Tidak semua orang percaya bahwa Syekh Shohibul Faroji masih termasuk golongan sayyid atau keturunan Rasulullah. Tulisan dalam rangka kritik dan upaya mengkaji ulang jalur nasab dari tokoh satu ini juga banyak beredar di media online. Menurut sumber tersebut, penisbatan Syekh Shohibul Faroji pada klan Azmatkhan adalah dusta. Seperti tulisan dianandakemas.wordpress.com, yang mengkritik dan mengkaji ulang nasab Sykeh Faroji. Sebaliknya, bantahan juga datang dari pihak pengurus Majelis Dakwah Walisongo asuhan Syekh Shohibul Faroji. Menurut tulisan yang diposting oleh Iwan Mahmud al-Fattah Azmatkhan di ikrafaalfattah.blogspot.com, pihak yang menyebarkan keraguan atas nasab Syekh Shohibul Faroji hanyalah memfitnah karena tujuan balas dendam dan kepentingan tertentu. Lepas dari mana yang benar antara kedua klaim tersebut, yang jelas dan sudah terbukti adalah Syekh Shohibul Faroji adalah seorang ulama yang nyata-nyata telah menghasilkan karya luar biasa.

4. Hapalan Syekh Shohibul Faroji

Usai menghapal Alquran 30 juz, Syekh Shohibul Faroji melanjutkan menghapal Alquran kepada para guru bersanad yaitu Syekh K.H. Adlan Ali Azmatkhan (pendiri Pesantren Walisongo, Cukir, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur) dan Syekh KH. Yusuf Masyhar (pendiri Pesantren Madrasatul Qur’an, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur). Selain menghapal Alquran, Syekh Shohibul Faroji juga menghapal berbagai kitab hadis, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Musnad Ahmad, Muwattha Imam Malik dan Riyadhus Shalihin di bawah bimbingan Syekh Bahruddin Azmatkhan.

5. Jabatan yang Diemban


Selain sebagai pimpinan Majelis Dakwah Walisongo, Syekh Shohibul Faroji diamanahi berbagai jabatan penting. Ia juga aktif di P.T. Islamic Mint Nusantara, perusahaan yang mencetak dan memasyarakatkan koin dinar dan dirham agar lebih dikenal dalam berbagai transaksi. Pada 5 Mei 2013, Syekh Shohibul Faroji mendapat mandat dari Sri Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin (Sultan Kesultanan Palembang Darussalam) menjadi Mufti Besar Kesultanan Palembang Darussalam dan bergelar Al-Mursyid Syekh Mufti Pangeran Penghulu Nata Agama As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh. Ia juga menjabat sebagai Ketua Dewan Nala Duta Igama Kerajaan Kutai Mulawarman.